Di Selasar kita bisa berdiskusi. Ramai-ramai atau sendiri. Boleh. Sambil minum kopi, merenung atau hanya sekedar berimajinasi, juga boleh. Atau sambil bermimpi dan masturbasi. Pun boleh-boleh saja. Terserah! Silakan saja. Suka-suka.
Jumat, 04 April 2025
Krisis Ekonomi: Sebuah Kisah Cinta yang Gagal
Hanya ilustrasi. (Gambar: AI).
Krisis ekonomi. Seperti kisah cinta yang pahit. Krisis ekonomi menyisakan pelajaran. Ia membuat kita jadi lebih kuat. Atau lebih makin akrab dengan pinjol. Pinjaman online. Ia membuat kita sadar bahwa bahagia tidak harus mahal – cukup lancar beli pulsa listrik.
Jadi, apa itu krisis ekonomi?
Krisis Ekonomi: Sebuah Kisah Cinta yang Gagal
Yoss Prabu
Krisis ekonomi itu seperti mantan yang tiba-tiba datang pas hidup kita lagi stabil-stabilnya. Dulu, kita hidup bahagia. Gaji cukup, cicilan lancar, ngopi masih pakai susu, bukan air mata. Tapi tiba-tiba dia datang – krisis – dan semua berubah. Harga cabai naik, isi dompet menurun, dan ATM cuma jadi tempat nostalgia.
Secara teknis, kata para ekonom yang (konon) bijak itu, krisis ekonomi adalah situasi di mana perekonomian suatu negara mengalami kontraksi tajam. Tapi secara emosional? Itu saat kamu nangis di kasur karena tahu besok gajian, tapi semua sudah habis buat bayar utang yang kamu buat pas merasa hidupmu stabil.
Krisis ekonomi itu romantis, karena di situlah kita benar-benar belajar arti cinta sejati. Apakah pasanganmu masih bersedia makan mi instan goreng tiga kali sehari sambil pura-pura bilang, “Aku suka kok yang begini, lebih sederhana.” Atau malah bilang, “Kayaknya kita butuh jeda,” lalu pergi bersama seseorang yang masih bisa ngajak makan Spaghetti Carbonara. Di retoran mahal.
Tapi jangan salah. Krisis juga mengajarkan filosofi hidup bahwa, angka di rekening bukanlah segalanya, meskipun segalanya butuh angka di rekening. Ia menunjukkan bahwa roda ekonomi itu berputar, tapi seringkali remnya blong dan kita semua jadi penumpang ojek online yang salah milih jalur.
Dan di tengah kehancuran ini, kita bisa melankolis bersama. Duduk di teras rumah, minum kopi sachet, memikirkan betapa dulu kita menolak diskon 20%, sekarang rebutan telur diskon 5%. Kita jadi puitis, "Apakah hidup ini tentang bertahan atau menyerah pada cicilan?"
Namun tak lengkap jika tanpa sarkasme. Para elite duduk manis di talkshow, bilang, “Masyarakat harus lebih bijak dalam mengelola keuangan.” Padahal mereka sendiri punya lima kartu kredit dan gaji bulanan setara harga rumah subsidi. Kita yang cuma bisa beli nasi di warteg tanpa lauk, dianggap tidak produktif.
“Maaf, Pak. Kami tidak malas, kami hanya realistis. Kalau hidup ini semacam game, level kami sedang ‘hard mode’.” Mode sulit.
Lalu muncullah solusi dari para pemegang kuasa: “Ayo, kita galakkan UMKM.” Padahal modal kita tinggal nekat plus sepiring nasi. Itu pun nyaris basi. Mereka bilang, “Krisis adalah peluang!” Oke, Pak, peluang untuk apa? Menjual ginjal?
Namun pada akhirnya, seperti kisah cinta yang pahit, krisis ekonomi menyisakan pelajaran. Ia membuat kita jadi lebih kuat. Atau lebih mahir akrab dengan pinjol. Pinjaman online. Ia membuat kita sadar bahwa bahagia tidak harus mahal – cukup lancar beli pulsa listrik.
Jadi, apa itu krisis ekonomi?
