Kamis, 28 Agustus 2025

Ketika Jalanan Menulis Gorengan Pun Ikut Bicara

 


Pengantar

 

Kang Juhi, pedagang gorengan. Tinggal seorang diri, di sebuah kamar kontrakan, di pinggiran Jakarta. Namun ia bisa berada di mana saja, dan bertemu dengan siapa saja. Karena ia hanya semacam simbol yang mewakili suatu kelompok masyarakat marjinal, yang alam bawah sadarnya terkadang mengejawantah ke berbagai dimensi kehidupan. Kang Juhi mengamati lalu batinnya mengkritisi berbagai aspek kehidupan yang sering kali menyimpang menurut penalaran akal sehat Kang Juhi. Apakah penalaran batinnya bisa dipertanggungjawabkan? Perlu diskusi lebih lanjut. Karena ia hanya penjual gorengan, yang tak menarik perhatian. Dibutuhkan tatkala tak ada pilihan.

Namanya juga dongeng.

*

Ketika Jalanan Menulis Gorengan Pun Ikut Bicara

Oleh: Yoss Prabu

 

Namanya Juhi. Tapi orang-orang menyapa dengan Kang Juhi. Penjual gorengan. Kontrakan cuma sepetak, di pinggir Jakarta, dekat got yang apabila hujan turn suka berubah jadi kali. Sungai. Saya hidup sendirian, anak istri di kampung. Di kontrakan ini Kang Juhi ditemani dengung kipas angin dan suara tikus yang kadang lebih berisik daripada televisi. Tapi jangan salah, walau badan di sini, pikiran Kang Juhi bisa nyelonong ke mana-mana.

Kang Juhi ini bukan siapa-siapa. Orang cuma mencarin kalau sedang lapar mendadak dan tidak ada pilihan lain selain gorengan tahu isi yang sudah agak dingin. Tapi justru dari tempat remeh seperti beginilah ia bisa melihat wajah asli kehidupan, wajah yang sering disembunyikan kamera televisi, tapi muncul jelas di jalanan.

Dan hari ini, jalanan itu bukan lagi milik klakson angkot atau ojol yang tancap gas sembarangan. Hari ini panggungnya buruh.

Opera Buruh di Gatot Subroto. Kang Juhi, hanya kebetulan lewat.

Jakarta lagi-lagi berdandan. Bukan buat konser Coldplay atau resepsi artis yang disiarkan infotainment, tapi buat demo buruh. Kang Juhi melihat ribuan orang keluar dari bus, truk, motor, bahkan ada yang berjalan kaki. Mereka datang dari Bekasi, Karawang, Depok, Bogor, Tangerang. Dari segala arah, seperti pasukan semut yang rela berjalan jauh demi sebutir kecil gula. Keadilan.

Temanya sederhana, tapi dalam. “Hapus Outsourcing – daripada mengerjakan semuanya sendiri, perusahaan “menyewa” pihak luar yang lebih ahli atau lebih murah untuk menangani tugas tertentu – Tolak Upah Murah.” Disingkat jadi HOSTUM. Lucunya, terdengar seperti nama band indie yang main di kafe pinggir jalan. Tapi jangan salah, HOSTUM ini bukan buat nyanyi-nyanyi, ini untuk meneriakkan kehidupan.

Polisi sudah siap dengan rombongan motor besar, rompi, dan wajah datar. Katanya lalu lintas bakal direkayasa situasional. Situasional itu artinya kalau massa gede, jalan ditutup. Kalau kecil, dibiarkan. Persis seperti percintaan di kota ini. Kalau terlalu ramai, jalan lain. Kalau sepi, ya monggo lewat. Kang Juhi jadi berpikir, jangan-jangan polisi itu diam-diam juga filsuf.

Tapi mereka punya garis merah, jangan coba-coba masuk tol. Katanya kalau itu sampai terjadi, bakal ada tindakan tegas. Buat Kang Juhi, itu mirip seorang bapak galak memarahi  anaknya, “Mainlah di halaman, asal jangan naik genteng!”

Kang Juhi berdiri di pinggir jalan, dekat gerobak gorengannya. Sambil meliat wajah-wajah para pengunjuk rasa. Apa yang bikin mereka rela kepanasan, dimaki sopir, bahkan dicurigai pedagang kaki lima macam saya? Jawabannya ada di enam tuntutan yang mereka bawa.

