Di Selasar kita bisa berdiskusi. Ramai-ramai atau sendiri. Boleh. Sambil minum kopi, merenung atau hanya sekedar berimajinasi, juga boleh. Atau sambil bermimpi dan masturbasi. Pun boleh-boleh saja. Terserah! Silakan saja. Suka-suka.
Selasa, 29 April 2025
Puisi, Kopi, dan Sepucuk Surat Patah Hati Nasional
Hanya ilustrasi. (Gambar: AI).
Hari puisi nasional ini – entah kenapa – seperti lagu lama yang diputar di radio 2 band rusak – kakek-nenek kita paham apa itu radio 2 band. Kita dengarkan sepotong, kita pahami setengah, lalu kita lupakan selekas mungkin dan mengganti dengan infotainment. Selebriti cerai, presiden baru, atau kebijakan menteri baru yang aneh-aneh.
Puisi, Kopi, dan Sepucuk Surat Patah Hati Nasional
Yoss Prabu
Setiap 28 April, bangsa ini — entah sadar atau tidak — mengangkat gelas kopi, meluruskan punggung bungkuknya, lalu bergumam kecil, "Oh, ya. Hari Puisi Nasional."
Sebuah perayaan yang tak menggelegar, selembut bisikan para mantan di malam-malam yang hujan. Hadir, tapi bikin dada sesak tanpa sebab.
Puisi. Kumpulan kata yang katanya membebaskan, padahal seringkali malah membuat kita terjebak dalam labirin perasaan sendiri. Ironis, kan? Di negeri yang gemar mengadakan upacara, puisi malah lebih sering ditaruh di pojokan, bersama kenangan-kenangan yang tak pernah tuntas diucapkan.
Di tengah jalanan yang sibuk, di bawah baliho diskon cuci gudang, puisi berjalan tertatih-tatih, membawa sekeranjang rindu, utang, dan harapan tipis-tipis.
Ah, puisi kita — kadang semegah cinta Romeo dan Juliet. Kadang seseram saldo rekening di tanggal tua. Romantis tapi tragis. Puitis dan tetap sarkastis. Seperti cinta yang ditolak karena "kamu terlalu baik," padahal sebenarnya karena kamu terlalu miskin.
Hari puisi nasional ini – entah kenapa – seperti lagu lama yang diputar di radio 2 band rusak – kakek-nenek kita paham apa itu radio 2 band. Kita dengarkan sepotong, kita pahami setengah, lalu kita lupakan selekas mungkin dan mengganti dengan infotainment. Selebriti cerai, presiden baru, atau kebijakan menteri baru yang aneh-aneh.
Tapi puisi, saudara-saudaraku. Halo....? Tidak marah. Ia tidak mengutuk, pantang membuat status galau di Facebook. Enggan mengajak demo, karena amplopnya terlalu mudah ditekuk.
Puisi tahu, ia diciptakan bukan untuk dipuja ramai-ramai. Ia dilahirkan untuk mereka yang – di tengah dunia yang keras ini – masih punya keberanian untuk merasa. Walau hanya sedikit. Satu bait demi satu bait, puisi mencatat patah hati bangsa ini. Dari jalan berlubang, janji kampanye yang menguap. Hingga ketakutan seorang penyair, tak bisa pulang kembali ke keluarganya.
Di hari puisi nasional ini, mari kita kirimkan setangkai maaf kepada Chairil Anwar, penyair yang dulu berteriak "Aku mau hidup seribu tahun lagi!" Karena mungkin, kalau ia hidup di zaman ini, melihat kita lebih sibuk selfie daripada membaca. Tentu ia akan merevisi puisinya. "Aku mau hidup seribu tahun lagi. Tapi tanpa kuota internet. Pleace."
Maka mari, hari ini, kita rayakan dengan caranya. Menulis satu puisi jelek tanpa malu. Membacakan satu bait usang di depan cermin. Mengirimkan puisi patah hati ke nomor yang sudah memblokir kita. Karena di negeri ini, terkadang puisi bukan soal keindahan. Ia soal bertahan. Soal percaya bahwa, meskipun dunia keras, hati kita masih cukup lunak untuk terluka... dan cukup berani untuk tertawa di atas luka itu.
