Bulan
Kebangkitan Nasional, seharusnya jadi momentum merenung. Kita ini sebenarnya
sudah bangkit atau baru bangun kesiangan? Karena kalau dilihat dari kualitas
bangkitnya, bangsa ini lebih mirip orang yang bangun tidur karena kaget ingat
utang telah jatuh tempo. Lalu buru-buru sikat gigi dengan pasta gigi utang luar
negeri dan sarapan dengan nasi logistik bansos.
*
Bangkit, Tapi
Ke Mana?
Oleh: Yoss
Prabu
Dua puluh
sekian tahun setelah Reformasi, kita masih ribut soal nasi. Bukan nasi goreng
seafood level pedas setan atau nasi Padang ekstra rendang, tapi nasi yang tak
kunjung beras. Nasi yang tak bisa dibeli karena minyak gorengnya duluan hilang,
kemudian subsidi pupuknya disulap jadi proyek, dan terakhir, harga berasnya
bikin kantong jantungan.
Di bulan yang
katanya bulan Kebangkitan Nasional, kita justru lebih sering pingsan karena
lapar, atau karena terlalu kenyang oleh janji-janji.
Reformasi, kata
orang, adalah titik balik. Titik terang setelah gelap gulita selama Orde Baru.
Tapi sayangnya, terang itu seperti lampu taman kota, menyala-mati tergantung
siapa yang punya akses ke saklar.
Kita memang
bebas berbicara, bebas protes, bebas nyinyir di medsos, tapi kadang lupa kalau
kebebasan itu tak disertai tanggung jawab adalah kedunguan berjamaah. Dan di
negeri ini, kedunguan sering kali lebih laku ketimbang kebenaran itu sendiri. Yang
waras disuruh minggir, yang kritis dituduh makar, yang lapar disuruh sabar, dan
yang kenyang terus-terusan pidato tentang kesabaran.
Lucu, memang.
Bangsa ini seperti orang yang baru saja sembuh dari flu berat tapi langsung
daftar lari maraton. Nafas belum pulih, stamina belum ada, tapi sudah ingin
jadi negara maju.
Pagi bicara
transformasi digital, siangnya antre BLT. Sore hari pidato tentang kemandirian
pangan, malamnya, nulis status di medsos soal gagal panen dan impor beras.
Ironi sudah menjadi
menu harian, dan kita mengunyahnya tanpa garam, karena garam juga mahal. Lebih
sering langsung ditelan tanpa dikunyah.
Reformasi dan
repot nasi, dua wajah dari satu koin yang dilempar entah oleh siapa. Reformasi
mengajarkan kita bahwa rakyat adalah tuan, tapi repot nasi membisikkan bahwa
rakyat tetap budak pasar. Harga naik, subsidi dicabut, dan semua dibungkus
dengan istilah keren seperti “efisiensi fiskal” atau “kebijakan penyesuaian”.
Padahal, dalam bahasa rakyat, artinya cuma satu, lu tahan lapar, gue tetap
dapat jatah.
Bulan
Kebangkitan Nasional, seharusnya jadi momentum merenung. Kita ini sebenarnya
sudah bangkit atau baru bangun kesiangan? Karena kalau dilihat dari kualitas
bangkitnya, bangsa ini lebih mirip orang yang bangun tidur karena kaget ingat
utang telah jatuh tempo. Lalu buru-buru sikat gigi dengan pasta gigi utang luar
negeri dan sarapan dengan nasi logistik bansos.
Bangkit itu
harusnya bukan cuma soal berdiri, tapi tahu ke mana akan melangkah. Masalahnya,
kita terlalu sering bangkit tanpa arah. Seperti zombie di film-film horor,
berkeliaran sambil mengerang, menggigit apa saja yang bisa digigit. Terutama
subsidi dan idealisme.
Pertanyaannya sederhana.
Biar pun terdengar sok. Ke mana bangsa ini akan berjalan? Waduh!
Mungkin ke
pusat perbelanjaan, karena diskon cuci gudang selalu lebih menggiurkan daripada
nilai kebangsaan itu sendiri. Atau ke TPS, tempat di mana kita disuruh memilih
antara dua versi masa lalu, yang dimodifikasi jadi masa depan palsu. Atau
jangan-jangan kita hanya berjalan di tempat, tapi dilengkapi efek suara
marching band. Biar kelihatan heroik?
