Minggu, 16 Februari 2025

Ngopi Bareng, Dong?

Masih seputar Penulis, Pengarang, dan Pencatat Itu Beda Ngopi Bareng, Dong? Yoss Prabu Di sebuah warung tegal (warteg), ada tiga jenis makhluk misterius yang sering dibicarakan orang: penulis, pengarang, dan pencatat. Mereka seperti tiga saudara sepupu yang tinggal di kampung yang sama, tapi selalu berdebat tentang siapa yang lebih penting. Meski kelihatannya sama-sama menghasilkan tulisan, ketiganya punya sifat, gaya, dan level drama masing-masing. Mari kita kuliti dengan gaya santai dan penuh humor. Jangan tegang. Supaya perut kram bukan karena stres, tapi karena tawa. Minimal nyengir. Penulis adalah orang yang biasanya hidup dengan deadline seperti seorang mahasiswa yang dikejar tugas kuliah. Mereka orangnya praktis, fokus, dan efisien. Dalam dunia literasi, penulis itu ibarat tukang ojek online. Ada yang pesan melalui gawai, langsung tancap gas. Kadang obrolan mereka berakhir jadi artikel di medsos, skrip acara, atau caption Instagram yang bikin netizen baper. Sewot juga, ya. Penulis, sering kali tidak terlalu ngedrama soal seni atau nilai-nilai kehidupan. Mereka tahunya harus nulis, titik. Inspirasi? Tidak ada waktu untuk itu. Mau inspirasi atau enggak, mereka tetap harus setor tulisan sebelum jam 12 malam. Kalau ada yang pernah melihat sebuah penampakkan seseorang di kafe yang mengetik sambil panik dan kopi mereka sudah dingin sejak 2 jam lalu. Nah, itulah penulis. Lucunya, penulis sering dianggap remeh oleh pengarang. Dia bilang, "Ah, tulisan penulis itu cuma untuk uang, tidak ada jiwanya!" Tapi, halo? Siapa yang peduli soal jiwa kalau kontrakan sudah nunggak 2 bulan? Belum bayar uang sewa. Penulis harus bertahan hidup, Bro! Waduh! Kalau penulis adalah tukang ojek online, maka pengarang adalah seniman bohemian yang nongkrong di pojokan sambil memandangi senja. Pengarang adalah orang yang selalu berbicara soal karya abadi, pesan mendalam, dan makna kehidupan. Mereka tidak menulis hanya untuk uang (meski kalau dapat royalti besar, mereka juga akan bilang, Alhamdulillah.....). Pengarang sering kali lebih mementingkan seni daripada pragmatisme. Kalau penulis bangun pagi langsung buka laptop, pengarang bangun pagi sambil melamun dulu. “Gak punya kopi. Gak punya rokok. Mana istri lagi datang bulan, lagi.” Gak, gak..... Bukan itu. Tapi. "Apa ya, makna hidup hari ini?" Baru setelah senja datang, mereka mulai menulis. Itu pun mungkin cuma satu paragraf karena mereka terlalu sibuk merenung. Melamun. Seorang tetangga, satu erte. Pernah berkata kepada temannya, "Aku sedang menulis novel yang akan mengguncang dunia." Setelah ditanya apa judulnya, dia menjawab, "Masih aku pikirkan." Kapan selesai? "Tunggu saja ilhamnya." Ternyata, ilhamnya nyasar ke penulis sebelah. Namun, meski terkesan lambat dan suka drama, pengarang biasanya menghasilkan karya yang bikin pembacanya berpikir keras. Contohnya, novel yang butuh tiga kali baca untuk paham maksudnya, atau cerpen yang ending-nya bikin bingung. Pengarang, sering kali dicintai oleh kaum intelektual, tapi dibenci oleh murid SMA yang dipaksa menganalisis karyanya di kelas. Dan merengek meminta duit sama maknya, hanya untuk beli novel baru. Nah, kalau pencatat ini lain lagi. Mereka bukan penulis yang mengejar deadline, bukan juga pengarang yang sibuk mencari makna hidup. Pencatat lebih mirip detektif rahasia yang suka mencatat hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian orang lain. Kalau seseorang pernah merasa diawasi di angkot atau dalam