Jumat, 02 Mei 2025

Belajar dari Layar Monitor

Hanya ilustrasi. (Gambar: AI). Hari Pendidikan Nasional seharusnya jadi hari merenung. Bukan sekadar mengenang Ki Hadjar Dewantara sebagai nama jalan atau sekolah. Tapi memahami gagasannya bahwa, pendidikan adalah pembebasan, bukan penjinakan. Ia bukan semata-mata memasukkan anak ke dalam kotak-kotak nilai, tapi mengajak mereka berpikir, meragukan, mencari tahu. Belajar dari Layar Monitor Oleh: Yoss Prabu Hari Pendidikan Nasional. Hari yang biasanya dirayakan dengan upacara, pidato, dan seragam rapi. Tapi mari kita akui saja, pendidikan hari ini tak lagi berbaris di lapangan, melainkan berjejer di layar-layar 6 inci yang bercahaya sepanjang malam. Di era digital ini, pendidikan tak lagi seharusnya berkutat di ruang kelas, tapi juga di ruang kesadaran. Kita hidup di zaman, ketika anak-anak bisa lebih cepat mengetik “cara menjadi jutawan dalam semalam” daripada menyebutkan sila kelima Pancasila. Di mana algoritma lebih dipercaya daripada guru, dan notifikasi lebih cepat ditanggapi daripada nasihat orang tua. Ah, dunia yang canggih tapi kehilangan rasa. Pendidikan kita sedang megap-megap di tengah lautan digital, memakai pelampung dari abad lalu. “Belajar” kini sudah jadi kata yang ambigu. Dulu berarti membuka buku, mendengar guru, menghafal. Sekarang? Bisa berarti menonton video kucing, scroll TikTok motivasi sambil makan mi instan, atau membuka e-book sambil main Mobile Legends. Semua katanya demi “edukasi.” Ironis, bukan? Kita lebih tahu jumlah subscriber YouTuber favorit daripada jumlah provinsi di Indonesia. Tapi jangan salah. Ini bukan soal menyalahkan generasi. Ini soal sistem yang terlalu lamban menyesuaikan langkah. Pendidikan kita sering seperti printer jadul yang dipaksa mencetak file zaman AI, berbunyi nyaring, panas, dan akhirnya kertasnya macet. Hari Pendidikan Nasional seharusnya jadi hari merenung. Bukan sekadar mengenang Ki Hadjar Dewantara sebagai nama jalan atau sekolah. Tapi memahami gagasannya bahwa, pendidikan adalah pembebasan, bukan penjinakan. Ia bukan semata-mata memasukkan anak ke dalam kotak-kotak nilai, tapi mengajak mereka berpikir, meragukan, mencari tahu. Namun kini, pendidikan lebih mirip mesin fotokopi. Kreativitas disalin, pertanyaan dibatasi, dan keberanian dipangkas demi nilai sempurna. Kita terjebak pada obsesi ranking dan akreditasi. Tapi lupa bertanya, “Apa gunanya semua itu jika anak-anak tak pernah diajarkan mencintai proses mencari?” Sementara itu, dunia luar terus melaju. Artificial Intelligence menulis puisi, menggambar lukisan, bahkan menggantikan pekerja. Kita ternganga, tapi kurikulum masih tertinggal dua update. Di sinilah pertanyaan penting menggantung di langit-langit kelas. Masih relevankah pendidikan seperti ini? Jawabannya. Masih, tapi harus berubah. Karena sejatinya, pendidikan bukan soal teknologi apa yang dipakai, tapi nilai apa yang diajarkan. Bukan soal kecanggihan alat, tapi kedalaman makna. Bahkan di era digital sekali pun, kita tetap butuh diajarkan cara menjadi manusia. Bukan hanya manusia yang bisa coding, tapi juga bisa peduli. Bukan hanya yang cepat membaca data, tapi juga lambat menyakiti sesama. Bukan hanya pintar menjawab soal, tapi juga berani mempertanyakan ketidakadilan. Pendidikan digital bukan akhir dari makna, tapi tantangan baru untuk menyemai makna di tempat yang tak kasat mata. Mungkin guru kini tak selalu berdiri di depan kelas, tapi hadir dalam video daring, dalam podcast inspiratif, dalam forum diskusi