Kamis, 01 Mei 2025

Di Negeri Tanpa Kata, Puisi Menjadi Hantu

Hanya ilusrasi. (Gambar: AI). Puisi Di Negeri Tanpa Kata, Puisi Menjadi Hantu Yoss Prabu Pada Hari Puisi Nasional, hujan turun Tapi bukan air Melainkan huruf-huruf yang berjatuhan dari langit A, I, U, E, O berhamburan di jalanan, diinjak-injak sepatu berlabel diskon Tak ada yang peduli Mereka lebih sibuk memburu kopi murah di aplikasi merah jambu Di sudut kota, ada seekor kucing yang bisa bicara Ia membaca puisi kepada selokan Tentang cinta yang basi Tentang mimpi yang dijual grosiran Tentang Tuhan yang kadang lupa mengecek notifikasi doanya Orang-orang berjalan cepat Membungkus wajah dengan plastik transparan Mereka takut terhirup satu kata yang bisa membuat dada mereka nyeri Mereka tahu, puisi itu berbahaya Satu bait saja Maka seluruh topeng kehidupan bisa retak Panggung megah dibangun Di lapangan luas, kursi-kursi kosong berjejer Lampu sorot dinyalakan Tapi tidak ada satu pun manusia yang hadir Yang datang hanya bayangan-bayangan tipis Mantan-mantan penyair Pujangga-pujangga yang dulu dibungkam Dan beberapa mimpi kecil yang sudah mati kelaparan Di kolong-kolong jalan layang Di atas podium Seekor burung gagak membaca sajak "Ini negeri yang pandai berpantun, tapi buta berpuisi. Ini negeri yang menyanyikan lagu kebangsaan, tapi melupakan makna tanah tempat ia berpijak." Tepuk tangan tidak terdengar Hanya angin kosong yang bertepuk dalam dada Pada hari puisi ini Setiap manusia diberikan selembar kertas kosong Tidak untuk ditulisi Tapi untuk dilipat Menjadi pesawat-pesawat kecil yang mereka lemparkan ke langit Berharap sampai ke Tuhan Padahal Tuhan Sudah lama mematikan WiFi Puisi di negeri ini akhirnya memilih berubah bentuk Ia menyamar menjadi Senyuman pahit seorang satpam Yang digaji tiga ratus ribu sebulan Di antara Deru napas seorang janda Yang antre bantuan beras Di antara Jerit diam seorang anak kecil Yang menggambar rumah dengan krayon patah Puisi tidak lagi ada di buku-buku mahal bersampul kulit Ia ada di napas kita yang terengah-engah Di mata kita yang rabu Yang pura-pura kuat Pura-pura masih bisa menatap Di antara rembesan peluh kita Yang asin dan malu-malu Pada Hari Puisi Nasional ini Mungkin kita tidak perlu membaca apa-apa Mungkin kita cukup diam Karena dalam diam itulah puisi bersembunyi Mengintip dari sela-sela patah Tertawa kecil Dan menunggu sampai kita cukup hancur Untuk bisa benar-benar membutuhkannya Selamat Hari Puisi Nasional Di negeri ini, puisi bukan lagi suara Ia adalah hantu Dan seperti semua hantu, ia tidak butuh dipercaya Ia cukup ada, menunggu Dan mencintai kita dalam sunyi Jakarta, 28 April 2025 Yoss Prabu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.

Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal

  Hanya ilistrasi. (Gambar: AI).  Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...