Di Selasar kita bisa berdiskusi. Ramai-ramai atau sendiri. Boleh. Sambil minum kopi, merenung atau hanya sekedar berimajinasi, juga boleh. Atau sambil bermimpi dan masturbasi. Pun boleh-boleh saja. Terserah! Silakan saja. Suka-suka.
Sabtu, 12 April 2025
Ketika Gaza Dipindah ke Nusantara
Ketika Gaza Dipindah ke Nusantara
Yoss Prabu
Manusia, bukan barang rongsokan, bisa dipindah-pindahkan saenak udele.
Tapi tentu saja, kita bangsa dermawan. Kita suka menolong. Banjir? Kita kirim mi instan. Gempa? Kita kirim selimut. Perang? Kita kirim… tanah? Atau lebih tepatnya, tawaran untuk hidup di tanah yang sudah sumpek, macet, dan penuh utang. Jenius? Hanya jika Anda percaya bahwa lem aibon adalah nutrisi otak.
*
Bayangkan, Anda sedang sarapan bubur ayam tanpa diaduk, di penjual kaki lima. Ketika tiba-tiba pesawat televisi di kedai sembako, menayangkan siaran, “Pemerintah Indonesia akan menampung dua juta warga Gaza sebagai solusi kemanusiaan dan geopolitik.”
Sendok pun jatuh. Bukan karena kaget, tapi karena bubur ayam Anda baru saja kehilangan statusnya sebagai masalah nasional paling rumit.
Mari kita luruskan dulu. Gagasan ini - memindahkan penduduk Gaza ke Indonesia - adalah seperti mengobati kanker dengan balsem. Memang hangat di awal, tapi mati juga pada akhirnya. Ini ide yang terdengar seperti ucapan diplomatik hasil semedi semalam suntuk, di gua antah berantah. Perpaduan antara secangkir kopi pahit basi dan kurang tidur.
Manusia, bukan barang rongsokan, bisa dipindah-pindahkan saenak udele.
Tapi tentu saja, kita bangsa dermawan. Kita suka menolong. Banjir? Kita kirim mi instan. Gempa? Kita kirim selimut. Perang? Kita kirim… tanah? Atau lebih tepatnya, tawaran untuk hidup di tanah yang sudah sumpek, macet, dan penuh utang. Jenius? Hanya jika Anda percaya bahwa lem aibon adalah nutrisi otak.
Mari kita telaah. Apakah warga Gaza yang sedang dihantam bom saban hari, ingin bangun pagi di pinggiran Bekasi dan ikut arisan RT? Apakah mereka ingin mengganti kebun zaitun dengan kebun sawit ilegal? Atau mungkin, dalam waktu senggang, mereka bisa berdiskusi soal harga cabai naik dengan ibu-ibu di pasar?
Tapi inilah logika dunia modern. Alih-alih menghentikan penjajahan, kita cari lokasi cadangan. Ini seperti melihat rumah orang lain dibakar, lalu menawarkan mereka tenda di halaman rumah kita, bukannya membantu memadamkan apinya. Kemanusiaan yang dikemas dalam kardus logika bengkok. Sungguh jenius.
Dan jangan lupakan yang paling penting, ini bukan hanya soal relokasi. Ini tentang identitas, sejarah, dan hak untuk kembali. Gaza bukan cuma noktah merah di peta, ia adalah luka terbuka, dan memindahkan manusianya bukan solusi, tapi penghapusan. Ibarat melihat seseorang dipukul, lalu mengusulkan agar dia saja yang berangkat ke planet Mars.
Tentu, pejabat akan bilang ini "langkah strategis", "solidaritas sesama Muslim", atau "komitmen kemanusiaan global". Padahal, yang paling strategis dari semua ini adalah mengalihkan perhatian rakyat dari harga beras dan TikTok Shop. Kalau warga Gaza betul-betul datang, mereka mungkin akan kaget. Ternyata, kita juga korban. Korban janji makan bergizi gratis dan cicilan tanpa bunga.
Jadi, apakah ini keputusan jenius atau bodoh? Jawabannya tergantung. Kalau Anda percaya dunia ini dikendalikan oleh dalang-dalang logika bengkok yang bercita rasa kemanusiaan rasa MSG, maka ini jenius. Tapi jika Anda masih punya nalar waras dan sedikit empati, maka ini adalah puncak dari kebodohan absolut berbalut diplomasi.
Karena sesungguhnya, yang butuh dipindah bukan rakyat Gaza, tapi nurani dunia yang sudah lama menetap di pengasingan.
*
Jakarta, 12 April 2025.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal
Hanya ilistrasi. (Gambar: AI). Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...
-
Selamat Pagi Kusibak kabut yang menggantung. Kutatap pagi yang redup. Lembapnya terasa segar di sela rintik yang malu-malu. ...
-
Tulisan ini saya buat ketika saya menjadi anggota dari sebuah grup WA yang admin-nya secara kurang ajar mendaulat saya untuk menjadi narasum...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.