Di Selasar kita bisa berdiskusi. Ramai-ramai atau sendiri. Boleh. Sambil minum kopi, merenung atau hanya sekedar berimajinasi, juga boleh. Atau sambil bermimpi dan masturbasi. Pun boleh-boleh saja. Terserah! Silakan saja. Suka-suka.
Selasa, 01 April 2025
Terjebak dalam Ribuan Kata
Terjebak dalam ribuan kata.
Menulis bagi saya adalah, cara untuk menyelamatkan kewarasan. Ketimbang mengeluarkan uang ratusan ribu untuk terapi ke dokter yang baru lulus, atau marah-marah di media sosial. Saya lebih memilih menuangkan segala keresahan ke dalam tulisan. Setidaknya, ini lebih murah daripada membeli obat penenang atau obat nyamuk cair.
Terjebak dalam Ribuan Kata
Yoss Prabu
Kesehatan saya sedang ngedrop. Sementara keluarga pada mudik. Pulang kampung ke Pandeglang, Banten. Dengan berat hati, saya menolak ikut. Khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan dalam perjalanan. Maka akhirnya saya memilih di rumah saja. Dan akhirnya bertafakur di depan laptop. Menulis sebagai tindakan balas dendam. Akibat tidak bisa pulang kampung. Tapi kemudian, yang saya tulis tidak ada hubungannya dengan pulang kampung. Walau tetap, misinya sebagai balas dendam.
Yang muncul kemudian di layar monitor, saya menulis karena dunia ini terlalu penuh dengan orang-orang yang bicara tanpa berpikir. Mereka berkoar-koar di televisi, di media sosial, di grup WhatsApp keluarga, melemparkan opini seperti lemparan koin ke air mancur. Berharap mendapat keberuntungan tanpa peduli apakah airnya keruh atau jernih.
Menulis, akhirnya saya berkesimpulan, adalah bentuk perlawanan terhadap kebisingan yang tak bermakna. Kata-kata yang tertata rapi dalam tulisan adalah tamparan bagi mereka yang asbun. Asal bunyi. Dalam dunia yang penuh dengan ocehan hampa. Menulis adalah upaya untuk memberi bobot pada kata-kata. Setidaknya, sebelum saya memutuskan sesuatu lalu menuliskannya, saya harus berpikir dulu. Tidak seperti mereka yang berpikir setelah berbicara, atau lebih parah lagi, tidak berpikir sama sekali.
Jadi, kalau ada yang bertanya, "Kenapa kamu menulis?"
Saya akan menjawab dengan senyum tipis, "Karena dunia ini butuh lebih banyak kata-kata yang punya makna, bukan hanya suara-suara yang memekakkan telinga."
Kehidupan ini penuh dengan hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan, cuaca yang suka berubah mendadak, harga kebutuhan pokok yang melejit tanpa ampun. Tapi menulis? Ah, menulis adalah satu dari sedikit hal yang bisa kita kendalikan. Di dalam tulisan, saya bisa menciptakan dunia yang adil, di mana orang baik selalu menang dan orang jahat selalu menerima balasannya. Saya bisa membuat hujan turun saat hati sedang mendung, atau menuliskan dialog yang seharusnya saya ucapkan saat bertengkar dengan tetangga karena berisik. Tapi bagusnya, nyaris semua tetangga saya baik semua.
Jadi, akhirnya saya berpendapat. Menulis bagi saya adalah, cara untuk menyelamatkan kewarasan. Ketimbang mengeluarkan uang ratusan ribu untuk terapi ke dokter yang baru lulus, atau marah-marah di media sosial. Saya lebih memilih menuangkan segala keresahan ke dalam tulisan. Setidaknya, ini lebih murah daripada membeli obat penenang atau obat nyamuk cair.Sebagian orang meninggalkan jejak dalam bentuk patung, monumen, atau warisan kekayaan yang bisa dinikmati tujuh turunan. Saya? Saya hanya punya unek-unek. Ratusan atau mungkin puluhan ribu kata.
Mungkin saja suatu hari nanti, dunia akan melupakan saya. Nama saya tak akan tertulis di buku sejarah, wajah saya tidak akan terpampang di mata uang. Dan tidak akan ada yang menamai jalan dengan nama saya. Tapi tulisan-tulisan saya? Mereka mungkin akan tetap hidup, mengendap di sudut internet, menunggu untuk ditemukan oleh seseorang yang membutuhkan.
