Senin, 14 April 2025

Antara Wamil, Retreat dan Krisis

Gerundelan Bang Yoss Krisis ekonomi dan waktu untuk refleksi. Apakah wamil, retreat dapat membantu. Antara Wamil, Retreat dan Krisis Yoss Prabu Aku ini seorang pemuda, yang hidup di sebuah negeri yang damai. Katanya. Namun aturannya banyak dikecam. Ada dua jenis program yang akan menghantui para pemuda, wajib militer (wamil) dan retreat. Keduanya memiliki satu kesamaan, mereka datang tanpa aba-aba, dan tak ada yang benar-benar siap menghadapinya. Wamil adalah saat di mana pria-pria muda yang terbiasa rebahan di kasur empuk mendadak harus berlari di medan berlumpur sambil membawa ransel seberat mantan yang masih terus terbayang. Para pemuda yang tadinya mengeluh kalau AC kamar terlalu dingin kini harus tidur di bawah langit terbuka, berteman nyamuk dan harapan palsu bahwa semoga semua ini hanya mimpi. Mimpi buruk. Demi negara, mereka dipaksa bangun subuh, berbaris, dan diajar cara menembak. Padahal sebelumnya, satu-satunya "perang" yang mereka tahu hanyalah perang komentar di media sosial. Setiap hari, latihan fisik mengubah tubuh mereka dari kurus kering jadi penuh otot. Yang dulunya cuma kuat mengangkat beban tugas kuliah, kini bisa mengangkat senjata dan beban membawa harapan dunia. Sambil mencari dirinya sendiri di tengah keramaian yang sunyi. Sekaligus. Namun, di balik semua penderitaan itu, wamil juga memberikan sesuatu yang berharga, persahabatan sejati. Tidak ada yang lebih menyatukan pria selain berbagi cerita patah hati sambil push-up 50 kali sebagai hukuman, karena salah dengar perintah sersan. Sementara itu, retreat adalah bentuk "pelatihan jiwa" yang katanya penuh ketenangan. Para peserta disuruh meninggalkan ponsel mereka, sebuah tindakan yang bagi sebagian besar anak muda lebih menyakitkan daripada dicabut giginya. Di retreat, jadwalnya penuh dengan renungan, sesi curhat, dan permainan kelompok. Biasanya, ada satu sesi di mana semua peserta duduk melingkar dan diminta untuk merenungi kesalahan mereka di masa lalu. Ini adalah momen di mana bahkan pria paling tegar sekali pun bisa mendadak menangis hanya karena teringat pernah mengabaikan chat ibunya. Tapi jangan salah, retreat juga punya momen horornya. Salah satunya adalah sesi sharing di malam hari. Awalnya, semua berbicara tentang hal-hal ringan. Namun, lama-lama, ada saja yang mulai membahas kisah mistis yang katanya terjadi di lokasi retreat. Akhirnya, tak ada yang berani ke kamar mandi sendirian, dan beberapa orang memilih tidur berdesakan di satu kasur, bukan karena nyaman, tapi karena takut melihat "penampakan". Meski berbeda konsep, wamil dan retreat memiliki satu kesamaan besar, keduanya menciptakan kenangan yang akan diingat seumur hidup. Di wamil, seseorang mungkin menemukan sahabat sejati yang nanti akan menjadi teman nikahnya. Di retreat, seseorang mungkin menyadari arti keluarga dan mulai rutin membalas chat ibunya. Mereka yang pernah wamil akan selalu bangga menceritakan bagaimana mereka menaklukkan medan berat, meskipun di versi cerita mereka, medan itu semakin lama semakin ekstrem. Sementara mereka yang pernah retreat akan selalu tersenyum mengenang malam-malam penuh curhat dan tawa, meskipun mungkin juga dengan sedikit trauma karena cerita horor yang pernah mereka dengar. Jadi, mau itu wamil atau retreat, satu hal yang pasti, keduanya mengajarkan bahwa hidup adalah perjalanan penuh kejutan, tawa, air mata, dan tentu saja... kopi instan yang selalu menjadi penyelamat di saat-saat suntuk. Saya masih ingat ketika saya pertama kali mendengar tentang wajib militer. Saya berpikir, "Wow, ini akan menjadi petualangan seru!" Tapi, setelah saya tahu dari yang pernah mengalami langsun, saya berpikir, "Wow, ini akan menjadi mimpi buruk yang tidak akan berakhir!" Tapi, setelah saya melewati masa khayalan tentang wajib militer, saya memutuskan untuk berkhayal tentang retreat. Saya berpikir, "Wow, ini akan menjadi kesempatan untuk merefleksikan masa lalu dan menemukan diri sendiri!" Tapi, setelah saya tahu dari yang pernah mengalami langsung, saya