Jumat, 09 Mei 2025

Premanisme di Negeri Para Preman

Preman di negeri ini bukan cuma soal jagoan terminal atau tukang palak pasar. Oh, tidak sesederhana itu, sayangku. Premanisme telah naik kasta – naik pangkat – menjelma dalam jas elegan, dasi sutra, parfum mahal, duduk di kursi empuk dengan pendingin ruangan yang bisa bikin pinguin betah bersarang. Mereka tidak lagi berkata, “Mana uang keamanan kau?” tapi “Mana fee proyeknya, Bos?” Premanisme di Negeri Para Preman Oleh: Yoss Prabu Di sebuah negeri yang katanya penuh sopan santun, tapi klakson bisa lebih lantang dari suara adzan, hidup subur makmur budaya bernama premanisme. Sebuah seni bela diri tanpa seragam resmi, tanpa sabuk hitam, tapi dengan otot beton, suara cempreng yang dipaksa garang, dan tatapan yang selalu seperti bilang, “Nih liat, gue bisa bikin lonyesel lahir di dunia.” Di zaman kolonial, "preman" bukan cuma tukang palak angkot. Mereka itu pahlawan lokal. Serius. Dulu disebut jago, semacam bodyguard kampung yang lebih banyak adu otot daripada diskusi panel. Mereka bisa mengusir Belanda, maki-maki Jepang, terus jadi mitra strategis para pejuang kemerdekaan. Tapi setelah merdeka? Jagoan tadi berubah jadi... ya, tukang parkir ilegal. Ironi sejarah yang cukup melankolis buat dijadikan sinetron. Masuk Orde Baru, preman naik kasta. Mereka dipelihara negara. Ya, kayak peliharaan tapi bisa memukuli rakyat kalau disuruh. Mereka jadi “prajurit jalanan”, bukan demi ideologi, tapi demi amplop dan bensin motor. Pemerintah waktu itu pintar, kalau demo terlalu ramai, kirim preman. Kalau ormas ribut, sewa preman. Demokrasi berjalan mulus..., asal satu kubu punya preman lebih banyak. Kurang ajarnya, di era Reformasi malah bikin preman punya CV. Serius, sekarang mereka punya LSM, ormas, bahkan akun TikTok. Preman bukan lagi soal otot, tapi branding. Yang penting, bisa ngomong "NKRI harga mati" sambil buka jasa keamanan acara sunatan. Tapi, jangan salah. Di balik badan kekar dan tatapan sinis itu, bisa jadi ada hati yang pernah patah. Mungkin dulu dia cuma anak kecil yang kepengin dihargai. Yang tumbuh tanpa pelukan, tapi akrab dengan pukulan. Mungkin jadi preman adalah caranya mencari cinta, dari dunia yang terlalu pelit kasih sayang. Premanisme di Indonesia bukan sekadar sejarah kekerasan. Ia adalah kisah tentang identitas, kekuasaan, dan kebutuhan akan pengakuan. Kadang cinta bisa mengubah orang, kadang juga... kekuasaan. Dan preman? Mereka berdiri di tengah, antara cinta yang gagal, dan kekuasaan yang menggoda. Mungkin yang mereka butuh bukan pentungan, tapi pelukan. Preman di negeri ini bukan cuma soal jagoan terminal atau tukang palak pasar. Oh, tidak sesederhana itu, sayangku. Premanisme telah naik kasta – naik pangkat – menjelma dalam jas elegan, dasi sutra, parfum mahal, duduk di kursi empuk dengan pendingin ruangan yang bisa bikin pinguin betah bersarang. Mereka tidak lagi berkata, “Mana uang keamanan kau?” tapi “Mana fee proyeknya, Bos?” Aku pernah jatuh cinta pada seorang perempuan manis penjual gorengan, namanya Sarmi. Rambutnya selalu berminyak oleh uap tahu isi, dan itu aroma paling jujur yang pernah aku cium. Kami duduk di emperan toko sambil berbicara tentang mimpi dan masa depan. Tapi suatu hari, lapaknya digusur. “Operasi penertiban,” katanya. Tapi yang datang bukan Satpol PP, melainkan gerombolan berbaju preman dengan rompi ormas yang katanya bela rakyat