Rabu, 02 April 2025

Bersyukur Karena Bisa Menulis

Berkat menulis – selain menjadi aktor teater – saya bisa menjadi apa saja dan siapa saja. Tapi kali ini saya hanya ingin bicara tentang menulis. Dengan menulis, bisa menjadi penyair patah hati yang termenung di bawah hujan. Dan besoknya, saya bisa menjadi detektif yang membongkar konspirasi global. Lusa, mungkin saya akan menjadi astronot yang menemukan kehidupan di planet lain, dan menyadari bahwa alien pun punya masalah eksistensial seperti manusia. * Bersyukur Karena Bisa Menulis Antara Imajinasi, Pikiran, dan Kewarasan Yoss Prabu Menulis adalah berkah yang sering kali diremehkan. Mungkin karena tidak semua orang merasa perlu menulis, atau mungkin karena mereka tidak sadar bahwa hidup ini, pada dasarnya, adalah rangkaian tulisan. Setiap keputusan adalah paragraf. Setiap perasaan adalah metafora. Dan setiap kesalahan, ah...., itu hanya typo. Yang kadang bisa dihapus, kadang harus diterima dengan pasrah. Saya bersyukur bisa menulis, bukan hanya karena bisa merangkai kata, tetapi karena menulis membuatku berpikir. Jika saya tidak menulis, saya mungkin sudah jadi orang yang asal bicara tanpa refleksi. Bayangkan dunia tanpa tulisan, pasti penuh dengan orang-orang yang berbicara tanpa jeda, seperti mesin pencari yang error dan terus memuntahkan hasil tanpa bisa disaring. Ngeri, kan? Lebih dari itu, menulis memberiku ruang untuk berimajinasi. Dunia ini, dengan segala absurditas dan ketidakpastiannya, sering kali terasa seperti novel buruk yang penulisnya lupa menyusun alur dengan baik. Tapi dengan menulis, saya bisa menciptakan semesta kecil tempat saya punya kendali penuh. Jika dunia nyata terlalu keras, saya bisa menciptakan dunia yang lebih lembut. Jika kenyataan terlalu membosankan, saya bisa menambahkan ledakan, pertempuran epik, atau percakapan filosofis antara kucing dan semut tentang makna kehidupan. Menulis dan berpikir. Antara kebijaksanaan dan kegilaan. Banyak yang mengira berpikir itu mudah. Tapi seandainya mereka tahu. Berpikir yang sebenarnya itu sulit, melelahkan, dan sering kali menyakitkan. Karena menulis memaksa otak untuk berpikir secara sistematis. Tulisan yang buruk sering kali lahir dari pikiran yang berantakan, dan sebaliknya, pikiran yang jernih melahirkan tulisan yang tajam. Saya tidak selalu berpikir jernih. Ada hari-hari ketika otak ini seperti lemari yang isinya ditumpahkan begitu saja ke lantai. Berantakan. Kusut. Sulit menemukan apa yang dicari. Tapi dengan menulis membantu saya memilah isi lemari itu, mengurutkannya kembali, dan menemukan pola di tengah kekacauan. Tentu saja, ada risiko lain, berpikir terlalu banyak. Ini jebakan klasik bagi mereka yang suka menulis. Ketika orang lain menikmati hidup dengan sederhana, saya sibuk mempertanyakan segalanya. Mengapa kita harus bekerja delapan jam sehari? Mengapa orang suka sekali minum kopi? Mengapa kucing selalu tampak lebih bijaksana daripada manusia? Kucing dapat menunggu dengan sabar untuk menangkap mangsanya. Bahkan hingga berjam-jam. Ini berarti, mengajarkan kita tentang pentingnya kesabaran dan menunggu waktu yang tepat. Oleh sebab itu, mengapa kita selalu mencari jawaban atas pertanyaan yang tidak bisa dijawab? Karena dengan menulis memberi saya ruang untuk bertanya, tapi juga memberi kesempatan untuk menerima bahwa tidak semua pertanyaan butuh jawaban. Kadang, menuliskan pertanyaan itu sendiri sudah cukup. Lebih dari cukup. Ketika kita berimajinasi. Itu adalah hak istimewa yang tidak dimiliki setiap orang. Saya tidak bisa membayangkan hidup tanpa imajinasi. Atau mungkin bisa, tetapi hidup semacam itu pasti membosankan. Imajinasi adalah hadiah yang sering kali dianggap sepele, seperti WiFi yang cepat atau AC di ruangan panas, baru terasa penting ketika benda-benda itu tidak ada. Berkat menulis, saya bisa menjadi siapa saja. Hari