berpikir, "Wow, sebaiknya tidak usah dipikirkan. Buang-buang waktu!" Tapi, serius, wajib militer dan retreat adalah dua fenomena yang sangat unik dan menarik. Wajib militer adalah masa di mana kita harus meninggalkan kehidupan normal hanya untuk mengikuti latihan militer yang keras. Retreat, di sisi lain, adalah masa di mana kita dapat meninggalkan kehidupan normal dan mengikuti latihan spiritual yang dalam. Jadi, apa yang dapat kita pelajari dari fenomena wajib militer dan retreat? Pertama, kita harus selalu siap untuk menghadapi tantangan yang tidak terduga. Kedua, kita harus selalu memiliki humor dan tidak terlalu serius dalam menghadapi kehidupan. Dan ketiga, kita harus selalu memiliki waktu untuk merefleksikan masa lalu dan menemukan diri sendiri. Jadi, jika kamu sedang mengalami wajib militer atau retreat, jangan khawatir! Kamu tidak sendirian. Kamu dapat tidur siang yang panjang dan tidak terganggu. Di tengah krisis ekonomi yang bukan lagi mimpi buruk. Sekali lagi. Aku ini seorang pemuda. Usia tanggung, harapan menggantung, dan rekening tabungan sudah almarhum. Krisis ekonomi? Sudah seperti mantan, datang tak diundang, pergi pun enggan. Setiap pagi aku bercermin, bukan untuk memuji ketampanan, tapi untuk memastikan aku masih hidup meski dompet sudah wafat duluan. Kata pemerintah, kita harus optimis. Katanya lagi, ekonomi itu soal siklus. Lalu kenapa siklus hidupku muter-muter di Indomaret bagian mie instan? Sementara temanku yang satu lagi, saking semangatnya ngirit, dia bikin es kopi dari ampas semalam. Filosofi kopi? Lebih tepat, tragedi kopi. Krisis ini mengajarkan aku banyak hal. Pertama, bahwa cinta dan nasi padang sama-sama mahal sekarang. Dulu aku bisa mengajak gebetan makan dengan percaya diri berlebihan. Lebay. Sekarang? Aku lebih percaya diri mengajak dia jalan ke toko buku, pura-pura melihat-lihat, terus kabur saat dia bilang, "Aku kepengen beli ini." Tapi jangan salah. Aku tetap romantis. Aku tulis puisi untuk dia dari balik utang PayLater. "Bila rindu ini seperti cicilan, maka biarlah aku lunasi dengan sisa-sisa pulsa darurat." Dia bilang aku puitis, padahal aku cuma lagi nyari cara halus buat bilang, "Aku gak punya duit buat traktir." Untuk makanan sehari-hari, lancar. Namun ketika ada pejabat bilang, “Anak muda harus kreatif menghadapi krisi.,” Aku ingin balas, “Tenang pak, saya sudah kreatif. Saya nyuci baju pakai sabun colek sisa.” Bahkan aku sempat mikir buka jasa ‘sewa kuping’ buat teman-teman yang butuh curhat tapi gak sanggup bayar psikolog. Namun di balik semua kekacauan ini, aku belajar bahwa jadi muda adalah anugerah sekaligus ujian. Di tengah kekosongan dompet, justru pikiran bisa penuh ide, hati bisa penuh cinta, dan mulut bisa penuh doa (biasanya sebelum makan, karena itu satu-satunya saat kita bisa merasa spiritual sekaligus lapar). Krisis membuat aku belajar bertahan, tapi juga belajar mencintai tanpa embel-embel saldo. Aku belajar bahwa gengsi tidak bisa dibawa ke warteg, dan gaya hidup bukan alasan untuk utang. Aku belajar bahwa menjadi muda bukan sekadar umur, tapi keberanian untuk bilang dangan lantang, “Aku belum menyerah, meski kadang gorengan bakwan lebih menggoda daripada mimpi.” Aku, seorang pemuda. Tidak butuh pidato motivasi dari podium tinggi. Aku butuh harga beras yang rendah dan harga diri yang tetap tinggi. Aku tidak antikemajuan, aku hanya ingin maju tanpa ditinggal zaman dan ditindas cicilan. Dan meski hidup seperti benang kusut yang dililit tagihan, aku tetap percaya, cinta bisa tumbuh di atas kesederhanaan. Asal kau mau duduk bersamaku, makan gorengan ceban bertiga, dan tertawa di bawah langit yang sama, maka krisis ini takkan pernah bisa benar-benar merenggutku. Sebab pemuda, sejatinya, adalah makhluk keras kepala yang terus berharap, bahkan ketika satu-satunya yang tersisa hanyalah harapan itu sendiri. * Jakarta, 13 April 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.

Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal

  Hanya ilistrasi. (Gambar: AI).  Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...