Di Selasar kita bisa berdiskusi. Ramai-ramai atau sendiri. Boleh. Sambil minum kopi, merenung atau hanya sekedar berimajinasi, juga boleh. Atau sambil bermimpi dan masturbasi. Pun boleh-boleh saja. Terserah! Silakan saja. Suka-suka.
Rabu, 07 Mei 2025
Khusu’ di Antara Sholawat Jibril: Sebentuk Kesunyian yang Ramai
Sungguh, khusu’ di antara sholawat Jibril itu bukan soal menjadi sempurna. Tapi soal kesediaan menjadi remuk di hadapan yang Mahalembut.
Kita ulang lagi, kali ini dengan getaran di dada: “Allahummashalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad.”
Khusu’ di Antara Sholawat Jibril:
Sebentuk Kesunyian yang Ramai
Yoss Prabu
Khusu'. Kata itu pendek, tapi menciptakan guncangan lebih dahsyat dari cinta pertama ABG yang tidak pernah dibalas. Katanya, khusu’ itu fokus total, seperti anak SD yang menatap mainan LEGO di tangan temannya, dengan kekhusyukan level malaikat Jibril menatap langit ketujuh. Tapi kita? Baru niat mau khusu’, eh, pikiran sudah nyasar ke cicilan, ke gosip, ke gerutuan istri, yang belum ada uang untuk kondangan. Di empat tempat Di empat tempat.
Lalu datanglah Sholawat Jibril: “Allahummashalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad.”
Simpel. Lugas. Tapi efeknya? Bisa bikin hidup adem, hati tenang, rezeki mengalir, dan dosa-dosa seperti bubuk kopi yang cepat larut dalam air panas, lenyap tanpa jejak. Kecuali kalau dosanya pakai pengawet, tentu agak alot.
Tapi bagaimana bisa khusu’ di antara sholawat Jibril?
Sebab di sanalah tragedi dan komedi kehidupan berkelindan.
Aku duduk di sajadah, membuka langit hati dengan lirih. Satu sholawat meluncur, lembut seperti bisikan rahasia dari surga. Dua, tiga… lalu pikiran melayang.
"Eh, tadi kran kamar mandi sudah ditutup belum, ya?"
Kembali ke sholawat. Tapi tiba-tiba terdengar suara dari dapur.
Ting! Ricecooker menyelesaikan misinya.
Dan tahulah, aroma nasi hangat lebih mengganggu dari teriakan penjual roti yang lewat depan rumah. Yang selalu hadir di waktu yang tidak tepat.
Namun, anehnya, justru di sela-sela kekacauan itu, khusu’ menyelinap. Ia bukan datang saat kita steril dari dunia, tapi saat kita sadar bahwa dunia ini memang berisik dan tetap memilih menyebut nama Nabi di antara gaduhnya.
Kadang terpikir.
Apa khusu’ itu harus seperti biksu di pegunungan Tibet yang sanggup bermeditasi di salju dengan hanya berkain sarung?
Atau seperti santri senior yang matanya merah. Bukan karena menangis, tapi karena habis begadang sambil mengaji?
Tidak. Khusu’ kadang hadir saat sholawat terucap dengan perasaan penuh utang dan gerutuan istri saat cucian kotor menumpuk. Saat kau tak punya pilihan selain bersandar pada nama Muhammad, karena semua nama lain hanya bisa memberikan janji manis dan screenshot rekening kosong.
Sungguh, khusu’ di antara sholawat Jibril itu bukan soal menjadi sempurna. Tapi soal kesediaan menjadi remuk di hadapan yang Mahalembut.
Kita ulang lagi, kali ini dengan getaran di dada: “Allahummashalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad.”
Dan entah kenapa, air mata turun tanpa aba-aba. Bukan karena sedih. Tapi karena dada yang biasa sesak, kini lapang. Karena dalam sepotong sholawat itu, ada ruang untuk jatuh, bangkit, dan merasa dipeluk oleh langit.
Jadi teringat sabda yang sering dikutip orang bijak di grup WhatsApp keluarga, "Siapa yang banyak bersholawat, maka akan disingkirkan dari kesempitan hidup."
Dan aku tertawa, karena ternyata, menyingkirkan kesempitan itu bukan berarti jadi sultan dadakan. Tapi cukup mampu tersenyum meski nasi tinggal kerak dan pulsa hanya harapan.
Ah, khusu’.
Kau seperti cinta yang datang saat kita sudah malas jatuh cinta. Diam-diam. Lembut. Tanpa pretensi. Kau tak butuh setelan baju koko berlapis wangi minyak misik. Cukup satu niat, ingin hadir utuh di hadapan-Nya.
Dan Sholawat Jibril? Ia seperti pintu kecil menuju pelataran cahaya. Tak perlu hafal kitab setebal novel Yoss Prabu. Cukup satu baris yang diulang-ulang, Seperti mantra kesetiaan dari jiwa yang berusaha pulang.
Jadi bila ada yang bertanya, “Bagaimana khusu’ bisa hadir di antara sholawat Jibril?”
Jawab saja, “Seperti hujan yang jatuh di tengah tawa para bocah. Tak direncanakan. Tak sempurna. Tapi menghidupkan. Dan kadang, itu lebih dari cukup.”
*
Jakarta, 07 Mei 2025.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal
Hanya ilistrasi. (Gambar: AI). Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...
-
Selamat Pagi Kusibak kabut yang menggantung. Kutatap pagi yang redup. Lembapnya terasa segar di sela rintik yang malu-malu. ...
-
Tulisan ini saya buat ketika saya menjadi anggota dari sebuah grup WA yang admin-nya secara kurang ajar mendaulat saya untuk menjadi narasum...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.