Pertama. Sandal Jepit. Outsourcing. Bagi mereka, itu luka. Kang Juhi mengerti rasanya, karena hidupnya juga seperti sandal jepit. Dipakai kalau perlu, ditendang kalau sudah usang. Outsourcing itu cinta semalam ala korporasi. Besoknya sudah ganti pasangan. Buruh teriak, “Hapus outsourcing!” Dan Kang Juhi ikut manggut. Karena siapa sih yang mau terus jadi sandal, diinjak tapi tak pernah dianggap? Kedua. Dompet Kurus. Upah murah. Dompet buruh tipis, lebih tipis dari kulit tahu goreng isi Kang Juhi, yang terlalu kering. Mereka kerja, tapi gajinya kalah sama cicilan motor pejabat. Hidup macam apa itu? Orang bilang cinta butuh pengorbanan. Betul. Tapi kalau pengorbanannya bikin anak tidak bisa jajan, itu bukan cinta. Itu pemerasan. Ketiga. Puisi Cabai. Kenaikan upah minimum. Angka 8,5–10,5 persen di kertas kelihatan keren. Tapi buat mereka, itu cuma puisi cabai. Harga cabai naik-turun seperti mood mantan pacar. Mereka cuma ingin bisa makan sambel tanpa harus berhutang sama warung. Apa susahnya sih, bikin upah yang bisa membuat orang merasa jadi manusia? Bab Keempat. Undangan Tanpa Nama. PP 35/2021. Aturan outsourcing. Kata buruh, itu seperti diundang pesta tapi nama kita tidak tercetak di kartu. Kita boleh masuk, tapi cuma duduk di kursi plastik dekat pintu. Kita bekerja buat perusahaan, tapi dianggap tamu tak resmi. Rasanya pedih. Kang Juhi jadi ingat, sering juga orang beli gorengan di gerobaknya, tapi tidak pernah mau memanggil namanya. Hanya, “Bang, berapa?” lalu pergi. Kelima. Superhero yang Ditunggu. PHK itu badai. Kang Juhi sering melihat tetangga kontrakannya tiba-tiba menganggur, pulang kampung, hilang ditelan waktu.

Nah, buruh minta ada Satgas. Superhero. Entah seperti Superman, Batman, atau Wiro Sableng, mereka tidak peduli. Yang penting ada yang bisa menolong saat perusahaan gampang banget bilang, “Anda kami PHK.” Karena kehilangan pekerjaan itu bukan cuma kehilangan duit. Tapi kehilangan martabat.

Keenam. Kopi Sachet Rasa Kopi. Pajak. PTKP Rp4,5 juta di Jakarta? Itu buat bayar kontrakan setengah kamar, di mana ranjangnya harus berbagi dengan koper. Sisanya? Hidup dengan kopi sachet rasa kopi. Buruh minta dinaikan ke Rp7,5 juta. Wajar, kan? Masa orang kaya bisa leha-leha di kursi empuk, sementara orang miskin hanya mengitung receh untuk membeli gorengan bakwan. Buat lauk. Buat makan.

Enam bab itu ditulis di jalanan. Bukan dengan tinta emas, tapi dengan spidol murahan di atas kardus. Suaranya serak, keringatnya asin, tapi kisahnya dalam. Kang Juhi melihat mereka seperti melihat dirinya sendiri.

Jakarta mungkin mendengar setengah hati. Senayan pura-pura budeg. Tapi buruh terus menulis. Dan Kang Juhi percaya, cerita ini bukan hanya milik mereka. Kita semua, pernah merasa jadi sandal jepit, dompet kurus, puisi cabai, undangan tanpa nama, korban badai, atau penikmat kopi sachet rasa kopi.

*

Said Iqbal, bos besar buruh itu, menambahkan tuntutan lagi. Hapus pajak pesangon, THR, JHT, dan stop diskriminasi pajak perempuan menikah. Katanya, terlalu banyak ketidakadilan. Kang Juhi manggut-manggut sambil nyengir pahit. Bener juga. Hidup buruh memang seperti sinetron panjang. Episodenya banyak, tapi adegannya nyesek terus.

Dan ternyata bukan cuma Jakarta. Dari Bandung sampai Jayapura, dari Lampung sampai Ternate, buruh berdiri di jalan, dengan naskah sama. Menagih janji. Indonesia jadi panggung besar. Dan mereka, para buruh, adalah pemain yang paling jujur.