Kebangkitan
Nasional seolah jadi upacara tahunan di mana para elite mengenakan batik,
menyisipkan kata “nasionalisme” dalam pidato, lalu kembali ke ruangan ber-AC
untuk melanjutkan rapat tentang siapa yang akan duduk di kursi kekuasaan
berikutnya. Sementara rakyat? Tetap bergumul dengan harga beras, ojek online,
dan sinetron yang rating-nya tinggi karena realita terlalu muram untuk ditonton
tanpa tisu.
Reformasi
adalah anak kandung dari amarah kolektif. Tapi seperti banyak anak yang lahir
dari trauma, ia tumbuh dengan luka. Bingung siapa bapaknya, dan sering dimarahi
karena dianggap gagal. Padahal, yang gagal bukan anaknya, tapi lingkungan yang
tidak memberi ruang bagi pertumbuhan. Lihatlah parlemen, dulu dikecam karena
terlalu pro-pemerintah, sekarang dikecam karena terlalu sibuk selfie dan
liburan. Atau tidur saat sidang.
Kita punya
kebebasan pers, tapi media besar lebih sibuk mengejar klik daripada kebenaran.
Kita punya pemilu bebas, tapi hasilnya seringkali seperti sinetron TV swasta, plot-nya
gampang ditebak. Tokohnya itu-itu saja, dan ending-nya bikin frustasi. Kita
punya ribuan regulasi, tapi hukum tetap lentur seperti tali kolor yang longgar,
bisa ditarik sesuai siapa yang pegang ujungnya.
Repot nasi,
ironisnya, lebih menyentuh rakyat daripada wacana reformasi. Karena lapar itu
konkret. Karena gas 3 kilo itu bisa habis sebelum janji politik ditepati.
Karena pendidikan itu mahal dan kesehatan itu ruwet. Maka jangan heran kalau
rakyat lebih peka pada diskon di mall daripada debat capres. Karena yang satu
menyelamatkan dompet – jangan bicara tentang nomor rekening – yang lain cuma
memperpanjang putaran wacana.
Tapi apakah
semuanya itu suram? Tidak juga. Masih ada guru yang mengajar dengan gaji
pas-pasan tapi semangat luar biasa. Masih ada petani yang menanam tanpa subsidi
tapi tetap tersenyum. Masih ada seniman, mahasiswa, tukang ojek, ibu warteg, tukang
gorengan, yang semua menyimpan bara kecil harapan dalam kehidupan sehari-hari
mereka. Bara yang tak kunjung padam meski angin politik terus bertiup tak tentu
arah.
Mereka ini
pahlawan reformasi yang sebenarnya. Bukan yang duduk di rapat, tapi yang
berdiri di antrean minyak goreng. Bukan yang pidato, tapi yang diam-diam
menolong tetangga tanpa konten. Mereka yang tahu bahwa kebangkitan tidak perlu
panggung besar, cukup hati yang tetap nyala meski listrik sering mati.
Jadi ke mana
bangsa ini akan berjalan?
Itu tergantung
siapa yang kita izinkan untuk membawa peta. Kalau masih yang sama, yang dulu
mengkhianati janji, menyulap reformasi jadi proyek, menjadikan nasi sebagai
alat politik, maka kita akan berputar-putar di labirin kebodohan yang sama.
Tapi jika kita berani berpikir, memilih, dan bertindak di luar naskah lama,
maka arah baru bisa terbuka.
Reformasi belum
mati. Ia cuma diculik oleh mereka yang paling vokal meneriakkan namanya. Dan
repot nasi, meski menyakitkan, bisa jadi alarm untuk membangunkan kita dari
mimpi demokrasi yang palsu.
Bangsa ini bisa
berjalan, asal kita tahu bahwa kebangkitan tidak datang dari atas, tapi dari
bawah. Dari meja makan yang kosong. Dari ruang kelas yang pengap. Dari hati
yang terus bertanya, apakah kita hanya lahir untuk bertahan hidup, atau untuk
mengubah nasib bersama?
Jawabannya ada
di diri masing-masing. Di balik sepiring nasi – hanya nasi, tanpa lauk – yang
mulai dingin, dan dalam suara-suara kecil yang tak mau diam lagi.
