Sabtu, 24 Mei 2025

Jangan Dulu Bilang Plagiat, Bisa Jadi Itu Cuma Kebetulan Semesta

 


Teruslah berkarya. Jangan ciut hanya karena satu tuduhan tak berdasar. Jangan menyerah karena satu komen netizen yang mungkin nulisnya sambil rebahan, tidak mandi, dan mengira dirinya juri agung sastra semesta.

 

Jangan Dulu Bilang Plagiat, Bisa Jadi Itu Cuma Kebetulan Semesta

Oleh: Yoss Prabu

 

Ah, dunia literasi, tempat kata-kata menari, ide-ide bersenggama dalam kepala, dan penulis duduk memandangi kursor seperti mantan yang tak kunjung balas chat. Dan tiba-tiba, datanglah komentar sakti dari negeri para netizen. "Eh, ini mirip banget sama tulisan si itu. Plagiat, nih!"

Lalu semua sunyi. Kata-kata yang tadi menari jadi bungkam. Kursor pun berhenti berkedip. Penulis termenung seperti tokoh utama dalam sinetron episode ke-872 saat tahu ibu kandungnya ternyata juga ibu kandung sahabatnya.

Plagiat. Kata itu berat, Bung. Bahkan lebih berat dari mantan yang sekarang pacaran sama sahabat sendiri. Sebab sekali dilempar, bisa membuat orang yang dituduh berubah dari penulis menjadi terdakwa, dari kreator menjadi kriminal kata.

Padahal, coba kita tanya dulu dengan lembut dan penuh estetika, "Mas, Mbak, Kang, ini tulisannya mirip sama yang pernah saya baca. Boleh tahu referensinya dari mana?"

Bukan langsung, "Plagiat lu!" Karena, jujur saja, itu terdengar seperti sirene mobil pemadam, bising, mendadak, dan kadang malah bikin panik satu keludahan.

Kalau kamu menuduh seseorang copypaste, tunjukkanlah buktinya. Paragraf ke berapa? Kalimat ke berapa? Sumber dari mana? Jangan asal main tuduh, seperti anak kecil yang nuduh temannya nyolong cilok padahal yang makan cilok itu dia sendiri.

Karena kalau kamu tak bisa tunjukkan dengan jelas, itu bukan kritik. Itu fitnah. Dan fitnah, teman-teman, bukan cuma lebih kejam dari pembunuhan seperti kata ustaz di pengajian RT. Di KUHP, itu bisa kena pasal pencemaran nama baik.

Coba bayangkan. Seorang penulis yang menumpahkan hatinya dalam kata, begadang semalaman, nulis sambil ngopi sampai asam lambung naik, tiba-tiba dituduh nyontek. Padahal inspirasi itu datang dari hujan yang jatuh di kaca jendela. Dari bau buku tua. Dari lagu Peterpan tahun 2005 yang masih mengendap di playlist Spotify. Bukan dari hasil copas Google.

Tapi kan mirip? Ya, Namanya juga manusia. Kadang pikirannya berjodoh. Ide bisa berpapasan seperti dua orang asing yang tiba-tiba jatuh cinta di kereta Commuter Line. Apakah itu disebut nyontek? Tidak. Itu namanya resonansi semesta.

Dan kalaupun ternyata memang ada kemiripan, mari bicara baik-baik. Saling konfirmasi. Saling klarifikasi. Dunia literasi itu dunia cinta, bukan dunia adu bacot kayak debat calon ketua BEM.

Teruslah berkarya. Jangan ciut hanya karena satu tuduhan tak berdasar. Jangan menyerah karena satu komen netizen yang mungkin nulisnya sambil rebahan, tidak mandi, dan mengira dirinya juri agung sastra semesta.

Karena menulis itu ibadah kata. Kita sedang mengubah resah jadi paragraf, luka jadi puisi, rindu jadi prosa, dan kadang..., fitnah pun bisa kita ubah jadi motivasi. Dan kepada kalian yang gemar tuduh-menuduh, ingatlah, Di dunia ini banyak hal yang bisa kamu salin, kata orang, gaya orang, gaya hidup orang, tapi satu yang tidak bisa kamu copy-paste: integritas.
Itu harus ditulis sendiri, dalam hidupmu. Dengan tinta kejujuran.

Jadi, lain kali sebelum kamu bilang, "Ini tulisan kayaknya hasil nyontek!"
Pastikan kamu sudah mandi, baca tuntas, dan bawa bukti.

Kalau tidak, lebih baik duduklah diam, seduh teh, dan baca ulang tulisan itu. Siapa tahu, kamu malah jatuh cinta.

Dan itu bukan plagiat. Itu takdir literasi.

*

Jakarta, 24 Mei 2025

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.

Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal

  Hanya ilistrasi. (Gambar: AI).  Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...