Jumat, 23 Mei 2025

Terapi Diri dengan Menulis dan Sholawat Syifa


Lucu ya, kita ini sering pura-pura bahagia demi banyaknya “like” di medsos, tapi lupa menata isi dada. 

Terapi Diri dengan Menulis dan Sholawat Syifa

Oleh: Yoss Prabu

 

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ طِبِّ الْقُلُوْبِ وَدَوَائِهَا وَعَافِيَةِ اْلأَبْدَانِ وَشِفَائِهَا وَنُوْرِ اْلأَبْصَارِ وَضِيَائِهَا وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

 

Ada yang bilang, menulis itu seperti menangis tapi lewat huruf. Dan sholawat, katanya, pelukan Tuhan yang tak kelihatan tapi bisa menggetarkan hati yang beku. Saya menulis dan bersholawat seperti orang yang mencintai diam-diam, penuh harap tapi sadar diri. Kita ini manusia modern, katanya. Punya gadget canggih, akun medsos, dan luka-luka yang dikemas dengan filter aesthetic. Tapi luka tetaplah luka. Diposting atau tidak, tetap terasa ngilu.

Maka saya menulis. Bukan untuk jadi hebat, tapi untuk tidak jadi gila.

Dan sholawat? Ah, itu lebih dari terapi. Itu seperti cinta yang tak pernah ditolak. Kita baca satu kali, Tuhan balas sepuluh. Sudah seperti promo belanja online, tapi jauh lebih tulus dan tidak butuh voucher.

Pernah suatu malam, saya menulis surat pada diri saya sendiri,“Wahai saya, yang sering pura-pura kuat, bagaimana rasanya jadi kamu? Selalu tersenyum saat nyatanya ingin menjerit di toilet umum.”

Saya menulis, bersholawat, dan menangis dalam sunyi yang tidak bisa dipamerkan di status medsos. Malam itu, kertas-kertas menjadi saksi bahwa manusia kadang hanya butuh didengar, bahkan oleh dirinya sendiri.

Menulis dan bersholawat adalah dua hal yang membuat saya merasa utuh dalam kepingan. Satunya membebaskan rasa, satunya menenangkan jiwa. Satunya mengizinkan saya mengutuki hidup dengan bahasa indah, satunya mengajak saya berdamai dengan yang Mahamengatur.

Lucu ya, kita ini sering pura-pura bahagia demi banyaknya “like” di medsos, tapi lupa menata isi dada. Kita khatam drama Korea, tapi belum tentu khatam menyebut nama Nabi. Kita sibuk menulis caption romantis, tapi lupa menulis permohonan maaf pada diri sendiri.

Cinta tak harus pada manusia. Bisa juga pada momen-momen ketika Anda baca, “Allahummashalli ‘ala Sayyidina Muhammad…” Lalu tiba-tiba hatimu tenang, seolah Rasul datang dan menepuk pundakmu sambil berkata, “Aku juga dulu pernah letih.”

Ada keindahan dalam sholawat yang tak bisa dijelaskan algoritma. Seperti menulis puisi yang hanya Anda dan Tuhan yang tahu maknanya. Seperti mengirim pesan rindu pada kekasih yang tak pernah meninggalkan Anda, meski Anda sering lupa menyapa.

Jadi, inilah terapi saya, menulis dan bersholawat. Menulis agar dunia tahu, saya pernah terluka. Bersholawat supaya langit tahu, saya masih percaya bahwa, di balik semua tumpukan tulisan yang belum selesai, cicilan, dan harapan keluarga. Istri, anak-anak dan cucu. Masih ada hati yang ingin sembuh, perlahan-lahan. Dengan kata. Dengan dzikir. Dengan cinta yang tak lagi minta balasan, cukup diterima Tuhan.

Dan jika Anda bertanya, bagaimana saya bertahan hidup di tengah dunia yang absurd ini? Saya akan menjawab dengan senyum sinis dan mata berkaca, “Saya menulis. Saya bersholawat. Sisanya? Biar semesta yang menertawakan.”

*

Jakarta,22 Mei 2025  

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.

Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal

  Hanya ilistrasi. (Gambar: AI).  Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...