Selasa, 06 Mei 2025

Secangkir Puisi, Plus Dua Sendok Rindu

Puisi Secangkir Puisi, Plus Dua Sendok Rindu Yoss Prabu Ngopi, dong! Bukan sekadar ajakan santai, tapi itu panggilan jiwa Bahkan sebelum matahari mengizinkan pagi Ada lidah yang berdecak Menuntut kafein lebih dari sekadar iman Kopi bukan minuman Dia peradaban yang diseduh Dalam cangkir keramik murahan Atau gelas warteg dengan nama salah eja Ia selalu sama Hitam, pahit, dan jujur Seperti hidup, dan bekas chat mantan yang tak sempat dibalas Aku pernah jatuh cinta karena secangkir kopi Bukan pada baristanya Tapi pada aroma robusta yang lebih setia ketimbang komitmen manusia Dan sejak itu Aku percaya Cinta terbaik datang setelah sendok kedua gula Manis, tapi tetap tak menipu rasa aslinya Ngopi itu meditasi Bagi yang tak sanggup bertapa di gunung Tapi sanggup duduk di warung kopi Di sana, filsafat mengalir dari gelas plastik Dengan topik mulai dari politik negara Hingga harga cabai yang terlalu pedas Rene Descartes pun mungkin akan berkata, "Aku ngopi, maka aku ada." Lalu ada yang nyeletuk, "Ngopi bikin deg-degan." Tidak juga Deg-degan bukan karena kopi Tapi karena cicilan dan status WA yang dibaca tapi tak dibalas Mari bicara bercemooh Kopi sachet rasa ‘mewah’ dijual dua ribu Sama seperti janji manis kampanye yang dikemas rapi Padahal isinya cuma buih Kopi itu jujur Tidak seperti biodata di aplikasi dating Dia tak peduli kamu, sarjana atau pengangguran Selama kamu sudi menyeduhnya pelan-pelan Ngopi, dong?! Biar kamu tahu bahwa pahit tak selalu kutukan Kadang, ia adalah bentuk tertinggi dari keikhlasan Menyatu, larut tanpa menyamar Ada depresi dalam ampas Lihatlah, bagaimana dia tenggelam perlahan Seperti kenangan yang tak mau hilang Meski sudah kamu aduk dengan segala tawa baru Ngopi sendirian itu bukan kesepian Itu semacam ibadah kecil bagi jiwa yang letih Pernah suatu pagi Aku menyeduh kopi dan mengingat seseorang Air mata jatuh, tapi tak terlihat Tertutup uap panas yang naik perlahan Seolah langit pun ikut menyimak rinduku yang tak sempat kukatakan Ngopi, dong? Kalimat sederhana yang menyelamatkan banyak diskusi Dan kadang menyelamatkan nyawa Karena di tengah dunia yang tergesa-gesa Kopi mengajarkan jeda Menyeruput adalah bentuk protes halus terhadap kebisingan Dan ajakan lembut untuk kembali menjadi manusia Romantis itu bukan bunga Terasa itu anda kamu yang nanya, “Mau kopi panas atau dingin?” Dan kamu tetap memilih panas Meski tahu, hatimu sedang yang kepanasan Ngopi, dong! Karena hidup ini terlalu absurd untuk dijalani tanpa kafein Terlalu getir untuk ditelan polos Terlalu manis untuk tak dicicipi dengan sedikit pahit Di akhir hari Bila semua gagal dan dunia mengecewakan Ingatlah ini Kopi tak pernah ghosting Ia selalu hadir Dengan aroma Dengan getir Dengan harapan yang bisa diseruput perlahan Jakarta, 06 Mei 2025.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.

Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal

  Hanya ilistrasi. (Gambar: AI).  Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...