Di Selasar kita bisa berdiskusi. Ramai-ramai atau sendiri. Boleh. Sambil minum kopi, merenung atau hanya sekedar berimajinasi, juga boleh. Atau sambil bermimpi dan masturbasi. Pun boleh-boleh saja. Terserah! Silakan saja. Suka-suka.
Minggu, 20 April 2025
Surat dari Kartini untuk Masa Depan
Puisi
Surat dari Kartini untuk Masa Depan
Yoss Prabu
Di Jepara, senja jatuh lebih pelan dari biasanya
Kartini, gadis muda dengan mata serupa laut resah
Menulis pada malam yang tidak pernah sepenuhnya gelap
Cahayanya datang dari lentera, dan gelora
Yang tumbuh di dalam dada, sebuah rasa ingin tahu
Yang tak bisa dikurung di balik tembok pingitan
"Adikku di masa depan," tulisnya,
"Aku belum mengenal wajahmu, tapi aku tahu gelisahmu."
Kartini tidak mengangkat senjata
Tapi setiap huruf yang ia goreskan
Lebih tajam dari bilah keris
Dan lebih lantang dari genderang perang
Ia menantang dunia yang berkata,
"Perempuan, duduklah. Diamlah. Terimalah."
Namun ia menulis,
"Mengapa kami tidak boleh bermimpi?"
Sementara angin malam mengusap pipinya,
Ia berbicara pada waktu,
Mengirim surat pada masa depan
Yang belum tentu bersedia menjawab
Di masa kini, kita membuka bukunya
Seperti membuka hati yang sudah lama ditinggalkan
Di sana, ia bicara dengan suara
Yang tak pernah benar-benar mati
"Aku tidak ingin perempuan menjadi laki-laki
Aku ingin perempuan menjadi manusia."
Dan bukankah itu yang paling revolusioner?
Menjadi manusia.
Bukan pelengkap, bukan pelayan, bukan bayang-bayang
Menjadi perempuan yang mencintai dirinya sendiri
Tanpa perlu meminta izin pada siapa pun
Namun dunia modern dengan segala sorot lampu dan tagar di media
kadang lebih licik dari masa Kartini
Ia memberi kebebasan semu
Menukar belenggu kain dengan belenggu citra
Menukar pingitan rumah dengan penjara ekspektasi
Di sebuah kantor bercat putih
Seorang wanita menangis pelan di balik meja
Terbebani ambisi dan luka yang tak ia ceritakan
Di rumah, seorang ibu muda
Menatap jendela sambil menyusui anaknya
Merenungi ijazah yang tergantung bisu di dinding
Di jalan, gadis-gadis muda melangkah
Dengan sepatu hak tinggi dan kepala tegak
Tapi tetap dicegat oleh tatapan yang menelanjangi
Dan suara Kartini kembali menggema
"Bebas bukan berarti tidak lelah
Berjuang bukan berarti tidak ingin dicintai."
Romantis, bukan, perjuangan itu?
Bukan dalam arti mawar dan surat cinta
Tapi dalam keyakinan bahwa
Perubahan bisa lahir dari kesabaran
Bahwa emansipasi bukan perlawanan penuh benci
Melainkan cinta yang cukup besar
Untuk menantang dunia agar lebih adil
Kartini mencintai bangsanya
Perempuannya, dan juga dirinya
Dalam sunyi, dalam luka, dalam harapan
Dan kini, tiap perempuan yang berjalan melawan arus
Tiap ibu yang menyekolahkan anak perempuannya
Tiap gadis yang berani berkata, "Tidak!"
Adalah lanjutan dari surat-surat itu
Kartini tidak mati
Ia tumbuh di buku harian anak sekolah
Ia bernafas dalam mimpi anak petani
Ia bernyanyi dalam tawa perempuan desa
Ia menari dalam mimpi perempuan kota
Ia adalah nyala yang tak bisa padam
Meski angin zaman mencoba meniupnya
Dan di malam paling gelap sekalipun
Ada seberkas cahaya
Yang mengalir dari lentera kecil
Di kamar seorang perempuan muda
Yang sedang menulis dengan bahasa zaman baru
tentang cinta, tentang luka, dan tentang merdeka
*
Jakarta, 20 April 2025.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal
Hanya ilistrasi. (Gambar: AI). Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...
-
Selamat Pagi Kusibak kabut yang menggantung. Kutatap pagi yang redup. Lembapnya terasa segar di sela rintik yang malu-malu. ...
-
Tulisan ini saya buat ketika saya menjadi anggota dari sebuah grup WA yang admin-nya secara kurang ajar mendaulat saya untuk menjadi narasum...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.