Di Selasar kita bisa berdiskusi. Ramai-ramai atau sendiri. Boleh. Sambil minum kopi, merenung atau hanya sekedar berimajinasi, juga boleh. Atau sambil bermimpi dan masturbasi. Pun boleh-boleh saja. Terserah! Silakan saja. Suka-suka.
Minggu, 16 Februari 2025
Kang Juhi Melamun di Keramaian Pasar
Pengantar
Kang Juhi, pedagang gorengan. Tinggal seorang diri, di sebuah kamar kontrakan, di pinggiran Jakarta. Namun ia bisa berada di mana saja, dan bertemu dengan siapa saja. Karena ia hanya semacam simbol yang mewakili suatu kelompok masyarakat marjinal, yang alam bawah sadarnya terkadang mengejawantah ke berbagai dimensi kehidupan. Kang Juhi mengamati lalu batinnya mengkritisi berbagai aspek kehidupan yang sering kali menyimpang menurut penalaran akal sehat Kang Juhi. Apakah penalaran batinnya bisa dipertanggungjawabkan? Perlu diskusi lebih lanjut. Karena ia hanya penjual gorengan, yang tak menarik perhatian. Dibutuhkan tatkala tak ada pilihan.
Namanya juga dongeng.
*
Keramaian pasar yang selalu ramai pada pagi hari itu, seperti orkestra kacau. Pedagang berteriak menawarkan dagangan, pembeli menawar dengan sengit, dan suara knalpot motor sesekali melengking di sela-sela obrolan. Gerobak Kang Juhi berada di pojok pasar, diapit penjual sayur dan kios buah yang penuh sesak. Ia sibuk membolak-balik gorengan, namun pikirannya mulai melayang, menatap orang-orang yang bergerak cepat di depannya.
"Ini bukan pasar," pikir Kang Juhi. "Ini kerajaan. Dan aku... pengamat yang terlupakan."
Dalam kepalanya, pasar berubah menjadi sebuah kota besar yang hidup di bawah langit oranye. Penjual sayur menjadi petani dengan pakaian tradisional, membawa hasil panen terbaik dari ladang magis mereka. Kios buah berubah menjadi taman buah raksasa, di mana pohon apel dan jeruk tumbuh setinggi menara, buahnya dipetik langsung oleh burung-burung raksasa.
Di tengah kerajaan itu, Kang Juhi melihat dirinya sendiri. Ia bukan lagi penjual gorengan biasa, tetapi seorang ahli kuliner terhormat. Di atas gerobaknya, gorengan berkilau seperti emas, dan setiap gigitan menghasilkan suara musik lembut yang menenangkan hati siapa pun yang memakannya.
Orang-orang berbondong-bondong ke arahnya, wajah mereka penuh rasa kagum.
“Tuanku Juhi, kami memohon gorengan sakti Anda! Kami mendengar tahu isi Anda bisa menyembuhkan patah hati,” ucap seseorang sambil membungku hormat.
“Dan bakwan Anda mampu mengusir lelah setelah perjalanan panjang,” kata seorang pria tua dengan tongkat kayu ajaib.
Kang Juhi tersenyum bijak. “Ambillah, wahai rakyatku. Tapi ingat, gorengan ini hanya bekerja jika dimakan dengan hati tulus.”
Namun tiba-tiba, di sudut pasar muncul seorang penguasa lalim. Ia adalah pedagang ayam potong yang berperut besar, mengenakan jubah merah menyala. “Juhi! Gorenganmu terlalu sempurna! Kau mengganggu daganganku! Aku menantangmu dalam pertarungan rasa!”
Pasar tiba-tiba menjadi sunyi. Semua mata tertuju pada Kang Juhi, yang dengan tenang meletakkan sendok ajaibnya. Ia mengangguk pelan.
"Baiklah, mari kita bertanding," jawabnya. "Tapi biarkan rasa yang memutuskan."
Pertarungan itu, agak terasa berbau epik. Kang Juhi membuat tahu isi dengan adonan yang melayang di udara, sedangkan pedagang ayam potong menyiapkan daging dengan bumbu yang meletup seperti kembang api. Namun, ketika orang-orang mencicipi tahu isi Kang Juhi, mereka menangis terharu. Bahagia. Rasanya bukan sekadar gurih, tetapi membawa kenangan manis masa kecil, cinta pertama, dan malam tenang di bawah bintang-bintang.
Pedagang ayam potong akhirnya menyerah, melemparkan jubah merahnya ke tanah. “Aku kalah, Juhi. Kau memang Raja Gorengan sejati.”
Pasar kembali bersorak. Kang Juhi mengangkat spatulanya seperti seorang pahlawan, merasa bahwa akhirnya ia mendapat pengakuan.
Namun, sebuah suara keras membuyarkan lamunannya.
“Juhi! Bakwan udah gosong tuh!” teriak penjual sayur di sebelahnya.
Kang Juhi tersadar, buru-buru membalik bakwan yang sudah hampir hitam. Ia menoleh ke pelanggannya, seorang ibu muda yang menatapnya dengan bingung.
“Maaf, Bu, bakwannya jadi bonus ya,” katanya sambil tersenyum kecil. Dalam hatinya, ia masih merasa seperti raja, meskipun di dunia nyata ia hanyalah penjual gorengan di pojok pasar.
Dan saat keramaian pasar kembali memanggilnya ke dunia nyata, Kang Juhi tahu, di dalam kepalanya selalu ada tempat di mana ia adalah lebih dari sekadar pedagang. Ia adalah pahlawan, pencipta rasa, dan Raja Gorengan.
*
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal
Hanya ilistrasi. (Gambar: AI). Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...
-
Selamat Pagi Kusibak kabut yang menggantung. Kutatap pagi yang redup. Lembapnya terasa segar di sela rintik yang malu-malu. ...
-
Tulisan ini saya buat ketika saya menjadi anggota dari sebuah grup WA yang admin-nya secara kurang ajar mendaulat saya untuk menjadi narasum...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.