Teruslah
berkarya. Jangan ciut hanya karena satu tuduhan tak berdasar. Jangan menyerah
karena satu komen netizen yang mungkin nulisnya sambil rebahan, tidak mandi,
dan mengira dirinya juri agung sastra semesta.
Jangan Dulu
Bilang Plagiat, Bisa Jadi Itu Cuma Kebetulan Semesta
Oleh: Yoss
Prabu
Ah, dunia
literasi, tempat kata-kata menari, ide-ide bersenggama dalam kepala, dan
penulis duduk memandangi kursor seperti mantan yang tak kunjung balas chat. Dan
tiba-tiba, datanglah komentar sakti dari negeri para netizen. "Eh, ini
mirip banget sama tulisan si itu. Plagiat, nih!"
Lalu semua
sunyi. Kata-kata yang tadi menari jadi bungkam. Kursor pun berhenti berkedip.
Penulis termenung seperti tokoh utama dalam sinetron episode ke-872 saat tahu
ibu kandungnya ternyata juga ibu kandung sahabatnya.
Plagiat. Kata
itu berat, Bung. Bahkan lebih berat dari mantan yang sekarang pacaran sama
sahabat sendiri. Sebab sekali dilempar, bisa membuat orang yang dituduh berubah
dari penulis menjadi terdakwa, dari kreator menjadi kriminal kata.
Padahal, coba
kita tanya dulu dengan lembut dan penuh estetika, "Mas, Mbak, Kang, ini
tulisannya mirip sama yang pernah saya baca. Boleh tahu referensinya dari
mana?"
Bukan langsung,
"Plagiat lu!" Karena, jujur saja, itu terdengar seperti sirene mobil
pemadam, bising, mendadak, dan kadang malah bikin panik satu keludahan.
Kalau kamu
menuduh seseorang copypaste, tunjukkanlah buktinya. Paragraf ke berapa? Kalimat
ke berapa? Sumber dari mana? Jangan asal main tuduh, seperti anak kecil yang
nuduh temannya nyolong cilok padahal yang makan cilok itu dia sendiri.
Karena kalau
kamu tak bisa tunjukkan dengan jelas, itu bukan kritik. Itu fitnah. Dan fitnah,
teman-teman, bukan cuma lebih kejam dari pembunuhan seperti kata ustaz di pengajian
RT. Di KUHP, itu bisa kena pasal pencemaran nama baik.
Coba bayangkan.
Seorang penulis yang menumpahkan hatinya dalam kata, begadang semalaman, nulis
sambil ngopi sampai asam lambung naik, tiba-tiba dituduh nyontek. Padahal
inspirasi itu datang dari hujan yang jatuh di kaca jendela. Dari bau buku tua.
Dari lagu Peterpan tahun 2005 yang masih mengendap di playlist Spotify. Bukan
dari hasil copas Google.
Tapi kan mirip?
Ya, Namanya juga manusia. Kadang pikirannya berjodoh. Ide bisa berpapasan
seperti dua orang asing yang tiba-tiba jatuh cinta di kereta Commuter Line.
Apakah itu disebut nyontek? Tidak. Itu namanya resonansi semesta.
Dan kalaupun
ternyata memang ada kemiripan, mari bicara baik-baik. Saling konfirmasi. Saling
klarifikasi. Dunia literasi itu dunia cinta, bukan dunia adu bacot kayak debat
calon ketua BEM.
Teruslah
berkarya. Jangan ciut hanya karena satu tuduhan tak berdasar. Jangan menyerah
karena satu komen netizen yang mungkin nulisnya sambil rebahan, tidak mandi,
dan mengira dirinya juri agung sastra semesta.
Karena menulis
itu ibadah kata. Kita sedang mengubah resah jadi paragraf, luka jadi puisi, rindu
jadi prosa, dan kadang..., fitnah pun bisa kita ubah jadi motivasi. Dan kepada
kalian yang gemar tuduh-menuduh, ingatlah, Di dunia ini banyak hal yang bisa
kamu salin, kata orang, gaya orang, gaya hidup orang, tapi satu yang tidak bisa
kamu copy-paste: integritas.
Itu harus ditulis sendiri, dalam hidupmu. Dengan tinta kejujuran.
Jadi, lain kali
sebelum kamu bilang, "Ini tulisan kayaknya hasil nyontek!"
Pastikan kamu sudah mandi, baca tuntas, dan bawa bukti.
Kalau tidak,
lebih baik duduklah diam, seduh teh, dan baca ulang tulisan itu. Siapa tahu,
kamu malah jatuh cinta.
Dan itu bukan
plagiat. Itu takdir literasi.
*
Jakarta,
24 Mei 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.