Di Selasar kita bisa berdiskusi. Ramai-ramai atau sendiri. Boleh. Sambil minum kopi, merenung atau hanya sekedar berimajinasi, juga boleh. Atau sambil bermimpi dan masturbasi. Pun boleh-boleh saja. Terserah! Silakan saja. Suka-suka.
Rabu, 30 April 2025
Mayday
Hanya ilustrasi. (Gambar: AI).
Gerundelan Bang Yoss
Jadi selamat hari buruh. Jangan terlalu berharap pada negara. Dan jangan pernah berhenti berharap pada sesama. Karena kita semua sedang berjuang, dalam cara yang paling sunyi dan paling jujur.
Mayday
Yoss Prabu
Menjelang hari buruh. Hari untuk merayakan keringat, jerih payah, dan gaji yang tak pernah cukup itu. Hari untuk mengenang perjuangan kaum proletar, dari pabrik hingga panggung orasi. Tapi lucunya, buruh seringkali lupa bahwa mereka punya hari sendiri. Sibuk kerja lembur. Karena yang namanya buruh di negeri ini, kalau nggak kerja ya lapar, kalau kerja ya tetap lapar-cuma bedanya, yang satu pakai seragam.
Mayday. Tanggal merah di kalender. Tapi merahnya bukan karena semangat revolusi, melainkan karena pegawai kantoran bisa rebahan lebih lama. Sementara para buruh pasar tetap dorong gerobak mulaijam lima subuh. Siapa yang libur? Bukan yang seharusnya.
Ah, buruh. Kau yang menggerakkan dunia tapi tak pernah disebut dalam pidato. Kau yang membangun gedung, tapi tak pernah masuk lift utama. Kau yang menjahit baju, tapi tak sanggup beli hasil jahitanmu sendiri. Kau yang menyapu kota, tapi dibiarkan hidup di pojok-pojok kota yang tak layak.
Ada sesuatu yang begitu melankolis dari seorang buruh yang memandangi kalender sambil berkata, "Oh, Mayday, ya? Ya, sudah, kerja ajadeh." Karena realita kita belum punya kemewahan untuk merayakan. Kita lebih akrab dengan kata “lembur” daripada “libur”.
Tapi coba kau dengar detak jantung mereka. Di balik peluh yang mengucur itu, ada cinta. Cinta pada anak yang butuh sepatu baru, cinta pada istri yang selalu bangun lebih dulu untuk masak nasi, cinta pada orang tua yang masih bercocok tanam meski punggung sudah bengkok. Buruh adalah pujangga tanpa pena, mencatat kisah hidupnya dengan otot dan napas yang tak putus-putus.
Romantis, bukan? Tapi bukan yang bisa dijadikan puisi Instagram. Ini romantisme yang getir. Yang tidak bisa dijual dalam bentuk kartu ucapan atau lagu pop. Ini cinta yang berdiri di atas kebutuhan, bukan keinginan.
Sialnya, sistem lebih mencintai laba daripada mereka yang melahirkan laba itu. Dunia ini seperti manajer yang selalu berkata, “Kerjamu sangat penting,” tapi gajimu selalu "belum bisa naik tahun ini, ya."
Dan kita, penonton setia parade Mayday, sering kali hanya menatap spanduk dan orasi sambil ngisi status facebook. Solidaritas itu penting - lalu lanjut pesan kopi susu. Sementara tukang bangunan yang memperbaiki trotoar di bawah matahari tetap tak tahu harga secangkir kopi yang kalian foto itu bisa untuk makan satu hari.
Tapi jangan sedih dulu. Meski kita tidak punya banyak, kita masih punya suara. Masih punya langkah. Dan meski dunia tak selalu adil, kita bisa terus saling genggam. Karena kadang, satu genggaman dari sesama buruh bisa lebih menyembuhkan daripada sejuta pidato pejabat.
Jadi selamat hari buruh. Jangan terlalu berharap pada negara. Dan jangan pernah berhenti berharap pada sesama. Karena kita semua sedang berjuang, dalam cara yang paling sunyi dan paling jujur.
Dan semoga suatu hari nanti, Mayday bukan lagi sekadar tanggal merah, tapi juga hati yang lega.
Tambahan sedikit puisi untuk menutup:
Kau angkat palu, kuketuk doa
Kau pikul karung, kucatat luka
Kau diam, tapi dunia tetap bergerak
Karena tanpamu, kita semua hanya ongkang-ongkang belaka
Jakarta, 30 April 2025
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal
Hanya ilistrasi. (Gambar: AI). Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...
-
Selamat Pagi Kusibak kabut yang menggantung. Kutatap pagi yang redup. Lembapnya terasa segar di sela rintik yang malu-malu. ...
-
Tulisan ini saya buat ketika saya menjadi anggota dari sebuah grup WA yang admin-nya secara kurang ajar mendaulat saya untuk menjadi narasum...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.