Senin, 14 April 2025

Ijazah Palsu dan Cinta yang Nyata

Hanya ilustrasi. (Gambar: AI). Gerundelan Bang Yoss Begini, ijazah itu kan semacam simbol. Selembar kertas penuh harapan. Ia adalah bukti bahwa seseorang pernah duduk di kelas, tidur di perpustakaan, dan curhat di parkiran kampus soal skripsi yang tak pernah selesai. Tapi akhir-akhir ini, kita jadi harus bertanya ulang, “Kau lulusan mana?” Bukan untuk kagum, tapi untuk cek barcode. Ijazah Palsu dan Cinta yang Nyata Yoss Prabu Negeri ini memang romantis. Segalanya bisa dipalsukan kecuali rasa cinta dan tunggakan kontrakan. Dari nasi padang palsu (yang ternyata cuma nasi uduk dibungkus daun), hingga ijazah palsu yang katanya setara doktor tapi cara tanda tangan masih mirip anak TK belajar alfabet. Lucunya, orang-orang lebih resah kalau gebetannya palsu ketimbang gelar akademik pejabat publik. Cinta palsu? Hati bisa move on. Tapi ijazah palsu? Negara bisa ambyar. Begini, ijazah itu kan semacam simbol. Selembar kertas penuh harapan dan utang warung kopi. Ia adalah bukti bahwa seseorang pernah duduk di kelas, tidur di perpustakaan, dan curhat di parkiran kampus soal skripsi yang tak pernah selesai. Tapi akhir-akhir ini, kita jadi harus bertanya ulang, “Kau lulusan mana?” Bukan untuk kagum, tapi untuk cek barcode. Bayangkan, seseorang yang mengaku lulusan universitas papan atas, ternyata malah tak pernah keluar dari grup WhatsApp alumni SMA. Yang lebih lucu, saat ditanya skripsinya tentang apa, dia jawab, “Oh, saya meneliti tentang pengaruh sabun colek terhadap ekonomi mikro.” Lah? Tapi tentu saja ini bukan sekadar soal kebohongan. Ini soal filosofi. Tentang bagaimana kita membangun negeri di atas gelar-gelar kosong, bukan kompetensi sejati. Kita memilih pemimpin karena "Ir." di depan namanya, padahal kalau disuruh menjawab soal matematika dasar, jawabannya masih "bismillah dulu, ya." Ironis, bukan? Kita hidup di era di mana kejujuran kalah pamor dengan stempel basah. Dimana CV lebih penting dari karakter. Dimana selembar ijazah bisa lebih berharga dari hati nurani. Padahal Plato tak pernah punya gelar S1, tapi pikirannya selalu tentang membangun peradaban. Sedang kita? Gelarnya sampai tiga baris, tapi logikanya belum tentu lulus TPA. Melankolis rasanya. Seperti melihat cinta pertama menikah dengan orang lain. Kita tahu negeri ini punya potensi luar biasa. Anak-anak mudanya cerdas, kreatif, dan sering bikin status di Facebook yang lebih ilmiah dari jurnal kampus. Tapi apa daya, ketika sistem justru memberi panggung pada yang memalsu, bukan pada yang merintis. Namun, di balik satire ini, terselip harapan romantis. Bahwa akan ada masa di mana kejujuran lebih seksi dari status pendidikan. Di mana anak-anak tak perlu curang untuk sukses. Di mana pemimpin kita tak hanya tampan di baliho, tapi juga jujur dalam ijazahnya. Karena, halo... dalam cinta dan dalam negara, keaslian itu segalanya. Kau boleh miskin, kau boleh tak lulus kuliah, tapi jangan palsukan siapa dirimu. Sebab yang palsu hanya akan membuatmu dicintai sebentar, dan ditertawakan selamanya. Dan pada akhirnya, seperti kata penyair patah hati,“Ijazah palsu itu seperti mantan yang manis di awal, tapi bikin trauma bertahun-tahun”. Jakarta, 14 April 2025. *

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.

Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal

  Hanya ilistrasi. (Gambar: AI).  Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...