Ia adalah kombinasi dari sinetron, novel filsafat, acara komedi, dan puisi patah hati. Yang disajikan dalam satu paket hemat tanpa garansi. Sebuah tragedi kolektif yang kita tertawakan bersama, karena kalau tidak ditertawakan, kita akan menangis terlalu keras dan takutnya tetangga mengira kita terkena PHK. Atau bertikai lagi dengan debt collector.
Dan seperti mantan yang – sayangnya – selalu punya kemungkinan kembali, krisis akan datang lagi. Kita cuma bisa siap-siap. Dengan humor, cinta, dan kopi sachet. Karena hidup tetap harus dijalani, meski dengan sisa saldo lima ribu rupiah dan semangat yang diutang. Namun jangan salah sangka, krisis ekonomi itu bukan hanya tentang uang. Ini tentang identitas, martabat, dan – jika boleh sedikit dramatis – eksistensi. Karena di masa krisis, kita mulai mempertanyakan segalanya. Bukan cuma harga beras, tapi juga harga diri.
Misalnya, dulu kamu adalah seorang profesional bergaji tetap. Sekarang kamu profesional juga – profesional dalam menyiasati hidup dengan seratus ribu seminggu. Dulu kamu bangga bisa traktir teman, sekarang kamu pura-pura sibuk pas diajak nongkrong. Dulu kamu heran kenapa orang suka promo cashback. Sekarang kamu panik kalau cashback-nya belum masuk lima menit setelah bayar.
Tapi jangan khawatir, kamu tidak sendirian. Ini krisis nasional, bahkan kadang global. Jadi penderitaanmu ini bukan cuma milikmu sendiri. Kita semua sedang main dalam film yang sama. Genrenya tragikomedi, dengan sutradaranya entah siapa, dan skripnya berubah-ubah tergantung kebijakan terbaru.
Tiba-tiba harga BBM naik. “Untuk kestabilan ekonomi,” begitu kata beliau yang tercinta.
Tapi entah ekonomi siapa yang stabil. Pasti bukan ekonomi tukang sayur dan penjual gorengan gerobak, yang harus mikir dua kali buat libur dulu sehari. Bukan juga mak-mak yang mulai mikir-mikir antara beli beras atau beli susu anak. Kita semua mendadak jadi ahli ekonomi dadakan. Tahu inflasi, tahu resesi, tahu depresiasi. Bahkan tahu kata “hedonis” setelah sempat viral gara-gara pejabat pamer kekayaan.
Dan dari semua itu, ada sisi filosofis yang menyentuh. Krisis membuat kita belajar bahwa manusia itu adaptif. Hari ini kamu menangisi dompet yang kosong, besok kamu jualan risoles online dengan caption. “Risoles cinta, isi harapan.” Kamu jadi penyair, pemasar, dan kurir dalam satu tubuh. Apakah ini kebangkitan jiwa wirausahawan? Bisa jadi. Atau mungkin hanya bentuk kepanikan yang dibungkus kreativitas.
Tentu saja, dalam semua keterbatasan ini, kita harus tetap menjaga semangat. Minimal semangat pura-pura bahagia di Instagram. Foto kopi, kasih filter digital, dan caption, “Slowlife, grateful heart.” Padahal baru habis pulsa dan ditolak pinjaman online. Tapi begitulah manusia – makhluk yang bisa tertawa di tengah krisis, meski kadang tawanya mirip tangisan yang disensor.
Krisis ekonomi juga membuat kita lebih religius – bukan karena tiba-tiba jadi saleh, tapi karena kita banyak berdoa. Berdoa waktu nunggu transferan, berdoa semoga token listrik cukup sampai besok, berdoa semoga bos gak marah walau kerjaan molor karena stres mikirin cicilan. Iman naik turun seperti grafik saham, tapi setidaknya kita ingat bahwa ada kekuatan yang lebih besar dari bunga bank.
Dalam dunia yang makin keras ini, cinta juga ikut diuji. Bukan cinta ala drama Korea, tapi cinta realita. Cinta yang diuji bukan lewat pelukan di bawah hujan deras, tapi lewat diskusi tentang prioritas. Beli gas subsidi dulu atau bayar sekolah anak? Cinta yang muncul saat dua orang muda saling berbagi nasi warteg satu bungkus, dan tetap bilang, “Kita pasti bisa lewati ini bareng-bareng.” Kalau itu bukan romantis, saya tidak tahu apa yang lebih romantis ketimbang berbagi orek tempe dkasih kecap.
