Di Selasar kita bisa berdiskusi. Ramai-ramai atau sendiri. Boleh. Sambil minum kopi, merenung atau hanya sekedar berimajinasi, juga boleh. Atau sambil bermimpi dan masturbasi. Pun boleh-boleh saja. Terserah! Silakan saja. Suka-suka.
Selasa, 29 April 2025
Orasi di Pemakaman Puisi
Hanya ilustrasi. (Gambar: AI).
Puisi
Orasi di Pemakaman Puisi
Dengarkan aku!
Hari ini, di bawah langit yang malas
Kita berdiri di hadapan makam tanpa batu nisan
Makam untuk sesuatu yang dulu disebut puisi
Di manakah kini puisi?
Bukan di podium-podium penuh jargon palsu
Bukan di seminar bersertifikat tiga rangkap
Bukan di mulut politisi yang menaburkan kata-kata busuk
Puisi telah lari
Puisi bersembunyi di dalam lengan baju kuli bangunan
Di dalam jerit bisu ibu-ibu pasar yang kehilangan lapak
Di kolong gerobak penjual gorengan
Puisi kini adalah debu di bawah sandal jepit murahan
Dan tangisan kecil di balik pintu-pintu kontrakan sempit
Dengarkan aku!
Puisi tidak mati
Ia dibunuh
Dibunuh oleh kesibukan
Oleh ketakutan
Oleh hasrat manusia untuk selalu sibuk, sibuk dan sibuk
Mengais-ngais apa saja
Kecuali waktu untuk merasa
Kita katakan pada dunia
"Lihat, kami punya Hari Puisi Nasional!"
Sambil di hari yang sama
Kita mematikan semua puisi dengan iklan pulsa dan potongan harga
Kita membakar sajak dengan berita palsu
Kita menenggelamkan metafora di sungai transaksi
Dan lucunya, kita tersenyum puas
Kita pikir kita menang
Dengarkan aku!
Puisi adalah satu-satunya makhluk yang berani telanjang di hadapan badai
Puisi adalah satu-satunya suara yang berani mengaku lemah
Di tengah dunia yang pura-pura kuat
Puisi tidak lahir untuk pasar
Puisi lahir dari kehancuran
Dari luka yang tidak bisa disembuhkan oleh slogan motivasi murahan
Kalian mau tahu di mana puisi hari ini?
Puisi ada di peluh bocah yang mengantar paket sampai kakinya melepuh
Puisi ada di kantung-kantung mata perempuan
Yang dua kali lipat capai
Tapi dibayar setengah
Puisi ada di peluit kecil para pejalan kaki
Yang tak pernah didengarkan mobil-mobil mewah
Puisi itu, saudara-saudaraku
Tidak pernah butuh podium
Buat apa?
Puisi hanya butuh sedikit keberanian
Untuk mengaku kalah
Mengaku lemah
Mengaku cinta
Mengaku takut
Di dunia yang melarang semuanya itu
Maka, di Hari Puisi Nasional ini
Jangan bawa bunga plastik ke pusaranya
Bawalah hatimu yang retak
Yang kesepian
Bawalah tangismu yang malu-malu
Bawalah tawamu yang sumbang
Dan berteriaklah ke langit
Biar dunia tahu
"Kami mungkin bodoh
Kami mungkin hancur
Tapi kami masih bisa merasa
Dan selama itu, puisi belum kalah!"
Karena dunia ini terlalu bising untuk mendengar
Terlalu keras untuk memahami
Terlalu cepat untuk merasa
Maka kita, yang masih memeluk puisi di dada yang pecah
Adalah satu-satunya bukti
Bahwa belum semua manusia dikloning menjadi mesin
Selamat Hari Puisi Nasional
Kalau dunia lupa bagaimana menangis
biarlah
Kita yang tetap menulis air mata menjadi kata-kata
Jakarta, 28 April 2025
Yoss Prabu
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal
Hanya ilistrasi. (Gambar: AI). Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...
-
Selamat Pagi Kusibak kabut yang menggantung. Kutatap pagi yang redup. Lembapnya terasa segar di sela rintik yang malu-malu. ...
-
Tulisan ini saya buat ketika saya menjadi anggota dari sebuah grup WA yang admin-nya secara kurang ajar mendaulat saya untuk menjadi narasum...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.