kecil. Ironi? Bukan. Ini realita. Di negeri ini, premanisme disubsidi atas nama ketertiban. “Aku cuma pengen hidup damai, Mas,” kata Sarmi, matanya sayu. “Tapi yang damai di sini cuma yang punya backing.” Dan di situlah aku sadar, kami hidup di negeri yang memperhalus tirani dengan kata-kata manis. Keamanan, stabilitas, toleransi. Tapi di balik itu, ada organisasi preman kelas dunia yang jadi panutan. Mafia Sisilia, Yakuza Jepang, bahkan Kartel Meksiko. Bedanya? Mereka profesional. Punya kode etik. Punya batas. Di sini? Semua bisa disewa. Dari demo bayaran sampai buzzerInstagram. Negeri ini menelurkan preman bukan karena kekurangan hukum, tapi karena hukum bisa dibeli. Seperti bensin eceran, tinggal nego harga. Premanisme tak lagi soal fisik, tapi juga mental, ancaman pelan-pelan, pengendalian opini, pembunuhan karakter. Mereka tak perlu lagi membawa golok. Cukup tagar viral dan berita settingan. Dan kita? Kita hanya rakyat. Menonton sambil makan mi instan, berharap pahlawan datang. Tapi bahkan superhero pun ogah turun ke negeri ini. Mereka takut KPK dijadikan alat mainan, takut masuk berita hoaks. Mereka tahu, melawan preman bukan cuma butuh keberanian, tapi keikhlasan dicap gila. Tapi jangan salah. Di tengah semua ini, cinta masih ada. Kadang muncul dari senyum tukang parkir yang tak pernah minta uang, dari satpam yang menyapa ramah walau digaji lembur kacang. Dari Sarmi, yang tetap jual gorengan di rumah kontrakan sempit dengan harapan hidup tak selalu ditentukan oleh siapa yang punya palu dan pentungan. Aku pernah tanya pada Sarmi, “Kenapa kamu masih bertahan?” Dia menjawab sambil menyodorkan tempe goreng hangat, “Karena kalau semua orang menyerah, yang tersisa cuma preman dan penonton.” Aku makan tempe itu, dan rasanya lebih merdeka dari pidato pejabat mana pun. Mungkin kita tak bisa mengusir semua preman hari ini. Tapi kita bisa jadi sesuatu yang mereka takuti, rakyat yang berpikir. Yang tidak gampang dibeli. Yang tahu bahwa keberanian bukan tentang melawan pakai otot, tapi menolak tunduk pada sistem busuk. Premanisme akan tumbuh selama ketakutan jadi komoditas. Tapi harapan, wahai harapan, akan hidup selama masih ada orang sepertiSarmi. Yang meski kakinya diinjak, tetap berdiri. Yang meski dipalak, tetap senyum. Yang meski hidup di negeri para preman, tetap percaya bahwa kebaikan – meskipun kerap kalah–tak pernah benar-benar mati. Dan aku, lelaki biasa yang mencintai perempuan penjual gorengan, akan terus menulis. Karena di negeri ini, mungkin kata-kata adalah satu-satunya senjata yang belum dibajak preman. Dulu, orang bilang preman itu identik dengan kurang pendidikan. Tapi kini, banyak yang punya gelar. S1 premanisme terapan, S2 intimidasi strategis, dan beberapa bahkan doktor honoriscausa dalam bidang pungli dan provokasi massa. Mereka lebih piawai memainkan kata-kata daripada petinju memainkan jab kanan. Mereka hadir di televisi dengan setelan jas mahal, bicara soal nasionalisme, sambil mengatur penyelundupan di belakang panggung. Preman zaman now tak harus berotot. Beberapa berperut buncit, duduk manis di kursi eksekutif. Mereka tidak mengangkat senjata, tapi tanda tangan. Mereka tidak merampas dengan todongan, tapi dengan regulasi. “Luar biasa ya, Mas,” kata Sarmi suatu malam sambil mengaduk kopi. “Dulu orang takut preman karena bisa dipukul. Sekarang, orang takut preman karena bisa dituntut.” Aku tertawa getir. Aku tahu rasa takut