Di Selasar kita bisa berdiskusi. Ramai-ramai atau sendiri. Boleh. Sambil minum kopi, merenung atau hanya sekedar berimajinasi, juga boleh. Atau sambil bermimpi dan masturbasi. Pun boleh-boleh saja. Terserah! Silakan saja. Suka-suka.
Senin, 07 April 2025
Jakarta Usai Lebaran
Di tengah absurditas ini, ada romantika yang tak bisa diabaikan. Lihatlah pasangan pasangan paruh baya di sebuah taman. Mereka duduk berdampingan, makan gorengan bakwan dan es krim. Bukan karena biar dibilang romantis, tapi karena lagi hemat saja. Si nenek bilang, “Nggak apa-apa kita miskin, yang penting kita masih saling memiliki.” Si kakek menunduk, berpikir keras: “Kalau saya jual handphone, saya bisa bayar sewa kontrakan yang sudah tiga bulan nunggak...” Romantis? Tentu. Juga tragis.
Jakarta Usai Lebaran
Yoss Prabu
Kalau menurut tetangga saya. Seorang pemuda tanggung. Jakarta usai lebaran itu seperti kehilangan mantan yang baru saja putus. Hening, kosong, dan penuh kenangan yang berserakan di jalan tol. Bedanya, mantan mungkin masih punya harapan balikan. Jakarta? Dia lebih mirip korban ghosting berjamaah. Ditinggal warganya mudik tanpa pamit, lalu mendadak ditabrak realitas bernama “krisis ekonomi” begitu semua orang kembali balik.
Pada hari-hari usai Idulfitri 2025, langit Jakarta mendadak terlihat lebih biru, bukan karena kualitas udara membaik, tapi karena yang biasanya bikin macet sedang menikmati ketupat di kampung halaman. Jalan Sudirman lengang. Thamrin sepi. Apa lagi Daan Mogot. Motor ojek online tidak lagi menyerbu zebra cross seperti pasukan kavaleri. Bahkan burung-burung – yang biasanya tersesat di antara bunyi klakson dan polusi – kini tampak berani mampir sebentar di kabel listrik. Mereka pun mungkin bertanya-tanya, "Apa Jakarta sudah pindah ke dimensi lain?"
Tapi tentu, semua itu semu. Seperti diskon baju lebaran yang katanya 70% padahal dinaikkan dulu 80%. Sebab begitu hari keempat lebaran lewat, Jakarta mulai menunjukkan gejala sakau. Manusia-manusia urban kembali menyerbu dengan semangat reformasi. Koper, kantong plastik, dan wajah penuh harapan yang disokong utang pinjol.
Dan di sinilah paradoks Jakarta dimulai.
Krisis ekonomi memang bukan tamu baru di negeri ini. Tapi baru pada 2025 ini, ia datang seperti mantan yang kepalanya dipenuhi dendam. Menyakitkan, tak tahu malu, dan tiba-tiba minta balikan. Harga-harga naik seperti ambisi politisi pascakampanye. Beras jadi barang mewah, minyak goreng masuk daftar mimpi, dan BBM? Jangan ditanya. Lebih cepat naik daripada doa waktu tarawih.
Warga Jakarta pun kembali dari kampung dengan dua hal baru, rasa kenyang dan kenyataan pahit. Yang dulu pamit kerja di “start-up unicorn” sekarang jadi admin freelance toko online. Yang mudik pakai Alphard, baliknya naik bus sambil mikir cara jual Alphard-nya. Ekonomi kolaps, tapi ekspektasi tetap utuh. Ironis, memang. Tapi bukankah ironi adalah bahasa ibu dari kota ini?
Di sudut warteg, obrolan berubah dari “THR kamu berapa?” menjadi “Gaji kamu masih utuh nggak, Bro?” Para karyawan yang dulu bangga pakai jas kini merenung di halte, menunggu Transjakarta dengan mata sembab, entah karena polusi atau cicilan. Atau kelilipan debu.
Tapi tunggu. Di tengah absurditas ini, ada romantika yang tak bisa diabaikan.
Lihatlah pasangan pasangan paruh baya di sebuah taman. Mereka duduk berdampingan, makan gorengan bakwan dan es krim. Bukan karena biar dibilang romantis, tapi karena lagi hemat saja. Si nenek bilang, “Nggak apa-apa kita miskin, yang penting kita masih saling memiliki.” Si kakek menunduk, berpikir keras: “Kalau saya jual handphone, saya bisa bayar sewa kontrakan yang sudah tiga bulan nunggak...”