warteg, mungkin itu intel Mossad. Ah......, ngaco. Itu ulah pencatat. Pencatat sering kali jadi orang yang pendiam di keramaian. Mereka duduk di pojokan, mencatat obrolan orang-orang, ekspresi wajah, sampai detail kecil seperti cara seseorang memegang sendok. Mereka tidak langsung mempublikasikan catatannya, tapi suatu hari, catatan mereka bisa jadi bahan untuk tulisan, entah oleh mereka sendiri atau "dipinjam" oleh penulis atau pengarang. Lucunya, pencatat sering kali tidak sadar bahwa catatan mereka sebenarnya luar biasa. Mereka bisa menulis dialog yang terdengar begitu nyata, sampai-sampai pembaca merasa, "Ini pasti diambil dari kehidupan sehari-hari!" Ya, benar sekali. Itu memang diambil dari obrolan tetangga Anda kemarin sore. Namun, pencatat juga punya kelemahan. Mereka sering kebanyakan mencatat, tapi lupa memproses. Kalau ditanya, "Mana hasil tulisannya?" Mereka mungkin akan bilang, "Oh, belum. Tapi aku punya 500 halaman catatan untuk nanti." Nanti kapan? Tidak ada yang tahu, bahkan pencatat itu sendiri. Karena sifat dan gaya kerja yang berbeda, penulis, pengarang, dan pencatat sering kali merasa diri mereka yang paling penting. Penulis merasa bahwa mereka adalah pekerja keras yang menggerakkan roda industri tulisan. Pengarang merasa bahwa mereka adalah penjaga seni dan makna. Sementara pencatat merasa bahwa tanpa mereka, tidak ada yang punya bahan cerita. Debat mereka sering terdengar seperti ini. Penulis mengatakan, "Kalau tidak ada aku, siapa yang akan menulis berita, artikel, atau cerita sehari-hari? Dunia akan kacau tanpa penulis!" "Ya. Tapi tulisanmu itu cuma memenuhi kebutuhan pasar. Tulisan yang sebenarnya adalah yang punya kedalaman, yang membuat pembaca merenungkan eksistensi mereka," kilah pengarang. Lalu kembali meneruskan lamunannya. Dan jawab pencatat, "Kalian berdua tidak akan punya bahan kalau aku tidak mencatat detail kehidupan." Jadi, begitulah mereka. Terus bertengkar. Sampai akhirnya, mereka sadar bahwa sebenarnya, mereka saling membutuhkan. Penulis butuh pencatat untuk mendapatkan detail yang nyata. Pengarang butuh penulis untuk menerjemahkan ide mereka ke sesuatu yang lebih ringan. Dan pencatat? Mereka butuh keduanya untuk memastikan catatan mereka tidak berakhir jadi tumpukan kertas tak berguna. Pada akhirnya, tidak ada yang lebih penting di antara penulis, pengarang, dan pencatat. Semua punya peran masing-masing dalam dunia literasi. Penulis adalah mesin yang menjaga agar dunia terus berputar dengan tulisan mereka yang cepat dan praktis. Pengarang adalah pemikir yang menjaga kedalaman dan seni. Sementara pencatat adalah mata-mata kehidupan yang menangkap detail tersembunyi. Barangkali solusinya lumayan sederhana. Mereka perlu ngopi bareng. Bayangkan sebuah warteg, di mana penulis mengetik cepat di laptop, pengarang merenung sambil melihat senja, dan pencatat sibuk mencatat obrolan orang di meja sebelah. Meski mereka punya gaya yang berbeda, ada satu hal yang menyatukan mereka. Kebutuhan akan kopi. Dan Wi-Fi gratis. Jadi, kalau Anda merasa sebagai salah satu dari mereka. Entah itu penulis, pengarang, atau pencatat, jangan terlalu serius. Selow aja. Dunia literasi itu luas, dan ada tempat untuk semua orang. Kalau terlalu lelah berpikir, ingatlah kata-kata seorang bijak: "Yang penting, jangan lupa ngopi." *

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.

Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal

  Hanya ilistrasi. (Gambar: AI).  Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...