ini saya bisa menjadi penyair patah hati yang termenung di bawah hujan. Besok, saya bisa menjadi detektif yang membongkar konspirasi global. Lusa, mungkin saya akan menjadi astronot yang menemukan kehidupan di planet lain, dan menyadari bahwa alien pun punya masalah eksistensial seperti manusia. Menulis memungkinkan saya untuk mengalami kehidupan lebih dari satu kali. Seorang manusia biasa hanya hidup dalam satu garis waktu. Tapi seorang penulis? Saya bisa hidup di ratusan dunia, dalam ribuan karakter, dengan jutaan kemungkinan. Itu adalah bentuk keabadian yang tidak bisa dibeli dengan uang. Tentu saja, imajinasi juga bisa menjadi beban. Kadang, saya terlalu terjebak dalam dunia yang saya bangun sendiri. Saya pernah begitu larut dalam sebuah cerita hingga lupa bahwa saya harus makan. Juga harus tidur. Saya pernah begitu sibuk mengembangkan karakter hingga lupa bahwa saya sendiri adalah karakter utama dalam kehidupan ini. Tapi bukankah itu harga kecil yang harus dibayar untuk bisa terbang ke dunia yang lebih luas dari kenyataan? Menulis dan kesedihan adalah, romansa yang tidak terhindarkan. Saya tidak tahu siapa yang pertama kali menghubungkan menulis dengan kesedihan, tapi mereka pasti orang yang sangat mengerti. Ada sesuatu tentang menulis yang begitu dekat dengan melankolia. Mungkin karena ketika kita menulis, kita harus jujur. Dan kejujuran, sayangnya, sering kali lebih menyakitkan daripada kebohongan yang nyaman. Menulis adalah cara menghadapi luka tanpa harus menjerit. Saya bisa menuliskan kesedihan tanpa harus menangis. Saya bisa menyelipkan rasa sakit dalam metafora, membuatnya lebih puitis, lebih dapat diterima. Saya bisa membuat duka menjadi seni, kehilangan menjadi puisi, dan kehampaan menjadi cerita yang mungkin bisa menghibur orang lain. Kadang saya bertanya-tanya, apakah penulis memang ditakdirkan untuk sedikit lebih sedih dari orang lain? Atau mungkin kita hanya lebih sadar akan kesedihan itu karena kita terlalu banyak mengamati, terlalu banyak menganalisis? Tapi meski begitu, saya bersyukur. Karena dengan menulis, kesedihan tidak hanya menjadi beban, tetapi juga sumber kekuatan.
Lalu cara elegan untuk tetap waras yaitu dengan cara sarkasme. Dunia ini absurd, dan terkadang satu-satunya cara untuk menghadapi absurditas adalah dengan tertawa. Tapi tidak semua tawa diciptakan sama. Ada tawa bahagia, ada tawa getir, dan ada sarkasme, senjata utama bagi mereka yang terlalu sadar akan betapa kacaunya dunia ini. Menulis memberiku kebebasan untuk mengolok-olok dunia tanpa harus berteriak di jalan. Jika sesuatu terasa bodoh, saya bisa menuliskannya dengan cara yang lebih tajam daripada sekadar keluhan biasa. Saya bisa menyisipkan kritik dalam humor, menyamarkan amarah dalam ironi. Sarkasme adalah bentuk ketahanan. Jika saya tidak bisa mengubah dunia, setidaknya saya bisa menulis tentang betapa absurdnya dunia ini. Dan sering kali, itu sudah cukup. Bersyukur karena menulis adalah jalan menuju kewarasan. Pada akhirnya, saya bersyukur karena menulis memberi saya cara untuk berpikir, berimajinasi, merasa, dan bertahan. Tanpa menulis, saya mungkin sudah tenggelam dalam arus kehidupan yang serba cepat dan dangkal. Tapi dengan menulis, saya bisa berhenti sejenak, merenung, dan memberi makna pada setiap pengalaman. Tanpa menulis, saya mungkin sudah kewalahan dengan absurditas dunia. Tapi dengan menulis, saya bisa menertawakannya, dan itu lebih baik daripada menyerah. Jadi, saya akan terus menulis. Bukan hanya karena saya suka, tetapi karena saya butuh. Karena dalam kata-kata, saya menemukan diri. Dan itu adalah sesuatu yang patut disyukuri. * Jakarta, 02 April 2025.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.

Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal

  Hanya ilistrasi. (Gambar: AI).  Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...