Minggu, 04 Mei 2025

Kopi yang Telalu Pahit

Hanya ilustrasi. (Gambar: AI). Gerundelan Bang Yoss Kebebasan pers bukan cuma soal boleh nulis apapun. Ia soal keberanian menyuarakan yang tak berani dikatakan. Soal menulis fakta meski pahit. Soal memilih cinta yang getir daripada kebohongan yang manis. Kopi yang Telalu Pahit Yoss Prabu Selamat Hari Kebebasan Pers. 03 Mei 2025. Kebebasan pers, katanya, adalah oksigen demokrasi. Tapi di negeri ini, oksigennya sering bocor, kadang lewat selang yang disumbat amplop, kadang lewat kepala wartawan yang benjol karena bertanya terlalu kritis. Tapi hei, siapa suruh tanya, "Kenapa anggaran taman kota bisa beli mobil dinas?” Itu pertanyaan tidak puitis, terlalu realis. Tak cocok untuk negeri yang katanya demokratis tapi alergi terhadap kejujuran. Bayangkan, seorang jurnalis menulis fakta, lalu diciduk karena “mengganggu ketertiban umum”. Padahal yang terganggu bukan umum, tapi khusus. Lebih khususon lagi yang duduk di kursi empuk dengan dasi harga lima digit. Ironis, kan? Kebebasan pers di negeri ini seperti hubungan tanpa status. Katanya bebas, tapi sering dikekang. Katanya cinta, tapi tak boleh cemburu. Katanya boleh kritik, tapi jangan terlalu keras. Nanti dianggap makar. Dalam dunia pers, tinta adalah darah, kata para idealis. Tapi di realitas, tinta itu harus disaring dulu lewat kepentingan pemilik modal dan pemegang kekuasaan. Karena siapa yang membayar, dia yang menentukan judul. Dan kadang-kadang, yang dibayar adalah nurani. Tapi tetap saja, para jurnalis itu seperti pujangga kesepian yang terus menulis walau tahu sajaknya bisa dibakar sewaktu-waktu. Mereka seperti kekasih yang tahu cintanya tak akan dibalas, tapi tetap menulis surat cinta setiap malam. Demi kebenaran, demi harapan, demi secercah kemungkinan bahwa dunia bisa berubah meski pelan. Lucunya, banyak orang lebih percaya selebgram daripada wartawan. Mungkin karena selebgram tak pakai diksi sulit atau kutipan dari UU Pers. Mereka cukup berkata, “Hai bestie, ini skincare yang bikin glowing, meski isi dompet lo makin bolong.” Transparan, jujur, walau kadang menyesatkan. Sedangkan wartawan? Terlalu banyak disclaimer dan sensor dari redaksi. Coba bayangkan, jika kebebasan pers adalah seorang kekasih, maka ia adalah kekasih yang cantik, cerdas, tapi penuh luka. Ia pernah diseret, dibungkam, diintimidasi. Tapi tetap berdiri, tetap bicara, walau suaranya serak dan langkahnya pincang. Ia tak sempurna, tapi mencintai kebenaran dengan setia, bahkan saat kebenaran itu membuatnya kehilangan pekerjaan. Atau lebih buruk lagi, kehilangan nyawa. Kebebasan pers bukan cuma soal boleh nulis apapun. Ia soal keberanian menyuarakan yang tak berani dikatakan. Soal menulis fakta meski pahit. Soal memilih cinta yang getir daripada kebohongan yang manis. Dan seperti semua kisah cinta yang indah, kebebasan pers harus diperjuangkan. Bukan hanya oleh para jurnalis, tapi oleh kita semua. Agar di tengah dunia yang penuh manipulasi, masih ada yang mau menulis kebenaran, meski dibayar dengan kesepian. Karena kadang, satu berita jujur lebih bermakna daripada seribu puisi palsu. Dan satu suara kebenaran – meski kecil – bisa menggemakan harapan yang tak bisa dibungkam. Kau tahu apa yang lebih romantis dari bunga dan cokelat? Kebenaran yang ditulis dengan nyali. * Jakarta, 04 Mei 2025.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.

Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal

  Hanya ilistrasi. (Gambar: AI).  Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...