Minggu, 27 April 2025

Seblak dan Tahu Isi: Sebuah Pertemuan yang Nyaris Abadi

Hanya ilustrasi. (Gambar: AI). Puisi Seblak dan Tahu Isi: Sebuah Pertemuan yang Nyaris Abadi Yoss Prabu Di sebuah gerobak senja Di antara suara bersin knalpot dan ibu-ibu berdebat harga cabai Terjadilah peristiwa yang tak tercatat dalam kitab sejarah Sejarah mana pun Seblak bertemu tahu isi Seblak, si pemberani berkuah merah membara Membawa harum yang menusuk Seperti mantan yang tiba-tiba muncul saat kita sudah hampir bahagia Sementara tahu isi Hanya tahu polos, sederhana, berisi sedikit sayuran Selalu merasa dirinya "penuh" Padahal di dalam, ia sesepi dompet menjelang tanggal tua Mereka bertemu di sebuah Warung Tegal sederhana Dengan latar sendu radio jadul Dan suara musik dangdut yang serak Serta lampu neon berdebu yang berjuang keras melawan gelap Seblak, dengan nyalinya yang pedas, berkata, "Tahu, kau dan aku seharusnya tidak bertemu di dunia yang penuh monosodium glutamat ini." Tahu Isi mengangguk pelan Seperti seorang filsuf siomay di pinggir jalan Lalu menjawab, "Mungkin ini takdir. Mungkin kita, dua jajanan jalanan, yang dilahirkan untuk menghangatkan perut-perut kesepian. Yang kelaparan." Romantis? Tentu saja Setidaknya, di dunia di mana cinta sering dinilai dari saldo GoPay Mereka masih percaya pada kehangatan sederhana Tapi hidup Memang Tidak pernah sesederhana kuah seblak Seseorang datang Seorang manusia lapar dengan sandal jepit kotor nyaris putus Menunjuk mereka dengan kejam Dengan wajah dingin tanpa ekspresi Nyaris dingin sesuai takdir "Seblak satu, tahu isi dua!" katanya Bagai malaikat elmaut yang sudah bosan Membelah pasangan kekasih hanya untuk melihat drama Tahu isi dipindahkan ke kantong plastik bening Dikasih sambal encer seujung kuku Cabai mahal Sementara seblak disendok pakai centong berkarat Dikirim menuju gelas plastik yang dulu mungkin tempat es teh manis Mereka berpisah tanpa pelukan Tanpa kata-kata perpisahan Tanpa sempat membicarakan masa depan Tentang punya kios sendiri, atau setidaknya tampil di TikTok food review Dan di sanalah filosofi itu lahir Bahwa kadang cinta terpedas sekali pun Tak mampu melawan harga ceban dan nafsu makan manusia Di dunia ini Kadang yang paling hangat adalah yang paling cepat hilang Kadang yang paling mengenyangkan adalah yang paling mudah dilahap Seblak dan Tahu Isi, tahu itu semua Tapi tetap saja mereka bermimpi Tentang sebuah dunia di mana gerobak tak pernah ditutup Dan hujan tak pernah membuat kuah mereka hambar Jakarta, 26 April 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.

Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal

  Hanya ilistrasi. (Gambar: AI).  Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...