Senin, 17 Februari 2025

Moment Penting dalam Sejarah

Pengantar Kang Juhi, pedagang gorengan. Tinggal seorang diri, di sebuah kamar kontrakan, di pinggiran Jakarta. Namun ia bisa berada di mana saja, dan bertemu dengan siapa saja. Karena ia hanya semacam simbol yang mewakili suatu kelompok masyarakat marjinal, yang alam bawah sadarnya terkadang mengejawantah ke berbagai dimensi kehidupan. Kang Juhi mengamati lalu batinnya mengkritisi berbagai aspek kehidupan yang sering kali menyimpang menurut penalaran akal sehat Kang Juhi. Apakah penalaran batinnya bisa dipertanggungjawabkan? Perlu diskusi lebih lanjut. Karena ia hanya penjual gorengan, yang tak menarik perhatian. Dibutuhkan tatkala tak ada pilihan. Namanya juga dongeng. *
Yoss Prabu Seperti hari-hari lainnya. Hari ini pun seperti biasanya, Kang Juhi mendorong gerobaknya menuju sudut pasar tradisional, tempat favoritnya berdagang. Sinar matahari pagi mulai terasa hangat di kulit, sementara hiruk pikuk suara pedagang memantul di antara dinding-dinding bangunan kios. Saat ia mengatur loyang gorengannya yang mulai penuh, seorang pelanggan tak dikenal datang menghampiri. Pria itu berdasi, rapi, bertubuh gempal dengan sepatu mengilap yang tampak tidak biasa untuk seorang pengunjung pasar. Wajahnya mengingatkan Kang Juhi pada seseorang, meski ia tidak bisa segera mengingat siapa. Pria itu tersenyum kecil. “Tahu isi satu, Kang,” katanya sambil mengeluarkan dompet kulit mahal. “Silakan, Pak. Baru matang,” jawab Kang Juhi, menyodorkan tahu isi yang masih panas. Namun, pandangan Kang Juhi tetap menatap pria itu dengan rasa penasaran. Saat pria itu menggigit tahu isinya, Kang Juhi tiba-tiba tersadar. Dia ini mirip sekali dengan tokoh penting yang sering muncul dalam imajinasinya-seorang pejabat yang selalu ia anggap bagian dari masalah besar kota ini. Percakapan pun dimulai. “Pak, maaf sebelumnya,” Kang Juhi membuka pembicaraan. “Bapak ini kerja di kantor pemerintah, ya?” Pria itu menelan gigitan tahu isi dengan perlahan, lalu tersenyum. “Iya, Kang. Kenapa? Apa ada yang bisa saya bantu?” Kang Juhi ragu sejenak, tetapi kemudian menguatkan dirinya. "Saya cuma mau tanya, Pak. Kenapa ya orang kecil seperti saya sering dianggap mengganggu kota? Padahal kita cuma mau cari makan, nggak minta lebih. Tapi trotoar kita dibilang kumuh, gerobak kita dirampas. Apa benar-benar nggak ada tempat buat orang seperti saya di kota ini?” Pria itu terlihat terkejut, namun ia tetap tenang. Ia meletakkan tahu isi yang hampir habis ke loyang gerobak. “Saya mengerti apa yang Anda rasakan, Kang. Tapi ini bukan masalah sederhana. Kami di pemerintah harus menjaga ketertiban kota, memastikan semuanya sesuai aturan.” Kang Juhi mendengus kecil. “Ketertiban, Pak? Ketertiban buat siapa? Kalau saya harus pindah, terus siapa yang bikin tahu isi buat pelanggan saya? Mereka makan apa, Pak, kalau yang sederhana seperti begini saja dipersulit?” Pria itu diam sejenak, lalu mengangguk pelan. “Kang, saya tidak mengatakan apa yang Anda lakukan itu salah. Saya tahu gorengan ini adalah bagian penting dari hidup banyak orang. Tapi, kami juga punya tekanan. Pihak atas, para pengambil keputusan besar, mereka jarang melihat langsung apa yang terjadi di lapangan. Saya hanya menjalankan perintah.” Kang Juhi tidak puas. “Ah, itu dia, Pak. Perintah, ya?” Suara Kang Juhi meninggi. “Tapi, apa pernah orang-orang yang ngasih perintah itu nyobain tahu isi saya? Apa mereka tahu rasanya jadi saya, bangun pagi, bikin adonan, terus ditolak cuma karena katanya trotoar ini milik ‘publik’? Saya ini juga publik, Pak. Tapi kenapa saya nggak dianggap?” Pria itu menghela napas, wajahnya tampak sedikit lelah. “Kang, saya ngerti ini nggak adil. Tapi kalau mau ada perubahan, semuanya butuh proses. Anda punya ide bagaimana caranya?” Kang Juhi terdiam sejenak. Lalu ia tersenyum tipis. “Kalau mereka nggak mau ke sini, mungkin saya yang harus datang ke sana, ya? Tapi bukan cuma saya, Pak. Banyak orang kayak saya yang punya cerita sama. Kami ini cuma mau didengar.” Pria itu tertegun. Ia tidak mengira seorang pedagang gorengan bisa berbicara dengan begitu jelas dan penuh semangat. Ia menatap Kang Juhi dengan hormat, lalu mengambil tahu isi kedua dari loyang. “Kalau begitu, Kang, teruslah jual gorengan ini. Dan kalau suatu hari Anda benar-benar ingin bicara dengan mereka, saya siap membantu Anda bertemu.” Pria itu pergi, meninggalkan uang di meja kecil gerobak Kang Juhi. Namun, kali ini bukan tahu isi yang terjual yang membuat Kang Juhi puas, melainkan percakapan itu sendiri. Di hatinya, ia tahu perjalanan menuju perubahan masih panjang. Tapi, setidaknya hari ini, ia berhasil menyuarakan apa yang selama ini hanya ada dalam pikirannya. Dan siapa tahu? Mungkin, suatu hari nanti, pejabat itu benar-benar akan membawanya ke ruangan tempat keputusan-keputusan besar dibuat. Sementara itu, Kang Juhi kembali bekerja, dengan harapan kecil yang mulai menyala di hatinya. *

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.

Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal

  Hanya ilistrasi. (Gambar: AI).  Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...