itu. Aku tahu betapa mudahnya kita jadi korban di negeri ini, hanya karena kita tak punya “koneksi.” Bahkan kondektur pun kini harus punya kenalan agar bisa aman dari sweeping preman terminal. Sarmi, dengan kepolosannya yang bijak, menyebut itu “pendidikan rasa takut.” Anak-anak kecil diajarkan sejak dini untuk patuh bukan karena paham, tapi karena takut. Takut dimarahi guru, takut dibentak aparat, takut salah bicara. Dan lama-lama, takut berpikir. Aku pernah ikut diskusi di kampus soal politik. Temanya menarik. “Masa Depan Demokrasi.” Tapi yang terjadi malah debat soal siapa yang lebih pantas ditakuti. Ironisnya, sebagian peserta membawa pengawal, seolah diskusi bisa berubah jadi perang saudara. Premanisme, kata seorang profesor, adalah virus. Tapi aku rasa lebih dari itu. Ia adalah budaya. Ia menular lewat kebiasaan. Lewat sistem. Lewat diamnya kita. Aku dan Sarmi tetap bertahan. Bukan karena kami kuat, tapi karena kami terlalu lemah untuk kabur. Kami punya warung kecil, menjual kopi sachet dan gorengan, jadi tempat kumpul warga yang muak tapi bingung hendakberbuat apa. Kadang ada sopir ojek yang curhat, kadang mahasiswa yang frustrasi skripsinya disensor karena "terlalu kritis". “Mereka itu bukan takut kritik,” kata Sarmi sambil merapikan toples kerupuk. “Mereka takut orang-orang mulai mikir.” Aku tertegun. Di balik uap minyak goreng dan panci bocor, Sarmi lebih jernih daripada politisi mana pun. Ia tak pernah sekolah tinggi, tapi hidup mengajarinya membaca bahasa preman yang tersembunyi di balik senyum pejabat. Kadang, di malam yang sunyi, kami mendengar suara motor berisik lewat depan warung. “Itu geng kampung sebelah,” kata Sarmi. “Lagi patroli gaya koboy.” Kami tahu mereka cuma bocah, tapi bocah yang tumbuh tanpa arah bisa jadi preman sejati. Dibiarkan tumbuh seperti itu, kelak mereka akan lebih kejam dari generasi sebelumnya. Karena mereka belajar dari yang paling lihai, preman yang bersetelan rapi. Pernah suatu hari, seorang pelanggan tetap, Pak Amir, seorang mantan TKI yang kini jadi tukang sablon kaos, bercerita, “Di Jepang, Yakuza itu bisa lebih jujur dari anggota dewan. Mereka tidak akan main belakang. Kalau salah, potong jari.” Aku tertawa. Bukan karena lucu, tapi karena getir. Di negeri ini, kalau ketahuan korupsi, bukan jari yang dipotong, tapi kamera pengawas yang mendadak rusak. “Di Italia,” lanjut Pak Amir, “Mafia bisa membangun ekonomi bawah tanah yang lebih stabil daripada bank sentral. Mereka setia pada komunitas. Di sini? Ormas preman lokal saja bisa jual spanduk ke warung, memaksa iuran natal ke gereja, terus mengaku bela agama.” Sarmi hanya menghela napas. “Kita ini lucu ya, Mas. Negara tidak mau kalah sama preman. Malah ikut-ikutan jadi preman juga.” Di negeri para preman, politik bukan urusan ide. Bukan pula visi-misi atau debat intelektual. Politik di sini adalah seni sandiwara, dengan aktor-aktor piawai yang bisa menangis saat kamera menyala dan tertawa puas di ruang gantipakaian. Dan premanisme? Ia adalah naskah tersembunyi di balik panggung demokrasi yang disulap menjadi sinetron berepisode-episode. Setiap musim pemilu, wajah-wajah baru bermunculan. Berbaju kotak-kotak, batik, sampai sorban. Semua sok akrab, sok peduli. Tapi kita tahu, di belakang mereka ada backing. Ada ormas dadakan, relawan berkostum, dan preman-preman lokal yang mendadak jadi tim sukses. Tak perlu keahlian, cukup bisa mengancam, membentak, dan