Di Selasar kita bisa berdiskusi. Ramai-ramai atau sendiri. Boleh. Sambil minum kopi, merenung atau hanya sekedar berimajinasi, juga boleh. Atau sambil bermimpi dan masturbasi. Pun boleh-boleh saja. Terserah! Silakan saja. Suka-suka.
Sabtu, 26 April 2025
Selamat Hari Buku Sedunia
Hanya ilustrasi. (Gambar: AI).
Hari buku sedunia seharusnya bukan perayaan untuk terlihat peduli, tapi peringatan bahwa kita pernah jadi spesies yang jatuh cinta pada cerita. Bahwa sebelum kita bicara dengan suara 15 detik di TikTok, kita pernah mendengar kisah dari bisikan halaman. Bahwa dulu, saat hujan turun, kita lebih memilih duduk di pojok ruangan dengan buku bagus, bukan update cuaca dari aplikasi.
Buku, Bung. Bukan Barang Antik
Yoss Prabu
Baru ingat. 23 April adalah hari buku sedunia. Jadi, Selamat Hari Buku Sedunia 2025. Hari ketika semua orang tiba-tiba ingat bahwa di rak rumahnya ada benda bernama buku, bersampul debu dan berisi kisah-kisah yang pernah dianggap penting sebelum Netflix ditemukan.
Ironis, bukan? Kita rayakan buku setahun sekali, seperti nenek yang hanya dikunjungi cucunya saat Lebaran. Selebihnya, buku cuma jadi dekorasi latar belakang Zoom biar kelihatan intelek. Bahkan buku resep saja sekarang dikalahkan oleh tutorial masak 30 detik yang bahkan tidak sempat menyebutkan takaran.
Katanya, buku adalah jendela dunia. Tapi mari kita jujur, banyak dari kita lebih akrab dengan jendela browser. Kita scroll lebih rajin daripada kita membuka halaman. Mungkin karena buku tidak menyediakan fitur like, share, dan komentar toxic.
Dan di hari yang konon sakral itu, biasanya, perpustakaan nasional bikin diskon denda. Toko buku kasih potongan harga. Semua ikut merayakan...., kecuali rakyat yang belum gajian. Membeli buku sekarang terasa seperti investasi yang terlalu mewah, apalagi jika dibandingkan dengan kebutuhan hidup primer seperti kopi susu artisan atau skincare 15 langkah.
Tapi, tunggu dulu. Buku bukan cuma kertas bertinta. Ia adalah pelarian paling sunyi dan paling setia. Di dalamnya ada dunia yang tak bisa dimuat dalam notifikasi. Buku mengajari kita bersabar. Halaman demi halaman, tanpa scroll, tanpa skip. Buku tidak memaksa kita untuk multitasking, melakukan tugas secara bersamaan pada waktu yang sama. Ia cuma minta satu hal, perhatian penuh. Sesuatu yang kini lebih langka dari sinyal stabil.
Hari buku sedunia seharusnya bukan perayaan untuk terlihat peduli, tapi peringatan bahwa kita pernah jadi spesies yang jatuh cinta pada cerita. Bahwa sebelum kita bicara dengan suara 15 detik di TikTok, kita pernah mendengar kisah dari bisikan halaman. Bahwa dulu, saat hujan turun, kita lebih memilih duduk di pojok ruangan dengan buku bagus, bukan update cuaca dari aplikasi.
Mari kita jujur lagi, kadang buku lebih jujur dari manusia. Ia tidak memanipulasi, tidak menjual kebahagiaan palsu, tidak mencari likes. Ia hanya bercerita, dan membiarkan kita menyimpulkan.
Melankolis? Mungkin. Tapi bukankah membaca itu seperti mengenang mantan? Kadang kita baca ulang, tahu akhir ceritanya, tapi tetap saja ingin merasakan kembali prosesnya. Bedanya, buku tidak pernah ghosting.
Jadi di hari ini, mari kita tidak sekadar membagikan foto buku di Instagram dengan kutipan Paulo Coelho yang diambil dari Google. Mari buka halaman yang belum disentuh. Baca ulang yang dulu kita tinggalkan. Dan jika bisa, hadiahkan satu buku untuk seseorang. Karena dalam dunia yang terlalu cepat ini, memberi buku adalah cara paling sopan untuk berkata,“Aku ingin kau melambat, sejenak saja, bersamaku di dunia kata-kata.”
Buku itu tidak mati. Kita saja yang sedang lupa cara hidup dengannya.
*
Jakarta, 26 April 2025.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal
Hanya ilistrasi. (Gambar: AI). Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...
-
Selamat Pagi Kusibak kabut yang menggantung. Kutatap pagi yang redup. Lembapnya terasa segar di sela rintik yang malu-malu. ...
-
Tulisan ini saya buat ketika saya menjadi anggota dari sebuah grup WA yang admin-nya secara kurang ajar mendaulat saya untuk menjadi narasum...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.