Di Selasar kita bisa berdiskusi. Ramai-ramai atau sendiri. Boleh. Sambil minum kopi, merenung atau hanya sekedar berimajinasi, juga boleh. Atau sambil bermimpi dan masturbasi. Pun boleh-boleh saja. Terserah! Silakan saja. Suka-suka.
Minggu, 20 April 2025
Emansipasi di Antara Wajan, Wi-Fi, dan Wacana
Hanya ilustrasi. (Gambar: AI).
Sudahkah emansipasi dan pendidikan perempuan di Indonesia terwujud?
Emansipasi di Antara Wajan, Wi-Fi, dan Wacana
Yoss Prabu
Kata orang, emansipasi sudah terwujud. Katanya. Seperti kata mantan yang bilang masih sayang, tapi katanya. Tapi apakah betul perempuan Indonesia hari ini sudah merdeka dari sekat-sekat patriarki, atau sekadar dipindahkan dari dapur ke grup WhatsApp keluarga?
Kita bicara tentang emansipasi, sambil masih menanyakan, “Kapan nikah?” ke perempuan lulusan S2. Kita bicarakan pendidikan perempuan, sambil meragukan kemampuan perempuan jadi pemimpin. Seolah IQ turun drastis saat ovarium aktif.
Di negeri ini, R.A. Kartini dijadikan ikon, tapi bukunya tak pernah dibaca. Namanya dijadikan nama jalan, lalu dilindas mobil-mobil yang tak tahu makna perjuangannya. Setiap 21 April, perempuan diminta pakai kebaya, lalu dipajang di Instagram dengan caption, “Kartini masa kini.” Padahal hidupnya masih dikurung ekspektasi, dan Instagramnya dikurasi seperti etalase toko yang dijaga ketat oleh opini publik.
Pendidikan perempuan? Ya, angka partisipasi makin naik. Tapi coba tanya, berapa banyak yang bebas memilih jurusan, karier, dan pasangan hidup tanpa dibayang-bayangi suara ibu yang bilang, “Nanti laki-laki minder kalau kamu terlalu pintar?”
Mari kita jujur. Emansipasi hari ini seringkali hanya kosmetik. Dandanan luar yang tampak progresif, tapi di dalam, masih penuh catatan kaki. "Boleh pintar, tapi jangan galak", "Boleh sukses, asal tetap masak", "Boleh mandiri, asal jangan lebih kaya dari suami."
Tapi, jangan salah. Perempuan Indonesia itu makhluk paling tangguh setelah cicilan Toyota All New Kijang Innova dan tugas negara. Mereka bisa membaca Derrida, seorang filsuf kontemporer Prancis, sambil gendong anak. Kerja sampai malam lalu masih ditanya kenapa dapur belum bersih. Mereka tak sekadar ingin berdiri sejajar, tapi ingin berdiri bebas, dengan hak untuk memilih diam atau bersuara, untuk menolak atau mencinta, untuk menjadi ibu, CEO, atau penyair yang menulis puisi di bawah langit Jakarta yang penuh polusi dan prasangka.
Ada harapan. Ada perempuan yang kini jadi profesor, petani, pemimpin, pejuang lingkungan, aktivis, dan juga ibu rumah tangga yang mendidik generasi masa depan dengan tangan penuh kasih dan kepala penuh ilmu. Tapi jalan masih panjang, dan tanah ini masih berlumpur patriarki.
Emansipasi bukan sekadar perempuan naik panggung, tapi siapa yang menyalakan lampu. Bukan hanya soal jumlah lulusan perempuan, tapi bagaimana suara mereka didengar. Dan pendidikan bukan sekadar ijazah, tapi keberanian berpikir merdeka.
Jadi, sudahkah emansipasi dan pendidikan perempuan di Indonesia terwujud? Sudah, tapi belum selesai. Karena revolusi ini bukan sprint, tapi marathon. Dan perempuan Indonesia, dengan langkah tegap dan mata berkaca-kaca, terus berlari. Bukan untuk menjadi Kartini, tapi menjadi diri mereka sendiri.
Dan itu, teman-teman, adalah puisi paling indah dalam sejarah bangsa ini.
"Emansipasi di Antara Wajan, Wi-Fi, dan Wacana"
Kata orang, emansipasi sudah terwujud. Katanya. Seperti kata mantan yang bilang masih sayang—katanya. Tapi apakah betul perempuan Indonesia hari ini sudah merdeka dari sekat-sekat spatriarki, atau sekadar dipindahkan dari dapur ke grup WhatsApp keluarga?
