Lucu ya, kita ini sering pura-pura bahagia demi banyaknya “like” di medsos, tapi lupa menata isi dada.
Terapi Diri dengan Menulis dan Sholawat Syifa
Oleh:
Yoss Prabu
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ طِبِّ الْقُلُوْبِ وَدَوَائِهَا وَعَافِيَةِ اْلأَبْدَانِ وَشِفَائِهَا
وَنُوْرِ اْلأَبْصَارِ وَضِيَائِهَا وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ
Ada
yang bilang, menulis itu seperti menangis tapi lewat huruf. Dan sholawat,
katanya, pelukan Tuhan yang tak kelihatan tapi bisa menggetarkan hati yang
beku. Saya menulis dan bersholawat seperti orang yang mencintai diam-diam, penuh
harap tapi sadar diri. Kita ini manusia modern, katanya. Punya gadget canggih,
akun medsos, dan luka-luka yang dikemas dengan filter aesthetic. Tapi luka
tetaplah luka. Diposting atau tidak, tetap terasa ngilu.
Maka saya menulis. Bukan untuk jadi
hebat, tapi untuk tidak jadi gila.
Dan sholawat? Ah, itu lebih dari
terapi. Itu seperti cinta yang tak pernah ditolak. Kita baca satu kali, Tuhan
balas sepuluh. Sudah seperti promo belanja online, tapi jauh lebih tulus dan
tidak butuh voucher.
Pernah suatu malam, saya menulis surat
pada diri saya sendiri,“Wahai saya, yang sering pura-pura kuat, bagaimana
rasanya jadi kamu? Selalu tersenyum saat nyatanya ingin menjerit di toilet
umum.”
Saya menulis, bersholawat, dan menangis
dalam sunyi yang tidak bisa dipamerkan di status medsos. Malam itu,
kertas-kertas menjadi saksi bahwa manusia kadang hanya butuh didengar, bahkan
oleh dirinya sendiri.
Menulis dan bersholawat adalah dua hal
yang membuat saya merasa utuh dalam kepingan. Satunya membebaskan rasa, satunya
menenangkan jiwa. Satunya mengizinkan saya mengutuki hidup dengan bahasa indah,
satunya mengajak saya berdamai dengan yang Mahamengatur.
Lucu ya, kita ini sering pura-pura
bahagia demi banyaknya “like” di medsos, tapi lupa menata isi dada. Kita khatam
drama Korea, tapi belum tentu khatam menyebut nama Nabi. Kita sibuk menulis
caption romantis, tapi lupa menulis permohonan maaf pada diri sendiri.
Cinta tak harus pada manusia. Bisa juga
pada momen-momen ketika Anda baca, “Allahummashalli ‘ala Sayyidina Muhammad…” Lalu
tiba-tiba hatimu tenang, seolah Rasul datang dan menepuk pundakmu sambil
berkata, “Aku juga dulu pernah letih.”
Ada keindahan dalam sholawat yang tak
bisa dijelaskan algoritma. Seperti menulis puisi yang hanya Anda dan Tuhan yang
tahu maknanya. Seperti mengirim pesan rindu pada kekasih yang tak pernah
meninggalkan Anda, meski Anda sering lupa menyapa.
Jadi, inilah terapi saya, menulis dan
bersholawat. Menulis agar dunia tahu, saya pernah terluka. Bersholawat supaya
langit tahu, saya masih percaya bahwa, di balik semua tumpukan tulisan yang
belum selesai, cicilan, dan harapan keluarga. Istri, anak-anak dan cucu. Masih
ada hati yang ingin sembuh, perlahan-lahan. Dengan kata. Dengan dzikir. Dengan
cinta yang tak lagi minta balasan, cukup diterima Tuhan.
Dan jika Anda bertanya, bagaimana saya
bertahan hidup di tengah dunia yang absurd ini? Saya akan menjawab dengan
senyum sinis dan mata berkaca, “Saya menulis. Saya bersholawat. Sisanya? Biar
semesta yang menertawakan.”
*
Jakarta,22 Mei 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar. Berupa saran, kesan dan kritik membangun.