Di Selasar kita bisa berdiskusi. Ramai-ramai atau sendiri. Boleh. Sambil minum kopi, merenung atau hanya sekedar berimajinasi, juga boleh. Atau sambil bermimpi dan masturbasi. Pun boleh-boleh saja. Terserah! Silakan saja. Suka-suka.
Sabtu, 29 Maret 2025
Pertanda Kemenangan dari Banyak Kesabaran
Bagi kaum muslimin, Hilal Idul Fitri merupakan pertanda kemenangan dari buah kesabaran. Setelah sebulan penuh berpuasa dan berusaha untuk menjadi lebih baik, kita akhirnya mencapai kemenangan. Kita telah berhasil menaklukkan nafsu dan ego kita, dan kita telah menjadi lebih dekat dengan Tuhan. InsyaAllah.
Pertanda Kemenangan dari Banyak Kesabaran
Yoss Prabu
Sore yang benderang, beberapa pasang mata menatap ujung langit. Menunggu sesuatu yang belum juga terlihat. Hilal. Sekerat cahaya, sepotong sabit di cakrawala, penanda peralihan dari bulan suci ke, hari kemenangan.
Para ahli falak bersilang pendapat, sementara netizen lebih cepat memutuskan. "Udah liat di TikTok aja. Di Saudi udah ketemu hilal! Fix besok lebaran!" katanya. Sementara yang lain, lebih sabar menunggu pengumuman resmi, sembari menyiapkan dua skenario: "Lebaran besok atau sahur lagi nanti malam?"
Hilal itu misterius. Kadang terlihat, kadang tidak. Seperti harapan dan janji-janji manis si Dia yang entah ditepati atau tidak. Setiap tahun, drama ini terulang. Masyarakat terbelah antara yang ikut pemerintah dan yang mendengar kabar dari grup WhatsApp keluarga, yang isinya lebih beragam dari seminar astronomi.
"Kata Pak Ustaz di kampung, udah sah!"
Yang lain membalas, "Tapi kata pemerintah, belum sah!"
Ah, perkara hilal ini mirip seperti pasangan ABG lebay.Yang satu sudah yakin, sementara yang lain masih menunggu kepastian.
Tapi di balik pertengkaran itu, hilal adalah saksi dari harapan yang besar. Kita menatap langit dengan hati yang penuh doa. Hilal adalah awal bagi mereka yang ingin segera kembali ke fitrah, menghapus salah, memperbaiki laku. Sebulan penuh kita belajar menahan, menakar, dan menakar ulang. Menahan lapar, menahan amarah, menakar kesabaran, dan menakar iman. Apakah kita menang? Atau hanya sekadar berganti bulan tanpa perubahan?
Idulfitri bukan sekadar perayaan, ia adalah ujian akhir dari Ramadhan. Sudahkah kita lebih baik dari kemarin? Atau hanya lebih kenyang setelah sahur terakhir? Hilal tak butuh perdebatan panjang, ia hanya muncul untuk mengingatkan kita bahwa waktu terus berjalan. Yang bersedih karena Ramadhan akan pamitan, yang bahagia karena akhirnya bisa minum es teh manis di siang bolong. Ah, manusia. Selalu terbagi antara dua kutub.
Dan hilal, dalam kesunyiannya, terus tersenyum. Ia tahu, entah besok atau lusa, manusia tetap akan bertakbir. Akan ada pelukan. Akan ada permintaan maaf yang kadang tulus, terkadang hanya basa-basi. Lebih sering hanya formalitas. Akan ada ketupat yang terhidang, opor ayam yang mengepul, dan tentu saja, pertanyaan-pertanyaan mematikan dari keluarga besar yang lebay.
"Kapan nikah?”
“Kerja di mana?”
“Gaji sudah cukup?"
Hilal hanya tertawa kecil. Rupanya, yang berat bukan menunggu hilal, tapi menjawab pertanyaan lebay saat Lebaran.
Sekerat cahaya di langit malam itu adalah pengingat. Bahwa seperti bulan sabit yang perlahan membesar menjadi purnama, kita juga harus tumbuh, belajar, dan berubah. Jika tidak, maka kita hanya sekadar manusia yang berputar-putar dalam siklus tanpa makna, seperti tahun-tahun sebelumnya. Dan apa gunanya Ramadhan jika tak meninggalkan jejak dalam hati kita?
Jadi, andai hilal belum terlihat. Masih di bawah ufuk. Begitu menurut pemerintah. Idulfitri diundur. Mungkin pernyataan yang lebih penting adalah, sudahkah kita benar-benar siap menyambutnya Idulfitri? Atau hanya menunggu akhir Ramadhan, tanpa benar-benar memahami awal yang baru?
Hari ini, Sabtu, 29 Maret 2025, kita menunggu datangnya bulan Syawal. Bulan yang membawa kabar gembira dan kemenangan bagi umat Islam di seluruh dunia. Hilal Idul Fitri, yang belum terlihat merupakan pertanda awal bulan Syawal, di mana kita semua akan bersuka cita menyambutnya.
Lalu, apa sebenarnya makna dari Hilal Idul Fitri ini? Apakah hanya sekedar pertanda awal bulan Syawal, atau ada makna yang lebih dalam dan lebih luas?
Bagi kaum muslimin, Hilal Idul Fitri merupakan pertanda kemenangan dari buah kesabaran. Setelah sebulan penuh berpuasa dan berusaha untuk menjadi lebih baik, kita akhirnya mencapai kemenangan. Kita telah berhasil menaklukkan nafsu dan ego kita, dan kita telah menjadi lebih dekat dengan Tuhan. InsyaAllah.
Tapi, kemenangan ini tidak datang dengan mudah. Kita harus berjuang dan berusaha untuk mencapainya. Kita harus sabar dan tekun dalam menghadapi tantangan dan kesulitan. Dan, kita juga harus memiliki iman dan keyakinan yang kuat untuk mencapai kemenangan ini.
Dan, sebagai penutup. Perlu juga kita mengutip kata-kata bijak dari seorang ulama, "Kemenangan tidak datang dari kekuatan fisik, tapi dari kekuatan iman dan kesabaran."
Jadi, mari kita terus berusaha dan berjuang untuk menjadi lebih baik, dan mari kita terus memiliki iman dan keyakinan yang kuat untuk mencapai kemenangan yang sebenarnya. Semoga kita semua dapat merayakannya dengan penuh kegembiraan dan kesyukuran. Dan, semoga kita semua dapat menjadi lebih baik dan lebih dekat dengan Tuhan. Amin.
*
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal
Hanya ilistrasi. (Gambar: AI). Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...
-
Selamat Pagi Kusibak kabut yang menggantung. Kutatap pagi yang redup. Lembapnya terasa segar di sela rintik yang malu-malu. ...
-
Tulisan ini saya buat ketika saya menjadi anggota dari sebuah grup WA yang admin-nya secara kurang ajar mendaulat saya untuk menjadi narasum...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.