Kita bicara tentang emansipasi, sambil masih menanyakan, “Kapan nikah?” ke perempuan lulusan S2. Kita bicarakan pendidikan perempuan, sambil meragukan kemampuan perempuan jadi pemimpin. Seolah IQ turun drastis saat ovarium aktif.
Di negeri ini, R.A. Kartini dijadikan ikon, tapi bukunya tak pernah dibaca. Namanya dijadikan nama jalan, lalu dilindas mobil-mobil yang tak tahu makna perjuangannya. Setiap 21 April, perempuan diminta pakai kebaya, lalu dipajang di Instagram dengan caption, “Kartini masa kini.” Padahal hidupnya masih dikurung ekspektasi, dan Instagramnya dikurasi seperti etalase toko yang dijaga ketat oleh opini publik.
Pendidikan perempuan? Ya, angka partisipasi makin naik. Tapi coba tanya, berapa banyak yang bebas memilih jurusan, karier, dan pasangan hidup tanpa dibayang-bayangi suara ibu yang bilang, “Nanti laki-laki minder kalau kamu terlalu pintar?”
Mari kita jujur. Emansipasi hari ini seringkali hanya kosmetik. Dandanan luar yang tampak progresif, tapi di dalam, masih penuh catatan kaki. "Boleh pintar, tapi jangan galak", "Boleh sukses, asal tetap masak", "Boleh mandiri, asal jangan lebih kaya dari suami."
Tapi, jangan salah. Perempuan Indonesia itu makhluk paling tangguh setelah urusan cicilan Wuling New Cloud EV dan tugas negara. Mereka bisa membaca buku novel perempuan sambil gendong anak, kerja sampai malam lalu masih ditanya kenapa sempak suami masih pada kotor semua. Mereka tak sekadar ingin berdiri sejajar, tapi ingin berdiri bebas, dengan hak untuk memilih diam atau bersuara, untuk menolak atau mencinta, untuk menjadi ibu, CEO, atau penyair yang menulis puisi di bawah langit Jakarta yang penuh polusi dan prasangka.
Ada harapan. Ada perempuan yang kini jadi profesor, petani, pemimpin, pejuang lingkungan, aktivis, dan juga ibu rumah tangga yang mendidik generasi masa depan dengan tangan penuh kasih dan kepala penuh ilmu. Tapi jalan masih panjang, dan tanah ini masih berlumpur patriarki.
Emansipasi bukan sekadar perempuan naik panggung, tapi siapa yang menyalakan lampu. Bukan hanya soal jumlah lulusan perempuan, tapi bagaimana suara mereka didengar. Dan pendidikan bukan sekadar ijazah, tapi keberanian berpikir merdeka.
Jadi, sudahkah emansipasi dan pendidikan perempuan di Indonesia terwujud? Sudah. Tapi belum selesai. Karena revolusi ini bukan sprint, tapi marathon. Dan perempuan Indonesia, dengan langkah tegap dan mata berkaca-kaca, terus berlari. Bukan untuk menjadi Kartini, tapi menjadi diri mereka sendiri.
Dan itu, teman-teman, adalah puisi paling indah dalam sejarah bangsa ini.
Kali ini. Ada sosok perempuan yang menjadi perhatian. R.A. Kartini namanya. Perempuan dengan pena setajam luka dan hati selembut senja Jepara. Ia menulis bukan dengan tinta, tapi dengan air mata yang disulap jadi api. Ia jatuh cinta pada ilmu pengetahuan seperti remaja jatuh cinta pada puisi, pelan, dalam, dan penuh harap. Kini namanya dipuja, tapi pikirannya sering dilupa. Kartini bukan sekadar ibu kebaya dan parade sekolah dasar, tapi pemberontak sunyi yang bertanya, mengapa perempuan harus diam? Ia tak ingin jadi simbol, ia ingin jadi perubahan. Dan kita, generasi Wi-Fi, apakah hanya meneruskan unggahan fotonya atau benar-benar meneruskan perjuangannya?
*
Jakarta, 20 April 2025.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal
Hanya ilistrasi. (Gambar: AI). Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...
-
Selamat Pagi Kusibak kabut yang menggantung. Kutatap pagi yang redup. Lembapnya terasa segar di sela rintik yang malu-malu. ...
-
Tulisan ini saya buat ketika saya menjadi anggota dari sebuah grup WA yang admin-nya secara kurang ajar mendaulat saya untuk menjadi narasum...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.