Lalu ke mana
bangsa ini akan berjalan?
Sering muak
juga, kalau ada yang terlalu bangga mengatakan, “Reformasi sudah berjalan.”
Padahal, kita tak sadar bahwa yang berjalan mungkin cuma para elite di karpet
merah, bukan gagasan-gagasan besar yang dulu diperjuangkan di jalanan. Mereka
yang dulu berani berteriak “Turunkan Soeharto!” Kini lebih berani menekan
tombol mute ketika melihat kemiskinan terpampang nyata di depan mata.
Reformasi itu,
idealnya seperti nasi yang baru matang. Hangat, masih berasap, mengenyangkan, dan merakyat. Tapi mengandung
glukosa tinggi yang dapat memicu guka darah naik. Apa daya, yang kita dapat
seringkali adalah nasi sisa, basi, dan dibungkus dengan plastik pidato tentang
pertumbuhan ekonomi. Padahal, rakyat miskin tak butuh teori ekonomi, cukup
warteg yang anteng, tanpa menaikkan harga.
Sementara
pejabat butuh segalanya, data, grafik, PR consultant, bahkan nasi kotak saat
rapat tentang kelaparan rakyat.
Ada ironi yang
mengendap di setiap sudut negeri ini. Para elite politik menyebut negeri ini
sebagai bangsa yang besar – yang katanya beradab, religius, dan ramah – tapi
masih tega membiarkan anak-anak gizi buruk tumbuh di tengah baliho pencitraan. Makan
bergizi graits. Kita merayakan Hari Kebangkitan Nasional dengan upacara di
lapangan luas, sementara sebagian rakyat bangkit dari tidur bukan karena
semangat, tapi karena lapar yang tak bisa ditunda.
Apakah ini yang
dimaksud dengan “Indonesia Maju?” Kalau ya, maka mungkin definisi kemajuan itu
sudah direvisi oleh mereka yang tak pernah mengantre minyak goreng atau merasa
sesak di dalam angkot.
Reformasi telah
melahirkan kebebasan, tapi kebebasan tanpa pemerataan hanya akan menghasilkan
dua hal, frustrasi dan stand up comedy.
Dan kita tahu, di negeri ini, komedi sudah jadi bagian dari kehidupan dan
berita utama.
Kebangkitan
Nasional selalu dipentaskan ulang setiap Mei dengan narasi bak sinetron. Rakyat
bersatu, penjajahan ditolak, masa depan dijanjikan. Tapi siapa yang menulis
naskahnya? Siapa yang dapat peran utama dan siapa yang cuma jadi figuran?
Setelah
Reformasi, kita punya banyak saluran politik. Tapi yang mengalir tetap air
kotor dari comberan ambisi. Partai-partai bermekaran seperti jamur setelah
hujan, tapi jamur yang tumbuh bukan untuk dikonsumsi rakyat, melainkan untuk
disantap para elite yang tengah lapar kekuasaan. Setelah lelah berpidato.
Pidato gombal. Demokrasi kita seperti pasar malam, ramai, gemerlap, tapi isinya
permainan tipu-tipu. Yang menang bukan yang jujur, tapi yang lihai
menyembunyikan niat busuk di balik senyum palsu.
Kita begitu
terobsesi pada pemilihan umum, tapi lupa bahwa esensi demokrasi bukan hanya
memilih, melainkan juga menjaga agar yang dipilih tidak berubah jadi monster.
Kita memuja debat capres, tapi lupa bahwa debat itu sering lebih mirip audisi stand
up comedy daripada adu gagasan. Kita menyuruh rakyat pintar memilih, padahal
kita sendiri membiarkan informasi dibajak oleh influencer, bukan intelektual.
Dan ketika
rakyat lelah, bingung, dan marah, maka muncul mantra sakti, “Sabar, semua butuh
proses.”
Sabar? Sabar
sudah jadi kata paling laris di negeri ini. Bahkan lebih laris dari beras. Tapi
sabar yang dimaksud seringkali adalah bentuk pengalihan. Ketika harga kebutuhan
pokok naik, rakyat disuruh sabar. Ketika jalanan rusak, rakyat diminta sabar.
