Di Selasar kita bisa berdiskusi. Ramai-ramai atau sendiri. Boleh. Sambil minum kopi, merenung atau hanya sekedar berimajinasi, juga boleh. Atau sambil bermimpi dan masturbasi. Pun boleh-boleh saja. Terserah! Silakan saja. Suka-suka.
Minggu, 06 April 2025
Kita Masih di Sini, Jakarta
Hanya ilustrasi. Gambar: AI).
Kita Masih di Sini, Jakarta
Oleh: Seseorang yang Masih Mencintai Meski Anda Sulit Dipercaya
Yoss Prabu
Jakarta
Kau tidak pernah benar-benar tidur
Tapi kami, pasangan muda dengan dompet tipis dengan harapan tebal
Berkali-kali memejamkan mata sambil pura-pura tak takut
Pada harga minyak goreng yang naik mimbar seperti iman waktu Ramadhan,
Lalu merosot turun seperti moral pasca-THR
Ludes.
Kau tahu
Lebaran kali ini saya tidak pulang
Bukan karena tak rindu mertua
Tapi karena tiket kereta lebih mahal dari harga sepatu nikahan kita dulu
Jadi kami rayakan Idulfitri di kamar kontrakan sempit
Hanya ada tikar karpet
Itu pun robek
Kami makan ketupat
Dan opor ayam bumbu instan
Saling suap
Sambil tertawa
Menertawakan nasib yang sedang iseng
"Kita nggak punya apa-apa, ya," katamu
Aku jawab, "Kita punya satu sama lain."
Lalu kita diam.
Karena tahu kalimat itu manis
Tapi tak bisa dijadikan bayar cicilan kontrakan
Dan token listrik
Di luar, Jakarta masih dan tetap ribut
Motor meraung. Mall berdandan
Orang-orang kembali dari mudik
Berdesakkan
Membawa kabar baik, dan keponakan perempuan
Untuk dicarikan pekerjaan
Menjadi ART, begitu bahasa kerennya
Tapi tetap saja jongos. Babu
Atau sekedar tukang cuci baju dan menyetrika
Kami duduk di trotoar
Makan gorengan bakwan, plus cabai rawit. Berdua
Seorang sparuh
Setelah itu batuk-batuk, keselek
Tersedak. Minum air mineral
Lancar kembali. Walau sementara
Bukan demi estetika
Tapi strategi bertahan hidup
Ada balon hati yang melayang di dekat kita
Penjualnya senyum lebar meski matanya lelah
“Kalian cocok,” katanya.
Kami tertawa, lalu diam lagi
Karena tahu
Cinta bisa menyatukan
Tapi sebenarnya
Nasi bungkuslah yang membuat kenyang
Aku mencintaimu dalam bentuk paling sederhana
Ketika kita menghitung uang receh di dompet bersama
Dan ketika kamu rela diajak berjalan kaki bareng
Lima kilometer
Demi untuk makan seblak di kaki lima
Gurih, tapi pedasnya minta ampun
Ketika kita menyusun rencana masa depan
Dari kertas bekas dan harapan setipis kertas tisu
Dan Jakarta
Kau tetap menyebalkan seperti biasa
Tapi di sudut-sudutmu yang panas dan sesak
Kami tetap menyusun mimpi
Dengan dahi berpeluh
Tapi kami percaya
Meski kota ini telah memeras tenaga dan akal sehat kami
Cinta kami bisa jadi satu-satunya yang inflasi tak mampu sentuh
Malam ini
Kita tidak usyah dulu nonton dangdut
Para personilnya masih di kampung halaman
Tapi toh, kita tetap punya langit Jakarta
Dan kisah-kisah absurd yang terus menggelebung seperti utang
“Kita bakal selamat tidak, ya?”
Tanyamu, separuh bercanda
Aku jawab, spontan
“Kalau kamu masih di sampingku, meski Jakarta semacet apa pun
Aku tetap mau jalan bareng kamu.”
Dan mungkin
Itu satu-satunya hal romantis
Yang masih gratis
Di kota ini
Kita masih di sini, Jakarta
Jakarta, 06 April 2025.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal
Hanya ilistrasi. (Gambar: AI). Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...
-
Selamat Pagi Kusibak kabut yang menggantung. Kutatap pagi yang redup. Lembapnya terasa segar di sela rintik yang malu-malu. ...
-
Tulisan ini saya buat ketika saya menjadi anggota dari sebuah grup WA yang admin-nya secara kurang ajar mendaulat saya untuk menjadi narasum...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.