pasang spanduk pakai tangga pinjam. “Mas, kenapa ya orang suka banget pura-pura baik menjelang pemilu?” tanya Sinta sambil menggoreng pisang. “Karena pura-pura baik lebih murah daripada benar-benar baik,” jawabku. Sinta mengangguk. “Mungkin karena itu, yang baik beneran malah jadi minoritas.” Di warung kami, para pelanggan sering debat soal calon pemimpin. Tapi debat itu tak pernah soal program kerja. Lebih sering tentang siapa yang lebih kuat backing-annya. Karena, di negeri ini, yang dianggap hebat bukan yang paling cerdas, tapi yang paling banyak anak buahnya di lapangan. Pemimpin sejati adalah mitos. Yang ada hanyalah manajer kekuasaan—yang pandai menjinakkan preman, menyewa ormas, atau menciptakan musuh buatan untuk menciptakan kesan dibutuhkan. Sinta menyebutnya “politik preman.” Politik yang lebih percaya pada gengsi daripada gagasan. Yang lebih suka otot daripada otak. Yang menganggap rakyat hanya statistik lima tahunan. Suatu malam, listrik padam di kampung kami. Sarmi menyalakan lilin, lalu duduk di sampingku sambil memandang jalanan sepi. Tak ada suara motor preman lewat, tak ada tawa politisi di televisi, tak ada kampanye murahan. Hanya senyap. “Apa negeri ini masih bisa diselamatkan?” tanyaku pelan. Sarmi tak menjawab segera. Ia menatap nyala lilin yang bergoyang oleh angin. “Kalau lilin sekecil ini bisa mengusir gelap, mungkin masih bisa. Asal kita tidak matikan.” Malam itu kami bicara soal mimpi yang kami tunda, punya rumah kecil, warung yang lebih luas, dan anak-anak yang tak perlu takut ke sekolah. Mimpi sederhana yang terdengar muluk di negeri yang bahkan parkir liar pun punya ‘kordinator lapangan’. Kadang aku bertanya-tanya, apakah kami naif? Apakah harapan adalah bentuk kegilaan baru? Tapi lalu kulihat Sarmi, dengan wajah lelah tapi bersih. Dan aku tahu, lebih baik gila karena berharap daripada waras tapi tunduk pada dunia yang rusak. Dalam premanisme, cinta adalah anomali. Karena cinta mengandung kelembutan, pengorbanan, dan kejujuran. Tiga hal yang asing bagi dunia preman. Tapi justru karena itulah cinta menjadi senjata paling ampuh. Ia melawan dengan cara diam. Ia mengubah bukan dengan kekerasan, tapi keteguhan. Sarmi mencintai dengan cara yang tidak dramatis. Ia tidak pernah menuntut bunga, cincin, atau janji. Tapi setiap pagi ia menyeduh kopi untukku, dan setiap malam ia mencuci bajuku. Dalam diamnya, ia mengajarkanku tentang keberanian yang tidak butuh sorotan kamera. Kami tidak punya banyak. Tapi kami punya satu sama lain. Dan itu cukup untuk membuat kami merasa manusia. Karena, di negeri ini, menjadi manusia utuh adalah bentuk pemberontakan paling radikal. Warung kami berubah jadi tempat berteduh bagi yang lelah dengan dunia luar. Para buruh, mahasiswa, pemulung, bahkan mantan preman pun kadang mampir. Bukan sekadar untuk makan, tapi untuk merasa aman. Di warung itu, tidak ada jabatan, tidak ada uang keamanan, tidak ada ancaman. Hanya kopi, gorengan, dan cerita-cerita lelah. Kadang kami saling tertawa, kadang diam, kadang saling mengutuki nasib. Tapi tak ada yang merasa sendiri. Aku sadar, perlawanan terhadap premanisme tak selalu lewat demonstrasi atau revolusi. Kadang cukup dengan menyediakan tempat yang membuat orang merasa tidak ditakuti. Sarmi menyebutnya “melindungi kemanusiaan dengan cara sederhana.” Ada satu pertanyaan yang terus menghantui kami setiap kali menutup warung, “Bagaimana bisa