Ketika korupsi merajalela, rakyat diajak sabar. Karena katanya, yang penting
ekonomi makro stabil. Padahal rakyat tak pernah makan ekonomi makro. Mereka
makan nasi. Dan kadang, cuma makan gorengan. Plus, lontong isi oncom.
Cobalah
sesekali nongkrong di warung kopi sederhana, bukan di kafe fancy tempat elite
berkongsi. Di sana, kita akan tahu arah bangsa ini sebenarnya. Bukan dari
headline koran, tapi dari curhatan orang yang kehilangan pekerjaan. Keluh dari para
pedagang kecil yang kehabisan modal. Bukan dari riset lembaga survei, tapi dari
ibu-ibu yang kesulitan beli minyak dan popok anak.
“Reformasi? Itu
kan zaman kita masih muda, Mas. Sekarang mah... hidup aja susah.” Kalimat itu
mungkin terdengar sederhana, tapi isinya menggugat seluruh narasi besar.
Kebangkitan
Nasional bukanlah seremoni, tapi soal bagaimana rakyat bisa bangkit dari
impitan hidup. Kalau rakyat tak bisa beli nasi, maka tak usah bicara reformasi.
Karena tanpa keadilan ekonomi, semua kebebasan adalah setengah hati. Pun setengah
mati.
Di warung, kita
bisa melihat bagaimana bangsa ini berjalan, bukan lurus ke depan, tapi berputar
di jalan yang sama, tersandung masalah lama yang diberi nama baru. Korupsi
berganti baju jadi “maladministrasi”. Penggusuran diberi label “penataan
kawasan”. Kenaikan harga disebut “penyesuaian pasar”.
Semuanya
terdengar indah, sampai kita sadar bahwa bahasa-bahasa itu hanya kamuflase dari
ketidakadilan struktural yang dilestarikan.
Ke mana bangsa
ini akan berjalan?
Jawaban
klisenya, menuju Indonesia Emas 2045. Tapi apakah emas itu untuk semua, atau
hanya untuk mereka yang punya tambang?
Bangsa ini bisa
maju, tapi bukan karena pidato atau proyek. Bangsa ini akan berjalan benar
kalau kita berani jujur. Bahwa reformasi belum selesai, dan repot nasi bukan
sekadar urusan dapur, tapi cermin dari ketimpangan sosial yang nyata. Kalau
anak petani dan anak pemulung tetap susah sekolah, kalau pemilu hanya untuk
elite, maka kita tidak sedang bangkit. Tapi sedang disuruh pura-pura bangkit.
Nasionalisme
bukan soal bendera dan lagu kebangsaan, tapi soal berani menatap realitas dan
memperbaikinya. Berani mengatakan, “Yang salah, tetap salah. Yang lapar, harus
diberi makan. Yang tertindas, harus dibela. Dan yang mengkhianati reformasi,
tak boleh dipilih lagi meski senyumnya manis.” Kelewat manis, malah.
Bangsa ini bisa
berjalan ke arah yang benar jika kita, rakyatnya, berhenti jadi penonton dan
mulai jadi aktor perubahan. Kita butuh lebih banyak guru yang mengajar bukan
karena gaji, tapi karena cinta pada pengetahuan. Kita butuh lebih banyak petani
yang tidak ditinggalkan oleh kebijakan. Kita butuh pemimpin yang bukan hanya
bisa bicara, tapi juga berani mendengar. Meski dibilang planga-plongo ketika
banyak mendengar saat rapat.
Reformasi bukan
dongeng. Ia adalah luka yang masih terbuka. Tapi dari luka itu, bisa tumbuh
harapan, asal kita tak lagi mendiamkannya dengan sabar palsu. Dan repot nasi
bukan aib, tapi alarm. Alarm bahwa kebangkitan bukan seremoni, tapi perjuangan
agar semua bisa makan dengan layak, hidup dengan bermartabat, dan tidak mati saat
antre bansos.
Ke mana bangsa
ini akan berjalan?
Semoga ke arah
kejujuran, keberanian, dan secangkir kopi yang diminum bersama dalam meja
keadilan, bukan meja rapat elite yang gemar mengatur takdir rakyat dari balik
jendela kedap suara.
*
Jakarta, 20 Mei
2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.