Dan di balik semua kegetiran ini, ada pelajaran sarkastik yang bisa kita petik bahwa, sering kali yang duduk paling empuk justru yang paling sedikit merasakan dampaknya. Mereka membuat kebijakan dari balik kaca gedung tinggi, sementara rakyat menambal atap rumahnya yang bocor pakai spanduk bekas caleg yang tak terpilih. Mereka bicara tentang stimulus ekonomi, tapi kita belum bisa beli stimulus berupa gorengan tahu isi satu potong.
Krisis ekonomi ini juga semacam pemikiran ulang untuk sesuatu yang tidak realistis. Kita sadar bahwa selama ini, kita terlalu terlena dengan kenyamanan. Kita pikir gaji bulanan adalah jaminan masa depan. Kita pikir asuransi bisa menyelamatkan segalanya. Tapi ternyata tidak. Ternyata, hidup bisa berubah drastis hanya karena satu keputusan global yang bahkan tidak kamu tahu kapan dibuatnya. Dan di titik itu, kamu belajar merendah. Bukan karena ingin, tapi karena harus.
Tapi inilah keindahan dari suatu kehancuran. Ia memberi ruang untuk membangun ulang. Kita mulai menghitung ulang, memilah ulang, memulai ulang. Kita belajar bahwa tidak semua yang hilang itu buruk. Kadang, kehilangan membuat kita lebih hidup. Seperti tanaman yang harus dipangkas dulu agar tumbuh lebih kuat.
Maka jangan heran jika tiba-tiba banyak orang mulai bertani hidroponik, jualan kue kering, atau buka jasa desain undangan digital. Bukan karena mereka mendadak visioner, tapi karena hidup memaksa mereka jadi kreatif. Dan justru di situ muncul potensi-potensi baru. Karena seperti kata pepatah, manusia tidak tahu seberapa kuat dirinya, sampai dipaksa kuat.
Dan kalau krisis ini adalah ujian, maka humor adalah cara kita mencurangi soal-soalnya. Dengan tertawa, kita curi sedikit kebahagiaan dari kegilaan ini. Dengan bercanda, kita tunda sejenak ketakutan yang diam-diam menggigit dari belakang. Kita kumpul, ngopi, bahas betapa konyolnya nasib, dan dari situ kita merasa tidak sendirian.
Akhirnya, krisis ekonomi bukan hanya tentang uang. Ia adalah cermin yang memantulkan siapa kita sebenarnya. Ia menunjukkan siapa yang benar-benar peduli, siapa yang pura-pura, siapa yang berani bertahan, dan siapa yang hanya bisa berkoar di depan kamera. Ia membongkar semua lapisan kemewahan palsu, dan meninggalkan kita dengan esensi, bertahan hidup, saling bantu, dan tidak lupa tertawa meskipun usus sudah menggeliat karena lapar.
Jadi, bila nanti krisis datang lagi – dan itu akan – kita mungkin tidak lebih siap secara finansial. Dan pasti juga lebih kuat secara mental. Karena kita sudah pernah melewatinya, dan tahu rasanya. Dan kalaupun harus jatuh lagi, setidaknya kita jatuh dengan bergaya. Sambil melucu, sambil mencinta, sambil merenung dan sambil tetap mencari promo gratis ongkir.
Sebab dalam dunia yang terus berubah dan penuh ketidakpastian ini, satu hal yang pasti, selama masih ada tawa dan cinta, kita tidak pernah benar-benar kalah.
*
Jakarta, 04 April 2025.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal
Hanya ilistrasi. (Gambar: AI). Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...
-
Selamat Pagi Kusibak kabut yang menggantung. Kutatap pagi yang redup. Lembapnya terasa segar di sela rintik yang malu-malu. ...
-
Tulisan ini saya buat ketika saya menjadi anggota dari sebuah grup WA yang admin-nya secara kurang ajar mendaulat saya untuk menjadi narasum...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.