Romantisme pun ada di sana. Di tengah terik, mereka berbagi air mineral. Di bawah bendera serikat, mereka berbagi harapan. Kang Juhi melihat itu, dan berpikir. Romantis juga, ya. Jalanan ini terkadang lebih tulus daripada cinta di medsos.

Tapi di balik semua, ada nada melankolis. Tuntutan ini bukan baru. Setiap tahun, buruh minta hal sama. Upah layak, kerja aman, perlakuan manusiawi. Lagu lama, tapi pemerintah seakan suka pura-pura tuli.

Akhirnya Jakarta jadi panggung sarkasme. Macet bukan karena pesta rakyat, tapi karena rakyat menuntut haknya. Polisi berjaga dengan wajah tegang, pengendara ngamuk, dan buruh berteriak.

Kang Juhi berdiri di sana, gorengannya mulai dingin. Tapi hatinya panas. Ia sadar, bangsa ini berdiri bukan di atas gedung-gedung tinggi, tapi di atas keringat mereka yang setiap hari berangkat subuh, pulang malam. Dan tetap miskin.

Kalau tuntutan sederhana saja dianggap ribut, mungkin benar parodi buruh itu.

 “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, asal tidak ada outsourcing.”

*

Jakarta, 28 Agustus 2025.

Senin, 18 Agustus 2025

Filsafat Tahu Goreng Isi

 


Pengantar

 

Kang Juhi, pedagang gorengan. Tinggal seorang diri, di sebuah kamar kontrakan, di pinggiran Jakarta. Namun ia bisa berada di mana saja, dan bertemu dengan siapa saja. Karena ia hanya semacam simbol yang mewakili suatu kelompok masyarakat marjinal, yang alam bawah sadarnya terkadang mengejawantah ke berbagai dimensi kehidupan. Kang Juhi mengamati lalu batinnya mengkritisi berbagai aspek kehidupan yang sering kali menyimpang menurut penalaran akal sehat Kang Juhi. Apakah penalaran batinnya bisa dipertanggungjawabkan? Perlu diskusi lebih lanjut. Karena ia hanya penjual gorengan, yang tak menarik perhatian. Dibutuhkan tatkala tak ada pilihan.

Namanya juga dongeng.

*

Filsafat Tahu Goreng Isi

Oleh: Yoss Prabu

 

Tahu isi goreng sedang merenung di dalam wajan Kang Juhi. Suara “cesss......” minyak panas seperti orkestra kemerdekaan yang tak pernah selesai. Kang Juhi menatapnya lama-lama, lalu tertawa kecil, “Lucu ya, kamu disebut “tahu isi”. Padahal banyak orang yang hidupnya ‘tahu kosong’.”

Tahu isi menjawab, dengan suara lirih namun penuh wibawa, “Itulah paradoks keberadaanku, Kang. Aku ini tahu yang tidak polos. Aku punya isi. Kadang sayur toge, kadang wortel, kadang kubis. Tapi manusia sering mengabaikan isi itu, lebih sibuk pada kulitku yang renyah. Padahal, bukankah kehidupan juga begitu? Orang menilai dari kulit, bukan dari isi.”

Kang Juhi tercenung. “Jadi maksudmu, merdeka itu harus dari dalam, bukan sekadar kulit luar?”

“Betul,” jawab tahu isi. “Bangsa ini boleh saja punya gedung tinggi, jalan tol, bahkan kereta cepat. Tapi kalau dalamnya penuh korupsi dan kebohongan, semua itu cuma seperti aku, tanpa isi. Kosong tapi dipaksakan. Merdeka sejati ada ketika dalamnya sehat, bukan hanya luarnya kriuk.”

Kang Juhi menyeringai sarkastis. “Luar kriuk, dalam kosong. Itu kayak politisi yang kampanye pakai janji manis, tapi begitu dimakan… anyep.”

Tahu isi menghela napas, asap panas naik ke udara. “Kadang aku iri pada tempe goreng. Dia jujur. Isinya tempe, ya sudah begitu. Aku? Harus menyembunyikan isi di balik kulit. Tapi di situlah letak eksistensiku. Aku mengajarkan manusia bahwa kejujuran isi lebih penting daripada keindahan kulit. Hanya saja, manusia sering tak belajar.”

