Jumat, 28 Maret 2025

Ironi Kehidupan Tanpa Akhir

Pendidikan itu, mesin fotokopi massal. Kita menghabiskan dua dekade hidup kita di bangku sekolah, belajar menghafal, mengerjakan ujian, dan berusaha mengerti pelajaran yang bahkan guru kita sendiri belum tentu paham. Pendidikan katanya membuka pintu kesuksesan, tapi lebih sering membuka pintu utang dan stres. Ironi Kehidupan Tanpa Akhir Yoss Prabu Kehidupan adalah sebuah pertunjukan aneh, di mana kita semua adalah aktor yang dipaksa tampil tanpa diberi naskah terlebih dahulu. Kita lahir, menangis, dan kemudian dipaksa belajar berjalan di atas panggung yang penuh jebakan. Yang lebih lucu atau tragis adalah, kita menghabiskan seluruh waktu untuk mencoba memahami setiap peran, hanya untuk diseret keluar dari panggung saat mulai merasa nyaman dengan permainan. Tentang kebebasan yang tidak benar-benar bebas. Sejak kecil, kita diajari untuk memiliki kebebasan. "Anda bisa menjadi apa saja yang Anda mau!" kata mereka dengan penuh semangat, tanpa menyadari bahwa di belakang kata-kata itu ada tali-tali tak kasat mata yang mengendalikan setiap gerakan kita. Mau jadi pengusaha? "Tapi bagaimana Anda akan membayar tagihan?" Hendak jadi musisi? "Itu bukan pekerjaan sungguhan!" Ingin hidup tenang tanpa ambisi besar? "Dasar! Anda pemalas!" Akhirnya, kita memilih jalur yang "aman". Yang dianggap "normal". Dan dengan bangga kita menyebutnya sebagai keputusan bebas. Padahal, itu adalah keputusan yang kita buat setelah semua pilihan lain diberi label "gagal" oleh masyarakat. Kebebasan? Mungkin hanya sebuah ilusi yang dipasang di etalase, sementara di belakang layar kita semua berada di dalam kotak yang sudah ditentukan ukurannya. Sebuah mitos yang dipaksakan. Kita hidup dalam dunia yang menyembah kesuksesan, tetapi definisinya begitu sempit hingga lebih mirip sebuah jebakan. Jika Anda punya rumah besar, mobil mewah, dan rekening bank gemuk, maka Anda sukses. Jika tidak, maka hidupmu dianggap gagal, tidak peduli seberapa bahagianya Anda. Lucunya, banyak dari mereka yang disebut “sukses” justru lebih sengsara daripada mereka yang katanya “gagal”. Mereka bekerja 12 jam sehari di kantor yang penuh racun, pulang ke rumah hanya untuk tidur, dan bangun dengan perasaan kosong. Lalu mereka membeli lebih banyak barang, berharap bisa mengisi kekosongan itu. Tidak berhasil. Jadinya mereka membeli lebih banyak lagi, dan akhirnya mereka mati dengan lemari penuh barang yang tidak pernah benar-benar mereka nikmati. Sementara itu, ada orang-orang sederhana yang hidup tanpa ambisi besar, menikmati pagi dengan secangkir kopi, membaca buku di bawah pohon, dan tertawa tanpa beban. Tapi karena mereka tidak punya gelar “sukses” yang disetujui masyarakat, mereka pun dianggap “gagal”. Ironi? Jelas. Pendidikan itu, mesin fotokopi massal. Kita menghabiskan dua dekade hidup kita di bangku sekolah, belajar menghafal, mengerjakan ujian, dan berusaha mengerti pelajaran yang bahkan guru kita sendiri belum tentu paham. Pendidikan katanya membuka pintu kesuksesan, tapi lebih sering membuka pintu utang dan stres. Yang lebih absurd lagi, sistem pendidikan kita seperti pabrik fotokopi. Setiap siswa dicetak dengan ukuran dan bentuk yang sama. Tidak peduli apakah kita lebih berbakat dalam seni, olahraga, atau berpikir kritis. Jika kita tidak bagus dalam matematika atau sains, maka kita “kurang pintar”. Dan yang lebih lucu lagi. Setelah lulus, kita semua menyadari bahwa sebagian besar yang dipelajari di sekolah tidak berguna dalam kehidupan nyata. Kita bisa menghitung luas lingkaran, tapi tidak tahu cara mengelola keuangan. Kita dapat menghafal tabel periodik, tapi tidak diajari cara menghadapi emosi sendiri. Lalu kita