Kamis, 13 Februari 2025

Cinta dalam Sepiring Nasi Goreng

Pengantar Kang Juhi, pedagang gorengan. Tinggal seorang diri, di sebuah kamar kontrakan, di pinggiran Jakarta. Namun ia bisa berada di mana saja, dan bertemu dengan siapa saja. Karena ia hanya semacam simbol yang mewakili suatu kelompok masyarakat marjinal, yang alam bawah sadarnya terkadang mengejawantah ke berbagai dimensi kehidupan. Kang Juhi mengamati lalu batinnya mengkritisi berbagai aspek kehidupan yang sering kali menyimpang menurut penalaran akal sehat Kang Juhi. Apakah penalaran batinnya bisa dipertanggungjawabkan? Perlu diskusi lebih lanjut. Karena ia hanya penjual gorengan, yang tak menarik perhatian. Dibutuhkan tatkala tak ada pilihan. Namanya juga dongeng. * Cinta dalam Sepiring Nasi Goreng Yoss Prabu Pagi itu, di tepi jalan. Di sebelah penjual bubur ayam. Sambil membolak-balik gorengan pada wajan. Kang Juhi teringat masa lalu. Ia merapikan rambutnya yang sebenarnya sudah rapi. Hari ini adalah Hari Kasih Sayang, hari yang bagi sebagian orang berarti cokelat mahal, bunga mawar, dan puisi yang ditulis dengan penuh perasaan. Tapi bagi Kang Juhi, yang penting adalah sepiring nasi goreng. Ya, nasi goreng. Kang Juhi – yang waktu itu belum disapa “Kang” (kependekan dari akang: bahasa Sunda) – punya rencana besar. Setelah lama menjadi teman bermain yang selalu mengumpulkan keberanian hanya untuk bilang "Eti. Nonton, yuk?" Tapi tak pernah berhasil. Gak berani. Malu. Ia memutuskan bahwa hari ini harus ada langkah maju. Maka Juhi pun memasukkan nasi goreng merah jambu ke dalam menu makan siang spesial yang, sejujurnya, ia beli minggu lalu hanya karena Eti bilang merah jambu adalah warna favoritnya. Menu hari ini? Nasi goreng buatan tangan Kang Juhi. Jangan salah, ini bukan nasi goreng sembarangan. Juhi sudah belajar cara memasak nasi goreng, sejak dua tahun lalu. Terpaksa belajar cara bikin nasi goreng. Karena tidak ada lauk untuk pendamping nasi. Dan setelah percobaan entah keberapa, akhirnya nasi goreng Juhi tidak kalah rasanya dengan nasi goreng yang suka dijual di kaki lima. Lalu, kenapa sekarang dia berjualan gorengan bakwan? Itu lain lagi ceritanya. Eti sendiri belum tahu apa yang sedang direncanakan Juhi. Ia datang ke rumah Juhi seperti biasa, mengenakan baju tangan panjang warna merah muda dan jibab hitam. Dipadu dengan rok panjang yang juga berwarna hitam. Hal itu sempat Juhi sedikit lupa bagaimana caranya bernapas. Saat Eti duduk di depannya, Juhi mengambil napas panjang. Inilah saatnya. "Eti," panggilnya dengan suara bergetar, sambil membawa nasi goreng itu. "Aku... aku buatkan sesuatu untukmu." Eti mendongak dan tersenyum. "Wah, apa ini? Kok repot-repot amat?" Juhi hanya tersenyum gugup sambil menyerahkan nasi goreng itu. Eti menatap nasi goreng itu, dan langsung aroma nasi goreng segera menendang hidungnya yang bangir. Di atas nasi goreng itu, Juhi dengan hati-hati menata potongan sosis berbentuk hati. Eti tertawa kecil, wajahnya memerah. "Kamu buat ini sendiri?" tanya Eti. "Ya," jawab Juhi sambil menggaruk belakang kepalanya. Sudah tiga hari ia belum keramas. Lupa. Tapi ia melanjutkan, "Aku pikir, kalau kita sering makan siang bareng, kenapa nggak aku masakin sesuatu buat kamu?" Eti memandangi nasi goreng itu dengan tatapan lembut. Ia tahu, di balik sosis berbentuk hati dan telur mata sapi yang sedikit gosong itu, ada usaha besar dari Juhi. "Terima kasih, Kang Juhi. Aku nggak tahu harus bilang apa," kata Eti. Terharu. Ia jujur. Sungguh terharu. Saat itulah Eti mengambil sepotong sosis dan memakannya. Ia tersenyum, lalu berkata, "Ini enak! Mungkin kamu harus buka restoran nasi goreng." Juhi tertawa lega, seolah bebannya baru saja terangkat. "Kalau kamu pelanggan tetapnya, aku akan buka restoran itu." Hari itu, mereka makan siang bersama di beranda rumahnya yang sepi, karena kedua orang tua serta adik-adiknya sedang kondangan. Mereka berdua melahap nasi goreng dengan tawa dan percakapan yang mengalir tanpa henti. Eti bahkan membantu Kang Juhi merapikan nasi gorengnya, sambil bercanda bahwa piring itu mungkin harus dipakai lagi untuk nasi goreng spesial berikutnya. Juhi merasa seperti pemenang. Tidak ada cokelat mahal atau bunga mawar, hanya dua piring nasi goreng penuh cinta. Tapi bagi Juhi, itu sudah lebih dari cukup. Dan untuk pertama kalinya, Eti berkata, "Juhi, aku senang kamu masakin aku makan siang. Besok, mungkin aku yang gantian membuatkan sesuatu buat kamu." Hari Kasih Sayang itu, Juhi tidak hanya memberikan sesuatu untuk Eti, tapi juga mendapatkan sesuatu yang lebih berharga, sebuah janji untuk makan siang bersama lagi, dan mungkin sebuah awal dari cerita cinta yang lebih panjang besar. Sekarang. Eti telah memberinya dua anak, kelaki perempuan. Yang besar esempe. Yang kecil masih SD. Kang Juhi mengerjap. Gorengannya hampir gosong. Selamat Hari Lansia. Dan Selamat Hari Kasih Sayang. *

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.

Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal

  Hanya ilistrasi. (Gambar: AI).  Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...