Menulis, mungkin, adalah cara saya mengalahkan kefanaan. Selama ada yang membaca, selama itu juga saya masih ada. Terkadang. Atau sering kali malah. Saya menulis bukan karena saya tahu sesuatu, tetapi karena saya tidak tahu apa-apa.
Ada saat-saat di mana hidup terasa seperti teka-teki yang mustahil dipecahkan. Ketika saya merasa hampa, padahal segalanya baik-baik saja? Wajar-wajar saja. Mengapa saya tetap merasa sendirian meskipun dikelilingi banyak orang? Mengapa saya lebih nyaman berbicara dengan halaman kosong ketimbang dengan manusia muka tembok?
Saya tidak tahu jawabannya apa. Setidaknya sampai saya mulai menulis. Kata-kata yang mengalir dari jemari saya sering kali lebih jujur daripada apa yang saya katakan pada diri sendiri. Kadang saya baru menyadari apa yang sebenarnya saya rasakan setelah membaca ulang tulisan saya sendiri.
Tulisan ternyata cermin. Saya menulis untuk melihat diri saya yang sebenarnya.
Seorang filsuf pernah berkata, "Manusia berbicara karena mereka ingin didengar." Tetapi masalahnya, tidak semua orang benar-benar mendengarkan.
Berapa kali kita berbicara dengan penuh semangat, hanya untuk disela dengan, "Tapi aku juga pernah..." Berapa kali kita mencoba mengungkapkan isi hati, hanya untuk mendapatkan tanggapan, "Ah, lu lebay!" Atau lebih sinting lagi, "Udah, lupain aja!"
Saya menulis karena tulisan tidak akan memotong pembicaraan saya. Tulisan tidak akan menyela dengan cerita mereka sendiri. Tulisan tidak akan berkata, "Move on, dong!" Ketika saya sedang ingin merayakan kesedihan. Dan kesendirian, tentunya.
Menulis memberi saya kebebasan untuk berbicara tanpa takut diabaikan.
Otak saya ini seperti ponsel murah dengan kapasitas memori terbatas. Saya lupa di mana meletakkan kunci, lupa nama orang yang baru saja dikenalkan, bahkan lupa kenapa saya membuka kulkas padahal jelas-jelas tidak lapar. Dan selalu lupa kalau tidak punya kulkas.
Tetapi ketika saya menulis. Saya menciptakan kenangan yang tidak akan hilang. Saya bisa kembali ke momen-momen tertentu dengan membaca tulisan lama saya. Saya bisa mengingat apa yang saya rasakan saat itu, bahkan ketika ingatan saya sendiri telah mengaburkannya.
Menulis adalah cara saya melawan lupa. Maka kalau kita pikirkan baik-baik, dunia ini adalah tempat yang aneh. Kita lahir tanpa diminta, bekerja sepanjang hidup untuk membayar tagihan yang tak ada habisnya, lalu mati dan dilupakan.
Apa semua ini ada gunanya? Apakah kita hanya sekadar angka dalam statistik? Ataukah ada sesuatu yang lebih besar dari semua ini? Jawabannya. Dengan yakin saya memberi jawaban. Saya tidak tahu. Yang saya tahu, menulis itu membuat absurditas. Ini akan sedikit lebih masuk akal. Setidaknya, jika saya bisa menertawakannya, saya bisa bertahan hidup satu hari lagi.
Nah, jadi. Saya menulis karena saya tidak punya pilihan lain. Jika saya berhenti menulis, saya akan tenggelam dalam kebisingan dunia, dalam absurditas hidup, dalam lubang hitam ketidakjelasan.
Menulis adalah satu-satunya cara saya memahami dunia, memahami diri sendiri, dan meninggalkan sesuatu yang bisa bertahan lebih lama dari tubuh saya. Minimal itu menurut saya.
Jadi, kenapa saya menulis? Ketika keluarga dan tetangga pada mudik.
Jawabannya sederhana kok. Karena jika tidak, saya akan hilang. Tanpa suara, tanpa jejak dan tanpa arti.
Jakarta, Awal April 2025
*
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal
Hanya ilistrasi. (Gambar: AI). Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...
-
Selamat Pagi Kusibak kabut yang menggantung. Kutatap pagi yang redup. Lembapnya terasa segar di sela rintik yang malu-malu. ...
-
Tulisan ini saya buat ketika saya menjadi anggota dari sebuah grup WA yang admin-nya secara kurang ajar mendaulat saya untuk menjadi narasum...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.