dilepas ke dunia nyata. Bingung dan panik. Maka sambil bertanya-tanya. “Kenapa tidak ada mata pelajaran 1001 Cara Bertahan Hidup?” Tentunya ini akan menjadi drama tanpa akhir. Karena cinta adalah konsep yang indah, maka sampai kita menyadari betapa kacau eksekusinya. Sejak kecil kita dicekoki ide bahwa cinta sejati adalah menemukan "belahan jiwa" yang sempurna. Sayangnya, tidak ada manusia yang benar-benar sempurna. Jadi kita menghabiskan hidup mencari sesuatu yang tidak ada. Hubungan modernisasi pun lebih mirip transaksi bisnis dibandingkan kisah romantis. "Apa yang bisa kita tawarkan?" "Apakah Anda cukup baik untuk saya?" Bukannya berbagi hidup, akhirnya sibuk menilai satu sama lain seperti pelanggan yang menyeleksi barang di etalase. Dan jika hubungan itu gagal, kita diberi nasihat yang tidak masuk akal. “Cinta akan datang pada waktunya.” Seolah-olah cinta itu seperti paket online yang tinggal menunggu dikirim. Kerja keras itu, janji palsu yang dipercaya banyak orang. "Kerja keras pasti membuahkan hasil!" Adalah salah satu kebohongan terbesar yang kita telan sejak kecil. Bukan berarti kerja keras itu buruk, tapi jika kerja keras benar-benar menjamin kesuksesan, maka buruh kasar dan petani harusnya lebih kaya daripada para miliarder yang hanya duduk di kursi kulit mahal sambil menandatangani dokumen. Realitanya, banyak orang yang bekerja keras seumur hidup hanya untuk bertahan hidup, sementara ada orang yang mewarisi kekayaan dan langsung berada di garis finis tanpa harus berlari. Kita dipaksa bermain dalam perlombaan, tapi beberapa orang sudah terlanjur lahir di posisi pemenang. Adil? Tidak. Tapi begitulah cara dunia bekerja. Kematian adalah satu-satunya kepastian yang kita abaikan. Di tengah semua kekacauan ini, ada satu hal yang pasti. Kita semua akan mati. Tapi anehnya, kita menghabiskan hidup kita berpura-pura seolah kita tidak akan pernah mati. Kita menunda hal-hal yang kita ingin lakukan, seakan-akan kita akan hidup selamanya. Kita menunggu waktu yang "tepat" untuk bahagia, untuk memaafkan, untuk mencoba hal baru. Tapi waktu tidak pernah benar-benar menunggu. Satu-satunya saat yang dimiliki hanyalah sekarang. Dan sebagian besar dari kita menghabiskannya dengan mengkhawatirkan masa depan atau menyesali masa lalu. Lucunya, ketika akhirnya kita sadar bahwa hidup ini singkat, kita sudah terlalu tua atau terlalu lelah untuk melakukan hal-hal yang benar-benar kita inginkan. Berarti, hidup adalah sebuah lelucon yang harus kita tertawakan. Jika kita pikirkan baik-baik, hidup ini tidak lebih dari sebuah komedi hitam yang absurd. Kita datang ke dunia ini tanpa pilihan, diajari seperangkat aturan yang kita tidak sepakati, dipaksa bermain dalam permainan yang aturannya tidak adil, dan akhirnya kita pergi begitu saja tanpa tahu siapa yang memenangkan pertandingan. Jadi, jika ada satu pelajaran yang bisa kita ambil, mungkin itu adalah, jangan terlalu serius. Tertawalah. Nikmati absurditas ini. Tidak ada yang benar-benar tahu apa yang mereka lakukan, bahkan orang yang terlihat paling sukses sekalipun. Kita semua hanya sedang berusaha sebaik mungkin dalam permainan yang aturannya berubah setiap saat. Jadi berhenti khawatir terlalu banyak. Lakukan apa yang membuatmu bahagia. Dan kalaupun semuanya tetap berantakan, setidaknya kita bisa menertawakannya. Sendirian, atau bersama-sama. Karena pada akhirnya, satu-satunya hal yang benar-benar konyol adalah berpikir bahwa hidup ini harus masuk akal. * Jakarta, 27 Maret 2025.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.

Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal

  Hanya ilistrasi. (Gambar: AI).  Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...