Kang Juhi mendadak melankolis. Ia merasa seolah sedang menatap dirinya sendiri. Hidupnya sederhana, luarnya kusam, tapi dalamnya penuh tanya, kritik, dan harapan.

“Jadi aku ini sebenarnya mirip kamu, Tahu. Orang hanya lihat kulitku – penjual gorengan tak berpendidikan – tapi mereka tak pernah tahu isi kepalaku.”

“Ah, Kang,” suara tahu isi tiba-tiba lembut, seperti seorang sahabat, bahkan hampir romantis. “Justru itulah keindahanmu. Kau mungkin sederhana, tapi hatimu penuh isi. Kau tahu menertawakan nasib, bahkan saat perut lapar. Kau tahu menyindir dunia, meski tak ada yang dengar. Itu pun bentuk kemerdekaan.”

Kang Juhi mengangguk. “Kemerdekaan bukan cuma soal bangsa, ya. Tapi juga soal batin. Bisa tertawa meski hidup getir, itu juga merdeka. Bisa mencintai meski miskin, itu pun merdeka. Meski cintaku gosong karena tak ada yang membalas, setidaknya aku tetap bisa jatuh cinta.”

Tahu isi terdiam sejenak, lalu berkata filosofis, “Setiap gorengan punya takdir. Tempe jadi simbol kesederhanaan. Kerupuk jadi lambang kesia-siaan yang meriah. Bakwan jadi saksi gosongnya sejarah. Dan aku, tahu isi, menjadi pengingat bahwa manusia harus berisi. Kalau tidak, kau hanya jadi kulit kosong yang garing sebentar lalu dilupakan.”

Kang Juhi menatap lembut dengan mata berbinar. “Dasar, gorengan pun bisa jadi guru bangsa!”

Di luar kontrakan, kembang api mulai meletup, tanda malam kemerdekaan dirayakan. Anak-anak berteriak riang, bendera berkibar meski sobek di ujungnya.

Kang Juhi mengangkat sepotong tahu isi, menatapnya seolah menatap nasib bangsa.

“Semoga negeri ini seperti kamu, Tahu. Renyah di luar, tapi penuh isi di dalam. Semoga rakyat tak lagi sekadar jadi kulit gorengan yang habis sekali kunyah, tapi jadi isi yang menguatkan tubuh. Dan semoga para pemimpin sadar, jadi pemimpin itu jangan cuma kriuk di luar, tapi juga punya isi yang nyata.”

Ia menggigit tahu isi itu. Panas, pedas dari cabai, tapi hangat di perut.

“Terima kasih, Tahu,” bisiknya. “Kau telah memberiku kuliah filsafat yang lebih jujur daripada profesor mana pun.”

Dan di malam tujuh belas Agustus itu, Kang Juhi merasa ia tak sekadar makan gorengan. Ia sedang makan kemerdekaan. Renyah, pedas, pahit, tapi penuh isi.

*

Jakarta, 16 Agustus 2025.

Romantika Bakwan Gosong dan Eksistensi Cireng Goreng

 

Hanya ilustrasi (Gambar: AI). 

Pengantar

 

Kang Juhi, pedagang gorengan. Tinggal seorang diri, di sebuah kamar kontrakan, di pinggiran Jakarta. Namun ia bisa berada di mana saja, dan bertemu dengan siapa saja. Karena ia hanya semacam simbol yang mewakili suatu kelompok masyarakat marjinal, yang alam bawah sadarnya terkadang mengejawantah ke berbagai dimensi kehidupan. Kang Juhi mengamati lalu batinnya mengkritisi berbagai aspek kehidupan yang sering kali menyimpang menurut penalaran akal sehat Kang Juhi. Apakah penalaran batinnya bisa dipertanggungjawabkan? Perlu diskusi lebih lanjut. Karena ia hanya penjual gorengan, yang tak menarik perhatian. Dibutuhkan tatkala tak ada pilihan.

Namanya juga dongeng.

*

Romantika Bakwan Gosong dan Eksistensi Cireng Goreng

Oleh: Yoss prabu

 

Kang Juhi duduk di depan kontrakan, menatap sepotong bakwan gosong di tangannya. Malam itu bulan setengah, persis seperti hatinya. Setengah kenyang, setengah kosong.

