Di Selasar kita bisa berdiskusi. Ramai-ramai atau sendiri. Boleh. Sambil minum kopi, merenung atau hanya sekedar berimajinasi, juga boleh. Atau sambil bermimpi dan masturbasi. Pun boleh-boleh saja. Terserah! Silakan saja. Suka-suka.
Sabtu, 26 April 2025
Antara Adegan Absurd dan Monolog Sunyi
Hanya ilustasi. (Gambar: AI).
Tulisan ini saya buat untuk penyeimbang, atau entah apalah namanya. Dari tulisan, Efek Jokowi: Teater dalam Gang Mati, Politik Busuk Tumbuh di Mana-mana. Yang ditulis Buni Yani di sebuah WAG, di mana saya tergabung sebagai anggota. Oke. Gitu, ya?
Antara Adegan Absurd dan Monolog Sunyi
Yoss Prabu
Di panggung bernama Indonesia, Jokowi adalah sutradara yang sering keluar masuk peran. Kadang jadi Presiden, kadang jadi influencer jalan tol, kadang juga cameo di panggung-panggung rakyat. Tapi siapa sangka, di balik pidatonya yang hemat kata dan senyumnya yang hemat kerutan, beliau adalah deus ex machina - dewa mesin - bagi dunia teater Indonesia, setidaknya di mata mereka yang pandai membaca subteks dan pandai berakting sebagai optimistis.
Di era Jokowi, teater Indonesia mengalami lonjakan, lonjakan semangat, bukan dana. Semacam klimaks tanpa properti, lakon tanpa panggung. Tapi begitulah seni, hidup di antara celah-celah anggaran dan harapan. Para pelakon teater belajar satu hal penting dari rezim itu, bagaimana berdiri gagah di tengah minimnya dukungan, tapi tetap mampu menertawakan absurditas hidup dengan naskah yang ditulis dari air mata.
Kita harus akui, Jokowi berjasa memperluas panggung teater. Bukan hanya di Taman Ismail Marzuki atau gedung-gedung kesenian, tapi juga di balai desa, di pinggir jalan, bahkan di media sosial. Di era Jokowi siapa pun bisa jadi aktor, aktivis, menteri, buzzer, bahkan netizen dengan followers tiga digit. Semua berlomba berekspresi. Sebuah bentuk performance art nasional yang tanpa sadar ditulis dan disutradarai oleh atmosfer zaman Jokowi.
Teater tak lagi sekadar pertunjukan, tapi gaya hidup. Rakyat antre minyak goreng? Itu drama realisme sosial. Menteri pidato panjang lebar tanpa isi? Monolog absurd ala Beckett. Sidang DPR? Improvisasi komedi situasi. Dan jangan lupa orkestra media yang mengiringi semuanya dengan nada mayor saat minor sebenarnya lebih cocok.
Jokowi tak menciptakan teater, tapi ia menciptakan iklim di mana teater menjadi niscaya. Ia tak menulis naskah, tapi hidup rakyat menyediakan bahan baku drama yang melimpah. Ia tak memberi banyak dana, tapi memberi banyak dilema dan, bukankah dilema adalah sahabat karib seni panggung?
Namun jangan keliru, di balik satir ini ada rasa terima kasih. Di eranya, setidaknya teater tak sepenuhnya tenggelam. Beberapa festival hidup kembali, beberapa komunitas diberi ruang. Meski dana masih seperti ilusi dalam dialog surealis, tapi semangat terus ditopang oleh absurditas negara yang kadang terasa seperti panggung Theatre of the Oppressed versi tropis.
Melankoli datang saat kita sadar, di negeri ini, seni adalah anak tiri yang selalu diminta sabar. Tapi teater mengajarkan kita, bahkan dari panggung reyot dan dialog tak dibayar, kita bisa melahirkan perlawanan, cinta, dan tawa yang jujur. Maka, untuk segala perannya yang disengaja atau tidak, kita berterima kasihlah pada Jokowi. Karena dalam dramanya yang besar itu, kita semua diberi peran. Meski cuma jadi figuran yang harus berdialog dengan kesunyian.
Jakarta, 26 April 2025
*
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal
Hanya ilistrasi. (Gambar: AI). Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...
-
Selamat Pagi Kusibak kabut yang menggantung. Kutatap pagi yang redup. Lembapnya terasa segar di sela rintik yang malu-malu. ...
-
Tulisan ini saya buat ketika saya menjadi anggota dari sebuah grup WA yang admin-nya secara kurang ajar mendaulat saya untuk menjadi narasum...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.