Di Selasar kita bisa berdiskusi. Ramai-ramai atau sendiri. Boleh. Sambil minum kopi, merenung atau hanya sekedar berimajinasi, juga boleh. Atau sambil bermimpi dan masturbasi. Pun boleh-boleh saja. Terserah! Silakan saja. Suka-suka.
Rabu, 19 Februari 2025
Mantra Manjur Bagi Pesulap
Mantra Manjur Bagi Pesulap
Kang Juhi, pedagang gorengan. Tinggal seorang diri, di sebuah kamar kontrakan, di pinggiran Jakarta. Namun ia bisa berada di mana saja, dan bertemu dengan siapa saja. Karena ia hanya semacam simbol yang mewakili suatu kelompok masyarakat marjinal, yang alam bawah sadarnya terkadang mengejawantah ke berbagai dimensi kehidupan. Kang Juhi mengamati lalu batinnya mengkritisi berbagai aspek kehidupan yang sering kali menyimpang menurut penalaran akal sehat Kang Juhi. Apakah penalaran batinnya bisa dipertanggungjawabkan? Perlu diskusi lebih lanjut. Karena ia hanya penjual gorengan, yang tak menarik perhatian. Dibutuhkan tatkala tak ada pilihan.
Namanya juga dongeng.
*
Kang Juhi duduk sambil bersandar di dinding kamar kontrakannya, di depan baskom gorengannya. Semuanya siap, tinggal berangkat menuju Padang Kurusetra. Maka sambil buang-buang waktu, tangannya sibuk men-secroll layar android. Yang baru dia beli dari seorangtetangga dengan harga murah. Dia jual butuh. Hari ini pikirannya sedang sibuk, bukan soal harga gas elpiji, pagar laut atau pengurangan anggaran. Itu sudah lewat. Tapi soal satu kata yang mendadak jadi trending topic di alam maya. "Ndas."
Setelah membaca, Kang Juhi merenung.
Dalam benaknya.
Dulu, "ndas" ini hanya sekadar bagian tubuh yang jadi tempat numpang rambut, topi, atau beban hidup. Tapi entah kenapa, belakangan ini, kata "ndas" telah berevolusi. Ia bukan sekadar kepala, tapi sudah menjelma menjadi ekspresi kebatinan yang sedemikian sakral, mulai dari bentuk umpatan, ledekan, sampai ungkapan solidaritas. Ada yang mengatakan "Ndasmu!" dengan nada marah, ada yang bercanda dengan "Ndas kowe!", dan ada juga yang menjadikannya sebagai respons universal atas segala kebingungan dunia.
"Kang, ada gorengannya?" teriak seorang seorang pelanggan dari luar kamar kontrakan.
Dengan refleks Kang Juhi menjawab, "Ndasmu!" Saking terbawa tren.
Begitu sadar, buru-buru ia klarifikasi. "Maksud saya, ini masih pagi! Belum ada yang digoreng!"
Pelanggan itu mengernyitkan dahi. Mungkin saja ia akan kapok untuk membeli gorengannya lagi. "Wah! Bahaya juga nih tren kata ini, Kang. Kalau salah ucap bisa berabe."
Dan calon pembeli itu telah pergi lagi. Kang Juhi mengangguk-angguk, lalu kembali dengan renungannya. Di media sosial, kata "ndas" telah mencapai tingkatan sakral. Kalau dulu debat di kolom komentar berisi argumen serius, sekarang cukup dijawab dengan "ndasmu" dan semua orang paham artinya. Kata ini bisa menjadi pengganti semua kata kerja, kata benda, bahkan kata sifat. Pokoknya kalau sudah mentok dalam diskusi, solusinya satu, "ndasmu."
Sebagai pedagang gorengan sekaligus pengamat sosial, meski sebatas dalam renungan, Kang Juhi paham betul bahwa fenomena ini bukan sekadar tren bahasa. Ini adalah refleksi frustrasi. Ketika orang lelah berdebat panjang dan tetap tidak menemukan titik temu, maka "ndasmu" adalah jalan pintas yang efisien. Hemat tenaga, hemat pikiran, hemat biaya dan sekaligus cukup emosional untuk menyampaikan maksud.
Bahkan dalam politik, walau setingkat rukun warga, kata ini jelas sangat berbahaya. Kasar. Coba bayangkan, jika suatu hari ada debat di televisi. Kemudian berakhir dengan kata “Ndas, kowe!”
Maka debat tak perlu durasi panjang. Semua sudah saling memahami tanpa perlu pemaparan visi-misi yang sering kali hanya berupa teori belaka.
Tapi Kang Juhi juga sedikit khawatir. Jika segala perdebatan hanya diselesaikan dengan "ndasmu," apakah ini pertanda kebangkrutan akal sehat? Atau memang “Nggak akal”. Atau jangan-jangan, kata ini menjadi jalan pintas untuk menghindari berpikir kritis? Masyarakat semakin tak peduli untuk berdiskusi, karena semua argumen sudah cukup dijawab dengan satu kata sakral yang sakti ini. Sangat sakti.
Namun, Kang Juhi memilih tidak terlalu ambil pusing. Dia hanya pedagang gorengan, bukan ahli linguistik atau pengamat budaya. Tapi satu hal yang pasti, kalau ada yang menanyakan, kapan gorengan tahu isi turun harga? Ia akan spontan menjawab, "Ndasmu!"
Mudah-mudahan tidak.
Mudah-mudahan pula, Pak Tarno tidak mengganti mantra saktinya.
“Ndasmu!”
*
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal
Hanya ilistrasi. (Gambar: AI). Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...
-
Selamat Pagi Kusibak kabut yang menggantung. Kutatap pagi yang redup. Lembapnya terasa segar di sela rintik yang malu-malu. ...
-
Tulisan ini saya buat ketika saya menjadi anggota dari sebuah grup WA yang admin-nya secara kurang ajar mendaulat saya untuk menjadi narasum...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.