Bakwan gosong tiba-tiba bersuara, dengan nada patah hati, “Kau tahu, Kang. Aku ini korban cinta yang berlebihan. Kau ingin aku matang, tapi terlalu lama kau tinggalkan, jadilah aku gosong. Bukankah begitu juga kisah asmara manusia? Terlalu lama menunggu kepastian, akhirnya hangus di ujung waktu.”

Kang Juhi terkekeh getir. “Jadi kamu ini puisi patah hati, Wan? Jangan lebay ah, toh nanti ada juga yang makan kamu meski gosong.”

Bakwan menatapnya dengan mata imajiner. “Itulah romantikaku, Kang. Aku tetap dicintai meski buruk rupa. Bukankah itu cinta sejati? Bukan pada kulit yang mulus, tapi pada isi. Pada rasa yang masih bisa ditelan, meski getir.”

Kang Juhi diam sejenak, lalu senyum melankolis. “Kalau begitu, aku ini mirip kamu. Hidupku gosong, penuh gagal, tapi siapa tahu masih ada yang bisa mencintaiku.”

Tiba-tiba, dari piring plastik di sampingnya, cireng goreng ikut nimbrung. Suaranya tegas, penuh eksistensi ala filsuf jalanan. “Halaaaaa....h, kalian berdua terlalu sentimentil. Aku ini cireng – sagu digoreng. Dari luar keras, dalamnya kosong. Dan justru itulah kejujuran eksistensialku. Aku tidak pura-pura punya isi. Aku jujur, aku hanyalah kehampaan yang dibungkus kriuk.”

Bakwan gosong mendelik. “Kau bangga dengan kekosonganmu? Apa itu bukan tanda kesia-siaan?”

Cireng tertawa sinis. “Sia-sia bagimu, mungkin. Tapi aku disukai banyak orang. Karena manusia, Kang, suka mengunyah kehampaan. Lihat saja politik, janji kosong paling laku. Lihatlah asmara, rayuan gombal lebih cepat bikin jatuh cinta ketimbang kejujuran yang getir. Aku adalah wajah bangsa ini. Kosong namun digemari.”

Kang Juhi hampir tersedak oleh kebijaksanaan absurd itu. “Astaga, gorengan pun bisa jadi dosen filsafat! Tapi, Cireng. Bukankah hidup yang kosong itu menyedihkan?”

Cireng mendengus. “Tidak, Kang. Justru dari kekosongan itu, lahirlah kemungkinan. Kosong itu ruang untuk diisi, kalau mau. Kau, misalnya. Merasa kosong tiap malam. Tapi bukankah dari situ lahir semua renunganmu, semua tawa getir yang kau bagikan? Jangan takut kosong. Kosong itu awal dari segalanya.”

Bakwan gosong mendengus sinis. “Aku tetap lebih mulia. Aku hangus karena api cinta. Sedangkan kau, Cireng, hanya hampa yang dimuliakan orang bodoh.”

Cireng balas tertawa. “Lebih baik kosong daripada gosong! Setidaknya aku tak bikin lidah pahit.”

Kang Juhi terbahak. “Wah, kalian berdua ini seperti politisi dan seniman. Satunya gosong karena idealisme, satunya kosong tapi populer. Dua-duanya tetap laku di pasar.”

Lalu, tiba-tiba suasana jadi romantis. Angin malam masuk lewat celah kontrakan. Bendera lusuh di depan rumah berkibar pelan. Kang Juhi menatap bakwan gosong dan cireng dengan mata penuh kasih.

“Kalian tahu? Kalian ini ibarat dua wajah cinta. Ada cinta yang gosong – hangus tapi tulus. Ada cinta yang kosong – hampa tapi membahagiakan sebentar. Hidup butuh keduanya. Kadang kita rela terbakar demi seseorang. Kadang kita bahagia hanya dengan janji kosong yang renyah di telinga.”

Bakwan meneteskan minyak gosong, seolah air mata. Cireng tetap keras di luar, tapi diam-diam rapuh di dalam.

Di luar, anak-anak berlarian membawa obor kecil, menyanyi lagu kemerdekaan dengan nada fals. Suara mereka mengalun ke dalam kontrakan, mencampur wangi minyak goreng.

Kang Juhi mengangkat bakwan gosong di tangan kanan, cireng di tangan kiri. “Inilah Indonesia,” katanya puitis. “Negeri gosong tapi tetap dicintai, negeri kosong tapi tetap digemari. Antara pahit dan hampa, kita tetap menelan semuanya. Karena cinta pada tanah air memang begitu. Bukan soal enak atau tidak enak, tapi soal berani menelan sampai habis.”