Romantis? Tentu. Juga tragis. Tapi bukankah cinta paling tulus lahir dari perut kosong dan utang yang tak kunjung lunas?
Ada juga bapak tua penjual balon di perempatan dekat mall. Setiap orang lewat, ia tawarkan balon bentuk hati. “Buat anaknya, Mas. Atau buat pacarnya... atau buat dirinya sendiri, biar ingat rasanya punya harapan.” Kata-katanya terdengar seperti puisi penyair kondang yang dibungkus plastik warna-warni. Jakarta memang sadis, tapi orang-orang di dalamnya, punya cara absurd untuk tetap terlihat manusiawi.
Dan di atas itu semua, Jakarta tetap Jakarta. Kota yang pura-pura kuat, padahal sudah renta dan lelah, sejak 1998.
Jakarta pascalebaran itu seperti kamar kontrakan seorang pemuda yang habis pesta. Banyak sisa, penuh tagihan, tapi harus tetap kelihatan “oke” kalau ada tamu datang. Pemerintah pasang baliho. “Ekonomi Bangkit, Warga Kuat!” Padahal di belakangnya, ada antrean orang mendaftar bantuan sosial yang makin tipis dan makin aneh syaratnya. “Harus punya KTP DKI, bersertifikat vaksin tahap 17, dan pernah jadi korban ghosting minimal dua kali.” Gelo, kan?
Di kampus-kampus, mahasiswa diskusi tentang “#IndonesiaGelap.” Di warung-warung kopi, para freelancer ngetik proposal sambil ngemis hotspot sama temannya yang langsung dijawab sambil mendengus, “Paketan gua juga udah abis.” Di ruang keluarga, orang tua berdoa agar anaknya tak lagi minta kiriman uang, bulan ini. Semua berjuang, semua bertahan, dengan cara masing-masing.
Jakarta mungkin tidak menyediakan banyak jawaban. Tapi ia selalu penuh pertanyaan: Mengapa kota ini tak pernah benar-benar tidur? Mengapa kita semua, meski tahu ini gila, tetap mencintainya.
Karena Jakarta adalah kekasih yang menyebalkan tapi tak tergantikan. Dia membuat siapa saja jadi lelah, tapi tetap harus pulang kepadanya. Ia mencuri waktu, uang, bahkan akal sehat. Tapi tetap dipeluk setiap malam sambil berharap, “Besok, mungkin akan lebih baik.” Meski tahu, besok kemungkinan besar hanya versi lebih mahal dari hari ini.
Dan di antara kebisingan, keluhan, dan cicilan, Jakarta menyimpan satu hal yang membuat semua orang tetap bertahan, harapan. Harapan bahwa gaji atau keuntungan – bagi pedagang – akan cukup. Harapan bahwa Satpol PP tak lagi galak. Harapan bahwa cinta tetap bisa tumbuh meski hanya punya motor second dan nasi sisa kemarin.
Jakarta tak pernah menjanjikan kebahagiaan. Tapi ia selalu menawarkan kemungkinan. Dan itu sudah cukup.
Kini malam kembali datang. Langit senja Jakarta menghitam, bukan karena akan hujan, tapi juga karena asap dari sepuluh juta kendaraan yang lagi-lagi kembali memadati jalan. Tapi di sudut warteg, ada tawa. Di atas flyover, ada peluk. Di halte busway, ada remaja saling genggam tangan sambil berbagi earphone.
Dan kamu tahu, di tengah semua kegilaan ini, hidup terus berjalan.
Jakarta setelah lebaran bukanlah tentang apa yang hilang, tapi tentang bagaimana kita tetap bertahan dengan apa yang ada. Dengan lelucon sarkas, cinta dan lawakan receh, dan mimpi absurd yang tetap menyala meski obor ekonomi makin redup.
Karena begitulah Jakarta.
Ia mungkin tak punya ruang untuk bernapas, tapi ia selalu punya tempat untuk yang tak pernah menyerah.
*
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal
Hanya ilistrasi. (Gambar: AI). Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...
-
Selamat Pagi Kusibak kabut yang menggantung. Kutatap pagi yang redup. Lembapnya terasa segar di sela rintik yang malu-malu. ...
-
Tulisan ini saya buat ketika saya menjadi anggota dari sebuah grup WA yang admin-nya secara kurang ajar mendaulat saya untuk menjadi narasum...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.