bangsa besar ini begitu kecil menghadapi preman?” Kami punya sejarah panjang, pahlawan, sumpah pemuda, proklamasi, bahkan lagu-lagu nasional yang bikin merinding. Tapi semua itu kini terdengar seperti lagu nostalgia. Indah, tapi tak berdaya di tengah bising toa ormas dan sirine pengawalan. Premanisme bukan sekadar perilaku. Ia telah menjadi cara hidup. Ia menjelma jadi cara bicara di ruang rapat, cara mengatur tender proyek, bahkan cara mendidik anak, "Diam! Jangan macam-macam, nanti dimarahi!" Begitu terus, dari generasi ke generasi, membentuk rakyat yang patuh karena takut, bukan karena paham. Bangsa ini, yang katanya menjunjung tinggi musyawarah, kini lebih akrab dengan intimidasi. Musyawarah berubah jadi muslihat. Dan gotong royong? Seringkali artinya, "Kamu gotong, saya yang untung." “Apa bangsa ini memang nyaman dipimpin preman?” tanyaku pada Sarmi, suatu malam di teras warung. “Bukan nyaman, Mas,” jawabnya. “Mereka sudah terbiasa.” Kata-kata itu menusuk lebih dalam dari ceramah motivator mana pun. Karena kebiasaan lebih berbahaya dari ketakutan. Ketakutan bisa dilawan. Tapi kebiasaan? Ia menjelma jadi norma. Jadi budaya. Jadi tak terlihat, seperti racun dalam air minum. Suatu hari, preman-preman itu datang lagi. Mereka ingin memungut “uang keamanan bulanan.” Kami tahu, jika kami tak bayar, bisa saja warung kami dirusak, atau lebih buruk, hilang izin jualan. Tapi hari itu, kami memutuskan untuk tidak bayar. Mereka marah. Tapi kami tak sendiri. Warga berdatangan. Tukang sayur, pedagang asongan, tukang cukur, bahkan anak-anak muda yang biasanya cuek. Semuanya berdiri. Tak membawa senjata, hanya keberanian dan wajah lelah yang cukup untuk berkata, “Sudah! Cukup!” Preman-preman itu pergi. Tak satu pun baku hantam. Tak ada darah. Hanya sepi dan rasa lega yang ganjil. Hari itu, aku dan Sarmi pulang dengan peluh dan pelajaran, bahwa premanisme tidak akan pernah habis jika terus diberi ruang. Tapi ia bisa dikikis, sedikit demi sedikit, dengan keberanian kecil yang terus dilatih. Malamnya, Sarmi menyalakan radio tua. Lagu "Rayuan Pulau Kelapa" terdengar lirih. Entah kenapa, malam itu kami menangis. Bukan karena sedih, tapi karena harapan. Bahwa mungkin, di negeri yang penuh preman ini, masih ada secercah cahaya. Bukan dari gedung parlemen atau kantor polisi, tapi dari warung kecil di pojok kampung, dari tangan-tangan jujur yang menolak dijajah rasa takut. Wahai anak-anak masa depan yang membaca ini, ketahuilah bahwa negeri ini dulu pernah begitu liar, begitu keras, begitu dikuasai oleh preman yang tersamar. Tapi kami bertahan. Dengan cinta, dengan keyakinan, dengan tawa pahit dan gorengan hangat. Jika kelak kalian menemukan dunia yang lebih ramah, jangan lupa: itu bukan hadiah dari langit. Itu hasil dari perjuangan orang-orang biasa yang tak mau tunduk pada yang sok berkuasa. Yang lebih memilih mencintai dengan cara sederhana, daripada hidup dengan cara bengis. Dan jika suatu hari kalian harus memilih, menjadi preman atau menjadi manusia, pilihlah menjadi manusia. Meski dunia mengejek, meski sistem menekan, meski suara kalian tak didengar. Karena preman hanya menang di dunia yang takut. Tapi manusia sejati menang di hati yang berani. *

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.

Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal

  Hanya ilistrasi. (Gambar: AI).  Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...