Lalu ia menggigit bakwan gosong – pahit tapi hangat. Ia lanjut menggigit cireng – hampa tapi renyah. Dan ia tertawa di tengah kontrakan sepi.

“Terima kasih, gorengan,” bisiknya. “Kalian selalu mengajarkan filsafat tanpa kampus, romantika tanpa puisi, dan kemerdekaan tanpa pidato.”

*

Jakarta, 17 Agustus 2025.

Minggu, 17 Agustus 2025

Kang Juhi dan Kemerdekaan yang Gosong di Wajan

 


Pengantar 

Kang Juhi, pedagang gorengan. Tinggal seorang diri, di sebuah kamar kontrakan, di pinggiran Jakarta. Namun ia bisa berada di mana saja, dan bertemu dengan siapa saja. Karena ia hanya semacam simbol yang mewakili suatu kelompok masyarakat marjinal, yang alam bawah sadarnya terkadang mengejawantah ke berbagai dimensi kehidupan. Kang Juhi mengamati lalu batinnya mengkritisi berbagai aspek kehidupan yang sering kali menyimpang menurut penalaran akal sehat Kang Juhi. Apakah penalaran batinnya bisa dipertanggungjawabkan? Perlu diskusi lebih lanjut. Karena ia hanya penjual gorengan, yang tak menarik perhatian. Dibutuhkan tatkala tak ada pilihan.

Namanya juga dongeng.

*

 

Kang Juhi dan Kemerdekaan yang Gosong di Wajan

Oleh: Yoss Prabu

 

Kang Juhi sedang menatap wajan penuh minyak yang mendidih, sambil menimbang apakah tempe goreng itu sudah kuning keemasan atau sekadar kuning ketipu lampu bohlam 10 watt, yang menggantung murung di gerobak kesayangannnya. Hidup, pikirnya, mirip gorengan. Kadang kriuk di luar, tapi dalamnya masih setengah matang. Kadang hangus di luar, dan dalamnya kosong.

“Begitulah bangsa ini,” gumamnya sambil meniup asap rokok murahan. “Meriah di upacara, tapi belepotan di keseharian. Merdeka katanya, tapi cicilan tetap mencekik leher.”

Kontrakan Kang Juhi terletak di pinggiran Jakarta, tapi pikirannya bisa ke mana-mana. Ke Monas yang sombong menjulang, ke desa-desa yang listriknya sering putus. Bahkan ke langit, ke tempat para pahlawan, yang barangkali sedang nonton kita dengan tawa getir.

Ia ingat masa kecilnya. Setiap 17 Agustus, ia lomba makan kerupuk. Dulu, kerupuk itu putih, renyah, murah. Kini, kerupuk sudah jadi cemilan nostalgia, sementara orang-orang lebih sibuk lomba siapa paling cepat bayar tagihan listrik lewat aplikasi. “Dulu merdeka berarti bebas dari penjajah,” pikir Kang Juhi, “sekarang merdeka berarti punya kuota internet.”

Tapi Kang Juhi bukan hanya sarkastis. Ada juga keromantisan yang aneh menyelinap di dadanya. Pernah suatu sore, ia bertemu seorang perempuan yang membeli tahu isi di gerobaknya. Senyumnya seperti bendera yang berkibar pelan di tiang bambu, sederhana tapi membuat dada berdegup. Kang Juhi sempat berpikir, “Ah, seandainya cinta bisa digoreng, barangkali ia akan menyajikan sepiring ‘cinta crispy’. Renyah di luar, hangat di dalam, disantap sambil nyanyi “Indonesia Raya.” Tapi tentu saja, cinta tak bisa digoreng. Karena cinta, seperti kemerdekaan. Harus diperjuangkan.

Di malam kemerdekaan, Kang Juhi suka berkhayal. Ia membayangkan para pahlawan datang ke kontrakannya, duduk bersila di lantai keramik retak, sambil makan tahu isi. Jenderal Sudirman mungkin akan bilang, “Juhi, gorenganmu terlalu asin.” Bung Karno mungkin nyeletuk, “Ini baru revolusi perut!” Dan Bung Hatta, dengan wajah seriusnya, akan menghitung berapa biaya produksi satu tempe goreng, lalu mengusulkan koperasi gorengan rakyat.