digital. Mungkin murid tak lagi duduk di bangku kayu, tapi rebahan di kasur dengan headset menyala. Tapi jiwa pembelajaran tetap bisa tumbuh, jika disirami dengan nilai yang benar. Hari Pendidikan Nasional adalah pengingat bahwa belajar bukan soal siapa tercepat menyelesaikan soal, tapi siapa paling tulus menyelami hidup. Pendidikan bukan soal mencetak robot pekerja, tapi menumbuhkan manusia pemikir. Dan di tengah dunia digital yang serba instan, barangkali tugas terpenting pendidikan hari ini adalah mengajarkan cara untuk berhenti sejenak, membaca, merenung, dan tetap merasa. Karena pada akhirnya, di balik semua jaringan, wifi, dan kecanggihan, kita tetap manusia yang rapuh, yang butuh arahan, bimbingan, dan cahaya. Dan semoga, cahaya itu masih bisa lahir dari dunia yang kita sebut: pendidikan. Selamat Hari Pendidikan Nasional. Semoga kita tidak hanya cerdas, tapi juga sadar. Sadar bukan sekadar melek literasi digital atau tahu cara menjawab soal-soal sulit. Sadar berarti mengenal diri sendiri, tahu arah hidup, dan mengerti bahwa ilmu bukan sekadar alat untuk mengejar gelar, tapi untuk memperbaiki dunia. Sadar adalah kesadaran moral, sosial, dan spiritual. Bahwa, kepintaran tanpa empati bisa menjelma menjadi kejahatan yang halus, dan teknologi tanpa hati hanya akan menciptakan kesepian yang canggih. Sadar artinya, tahu kapan harus bertanya, bukan hanya menjawab. Tahu bahwa manusia bukan hanya diukur dari sekadar ranking, tapi dari bagaimana ia memperlakukan sesama. Tahu bahwa pendidikan bukan tujuan akhir, tapi jalan panjang menuju kemanusiaan yang utuh. Selamat Hari Pendidikan Nasional. Semoga kita tidak hanya cerdas, tapi juga sadar. Sadar di sini bukan sekadar melek literasi digital atau tahu cara menjawab soal-soal sulit. Sadar berarti mengenal diri sendiri, tahu arah hidup, dan mengerti bahwa ilmu bukan sekadar alat untuk mengejar gelar, tapi untuk memperbaiki dunia. Sadar adalah kesadaran moral, sosial, dan spiritual bahwa, kepintaran tanpa empati bisa menjelma menjadi kejahatan yang halus, dan teknologi tanpa hati hanya akan menciptakan kesepian yang canggih. Sadar artinya tahu kapan harus bertanya, bukan hanya menjawab. Tahu bahwa manusia bukan diukur dari ranking, tapi dari bagaimana ia memperlakukan sesama. Tahu bahwa pendidikan bukan tujuan akhir, tapi jalan panjang menuju kemanusiaan yang utuh. Ilustrasinya, barangkal seperti ini. Bayangkan seorang anak di pelosok desa, yang tiap hari harus berjalan 3 kilometer untuk mencapai sekolah. Sepatunya sobek, bukunya bekas, tapi matanya penuh cahaya. Ia belajar bukan untuk nilai, tapi karena ia sadar, pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar dari kemiskinan, satu-satunya jembatan menuju masa depan. Lalu bandingkan dengan anak di kota besar, yang punya tablet mahal, internet cepat, tapi enggan membuka buku karena menganggap belajar itu beban, bukan anugerah. Yang satu mungkin tak punya fasilitas, tapi punya kesadaran. Yang lain punya segalanya, tapi tak sadar kenapa ia belajar. Maka, di Hari Pendidikan Nasional ini, mari bertanya. Apakah kita hanya menjadi manusia yang pintar, atau sudah menjadi manusia yang sadar? Karena yang sadar akan terus belajar. Bukan untuk sebuah nilai. Yapi untuk sejuta makna. * Jakarta, 02 Mei 2025.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.

Bab baru: Kehilangan potongan kecil dalam hidup.

Bab baru: Kehilangan potongan-potongan kecil dalam hidup. 2026 ini serba berat. hilang perasaan, hilang setengah pemikiran, hilang jati dan ...