Di Selasar kita bisa berdiskusi. Ramai-ramai atau sendiri. Boleh. Sambil minum kopi, merenung atau hanya sekedar berimajinasi, juga boleh. Atau sambil bermimpi dan masturbasi. Pun boleh-boleh saja. Terserah! Silakan saja. Suka-suka.
Jumat, 07 Februari 2025
Cinta, Hujan, dan Jemuran
Pengantar
Kang Juhi, pedagang gorengan. Tinggal seorang diri, di sebuah kamar kontrakan, di pinggiran Jakarta. Namun ia bisa berada di mana saja, dan bertemu dengan siapa saja. Karena ia hanya semacam simbol yang mewakili suatu kelompok masyarakat marjinal, yang alam bawah sadarnya terkadang mengejawantah ke berbagai dimensi kehidupan. Kang Juhi mengamati lalu batinnya mengkritisi berbagai aspek kehidupan yang sering kali menyimpang menurut penalaran akal sehat Kang Juhi. Apakah penalaran batinnya bisa dipertanggungjawabkan? Perlu diskusi lebih lanjut. Karena ia hanya penjual gorengan, yang tak menarik perhatian. Dibutuhkan tatkala tak ada pilihan.
Namanya juga dongeng.
*
Antara Cinta, Hujan, dan Jemuran
Februari selalu membawa cerita unik bagi Kang Juhi. Bulan ini bukan hanya tentang hujan yang mengguyur sepanjang hari, tapi juga tentang banyaknya harapan yang tak pernah kering. Padahal, jemuran di rumahnya juga selalu basah. Jangan bicara soal laundry. Tidak ada dana!
Sebagai seorang lelaki yang setia dengan prinsip “hidup itu harus santai tapi pasti”.
Kang Juhi selalu menghadapi Februari dengan semangat setengah hati. Bukan karena ia malas, meski memang sering banyak malasnya, ketimbang rajinnya. Tapi karena Februari selalu penuh dengan ujian. Hujan datang tanpa aba-aba, angin bertiup tanpa kompromi. Dan yang paling berat, 14 Februari selalu menjadi momen introspeksi massal bagi para jomblo. Atau minimal, yang anak dan istrinya berada di kampung.
Suatu sore, sebelum Januari berakhir. Kang Juhi sedang duduk di depan kontrakannya. Asyik menyeruput kopi tanpa gula sambil mengisap sebatang rokok murah. Ia menatap langit yang mendung, seperti memendam kesedihan yang tidak bisa diungkapkan. Hatinya berbisik, sepertinya ada sesuatu yang akan terjadi di akhir Januari ini."
Dan benar saja.
Malam harinya, di warteg langganan Kang Juhi. Ia bertemu dengan seorang perempuan paruh baya. Wajahnya manis, senyumnya teduh, dan caranya mengunyah tempe goreng, sungguh artistik. Antara sebuah keindahan, keanggunan dan kesopanan tingkat tinggi. Sekelas bidadari. Minimal dalam pandangan Kang Juhi. Suatu kombinasi sempurna yang membuat hati Kang Juhi bergetar seperti ketika hawa dingin menyengat tubuhnya.
Karena merasa ini adalah karunia Tuhan, Kang Juhi pun mencoba melakukan pendekatan. Awalnya ia berpikir untuk menggunakan rayuan maut, tapi pengalaman mengajarkan bahwa kalimat seperti, "Ibu itu seperti hujan Februari, selalu bikin tubuhku menggigil." Tapi Kang Juhi yakin kalau hal itu hanya akan membuatnya diusir dari warung dengan malu. Maka, ia memilih strategi yang lebih cerdas, pura-pura butuh bantuan.
"Bu, maaf. Tolong ambilkan sendok? Sendok saya jatuh," katanya. Padahal tidak.
Perempuan itu tersenyum. MasyaAllah....... Kang Juhi menggerutu dalam hati.
Dan ibu manis itu mengulurkan sendok. Bersama wadahnya.
"Ini, Kang. Tapi sendok Akang masih ada, tuh."
Kang Juhi terdiam. Strateginya gagal pada detik-detik awal, babak pertama. Namun ia tidak menyerah. Sebab kata menyerah, hanya terdapat dalam kamus bahasa Indonesia. Tidak dalam kamus Kang Juhi.
Hari-hari berikutnya, penjual gorengan itu sering ke warung langganannya. Berharap bisa lebih mengenal perempuan itu. Kadang ia hanya memesan es teh manis, meskipun udara dingin. Tapi perempuan itu tidak pernah muncul lagi. Baru setelah seminggu kemudian, ia melakukan penampakkan. Dan Kang Juhi sangat antusias mencoba untuk mengobrol. Ia pun mulai bertanya, "Bu, menurut ibu lebih baik hujan deras atau gerimis?" Sekadar mencari alasan untuk mengobrol.
Dan entah bagaimana, percakapan-percakapan kecil itu mulai berubah menjadi kebiasaan yang menyenangkan. Hingga akhirnya, di malam yang entah ke berapa. Kang Juhi memberanikan diri berkata, "Bu, kalau saya bilang. Saya suka sama ibu, apa jawaban ibu?"
Perempuan paruh baya itu tersenyum, menatap keramaian di luar, lalu berkata, "Barangkali saya akan bilang, saya suka sekali makan di sini."
Kang Juhi tertawa. Baginya, itu bukan penolakan, tapi isyarat bahwa ada kemungkinan indah di hari-hari berikutnya. Lagipula, kalau Februari yang penuh hujan ini bisa membawa seseorang seperti perempuan ini ke dalam kehidupannya – paling tidak selama Kang Juhi mencari nafkah di Jakarta – siapa tahu di hari-hari berikutnya akan terus memberikan kehangatan dan dan keberkahan.
Dengan itu, Kang Juhi kembali menyeruput kopinya yang kali ini benar-benar nikmat, karena akhir bulan ini ternyata tak hanya tentang hujan dan cinta yang mulai bersemi.
Dengan lembut, perempuan itu berkata sambil tersenyum manis, “Warung ini milik saya. Anak saya sudah lima. Masih kecil-kecil. Sebentar lagi, anak-anak saya beserta bapaknya mau ke sini. Menjemput saya. Kami sudah bikin janji mau jalan-jalan ke mall.”
Alah...., Mak. Dan Kang Juhi terenyak dalam diam. Beberapa jenak ia terpaku di tempat duduknya. Tidak sempat minta maaf. Karena perempuan beranak lima itu segera masuk ke warungnya. Sementara tukang gorengan itu, teringat anak istrinya di kampung halaman. Yang tengah menungguinya dengan setia.
Kang Juhi pun segera membayar apa yang dia makan. Dan dengan cepat, ia pun minggat.
Selamat datang Februari.
Nikmati hidup ini.
Tamat.
*
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal
Hanya ilistrasi. (Gambar: AI). Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...
-
Selamat Pagi Kusibak kabut yang menggantung. Kutatap pagi yang redup. Lembapnya terasa segar di sela rintik yang malu-malu. ...
-
Tulisan ini saya buat ketika saya menjadi anggota dari sebuah grup WA yang admin-nya secara kurang ajar mendaulat saya untuk menjadi narasum...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.