Selamat Hari Puisi Nasional. Kalau hidup terlalu pahit, setidaknya kita masih bisa merangkainya jadi sajak.
Hari Puisi Nasional dimulai dengan sangat sopan, matahari bangun kesiangan, awan-awan berdandan seadanya, dan Tuhan memutuskan untuk membiarkan semua berjalan tanpa pengawasan. Sebab, ada pesta puisi di warung kopi hari ini. Dekat tepian neraka.
Di warung kopi itu — tempat semua puisi mabuk dan merokok kretek murah — pesta sudah dimulai. Ada Sajak Rindu yang lupa nama kekasihnya,
Ada Pantun Gombal yang berkelahi dengan Gurindam Tua karena rebutan mic karaoke. Dan ada Soneta Galau yang duduk di pojok, menulis surat pengunduran diri dari kehidupan.
"Kita rayakan Hari Puisi ini!" teriak sebuah Haiku, sambil membanting gelas berisi kopi tubruk. Semua bersorak. Bahkan Puisi Hitam yang biasanya hanya duduk termenung sambil menatap ujung sepatu, malam ini joget gila-gilaan. Joget Sadbor.
Seorang Balada mabuk berat naik ke atas meja, mengacungkan kertas bertuliskan, "Cinta itu bodoh. Tapi bodoh itu kita. Maka cintailah kebodohan kita!"
Semua bertepuk tangan. Beberapa menangis. Beberapa muntah di belakang warung. Beberapa berak di........ Ah, sudahlah.
Sementara itu, Puisi Romantis patah hati. Ia ditemukan meringkuk di bawah meja, memeluk sandal jepit putus, sambil berbisik, "Kenapa dia block WA-ku. Padahal, aku cuma kirim Karmina..." Puisi lucu.
Di luar warung. Di Jalan Raya Kehidupan, terus berisik. Manusia-manusia berlalu lalang dengan wajah beku, membawa cicilan motor dan paket ekspres. Tak satu pun berhenti untuk melihat pesta gila para puisi ini. Karena siapa peduli?
Siapa butuh puisi, saat semua orang lebih butuh kode promo dan janji palsu berlapis cashback?
Di tengah keributan, seorang Pantun Teka-teki Tua masuk. Ia menyeret koper penuh pertanyaan tak terjawab. Ia berkata pelan, "Anak-anak, dunia ini bukan tempat untuk puisi. Dunia ini pasar malam, penuh lampu bohong dan permen beracun." Semua puisi terdiam. Lalu mereka tertawa keras, sangat keras. Karena mereka tahu, puisi memang tidak cocok di dunia semacam ini. Tapi justru karena itulah, mereka harus tetap mabuk dan berjoget.
Sebelum pesta berakhir, satu puisi tua — berdebu dan hampir sobek — naik ke atas meja. Dengan suara serak, ia membaca. "Hidup ini omong kosong, tapi sialnya, kita jatuh cinta pada setiap omong kosong itu."
Seketika, semua puisi berdiri. Mereka mengangkat gelas-gelas kosong ke langit.
Mereka bersulang, bukan untuk kemenangan, bukan untuk harapan. Mereka bersulang untuk kesia-siaan yang indah.
Hari Puisi Nasional ditutup dengan tawa kecil, mabuk kecil, luka kecil. Dan sebuah janji bisu. "Kita akan tetap menulis. Meskipun dunia sudah lupa cara membaca."
*
Jakarta, 28 April 2025
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal
Hanya ilistrasi. (Gambar: AI). Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...
-
Selamat Pagi Kusibak kabut yang menggantung. Kutatap pagi yang redup. Lembapnya terasa segar di sela rintik yang malu-malu. ...
-
Tulisan ini saya buat ketika saya menjadi anggota dari sebuah grup WA yang admin-nya secara kurang ajar mendaulat saya untuk menjadi narasum...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.