Namun setelah tertawa sendiri, Kang Juhi tiba-tiba melankolis. Ia merasa hanya jadi simbol kecil, nyaris tak diperhatikan, kecuali ketika orang lapar dan uang pas-pasan. “Aku ini semacam bangsa ini juga,” batinnya. “Dianggap penting cuma ketika keadaan darurat. Kalau perut penuh, orang lupa pada gorengan. Kalau ekonomi naik, orang lupakan pedagang kaki lima. Kalau politik stabil, rakyat kecil hanya jadi latar.”

Tapi mungkin, justru di situlah filosofi kemerdekaan. Tak selalu berada di podium megah, melainkan juga di tangan yang belepotan minyak goreng, di mulut yang tetap bisa tertawa meski gigi ompong, di hati yang masih bisa jatuh cinta meski hidup penuh utang.

Kang Juhi sering bertanya pada dirinya sendiri, “Apakah kemerdekaan itu sesuatu yang nyata, atau sekadar slogan di spanduk kelurahan? Apakah merdeka berarti bebas memilih presiden, atau bebas memilih gorengan tanpa khawatir uang kurang seribu?”

Ia lalu menatap minyak yang mulai hitam, bekas puluhan kali menggoreng. “Inilah negeri kita,” katanya lirih. “Wajannya sama, minyaknya itu-itu juga, tapi isi gorengannya berubah-ubah. Kadang tempe, kadang tahu isi, kadang risoles, kadang pisang. Yang makan pun tetap saja lapar setelahnya.”

Dan malam itu, sambil mendengar anak-anak tetangga latihan paduan suara menyanyikan “Hari Merdeka” dengan suara fals tapi semangat, Kang Juhi merasa entah lucu entah sedih. Ia mengangkat sepotong bakwan gosong, menatapnya seolah itu matahari kecil yang berjuang terbit.

“Selamat ulang tahun, negeri,” ucapnya. “Semoga kau tidak cuma jadi gorengan yang habis sekali kunyah. Semoga kau bisa jadi kenyang yang abadi.”

Lalu ia menggigit bakwan gosong itu. Rasanya pahit, tapi tetap ia telan. Karena begitulah cintanya pada tanah air, getir, hangat, dan selalu ia makan habis-habisan.

*

Jakarta, 16 Agustus 2025.

Sabtu, 16 Agustus 2025

Dongeng Kemerdekaan Kang Juhi dan Para Gorengan Ajaib

 


Pengantar

 

Kang Juhi, pedagang gorengan. Tinggal seorang diri, di sebuah kamar kontrakan, di pinggiran Jakarta. Namun ia bisa berada di mana saja, dan bertemu dengan siapa saja. Karena ia hanya semacam simbol yang mewakili suatu kelompok masyarakat marjinal, yang alam bawah sadarnya terkadang mengejawantah ke berbagai dimensi kehidupan. Kang Juhi mengamati lalu batinnya mengkritisi berbagai aspek kehidupan yang sering kali menyimpang menurut penalaran akal sehat Kang Juhi. Apakah penalaran batinnya bisa dipertanggungjawabkan? Perlu diskusi lebih lanjut. Karena ia hanya penjual gorengan, yang tak menarik perhatian. Dibutuhkan tatkala tak ada pilihan.

Namanya juga dongeng.

*

Dongeng Kemerdekaan Kang Juhi dan Para Gorengan Ajaib

Oleh; Yoss Prabu

 

Kang Juhi menatap wajannya yang bergolak. Malam tujuh belas Agustus, ia merasa ada sesuatu yang berbeda. Minyak goreng itu berkilau seperti bintang. Tiba-tiba, sepotong kerupuk putih melompat dari plastik.

“Aku bosan jadi cemilan lomba makan!” teriak kerupuk itu. “Dulu aku simbol perjuangan: susah digigit, susah dikunyah, tapi bikin orang tertawa. Sekarang? Aku cuma jadi konten TikTok!”

Kang Juhi menghela napas. “Kerupuk pun bisa krisis eksistensi,” gumamnya.

Tak lama, bendera merah putih di pojok kontrakan ikut bicara. Suaranya halus, tapi getir.

“Aku capek dikibarkan cuma setahun sekali. Setelah itu dilipat, dimasukkan plastik, baunya apek. Merdeka bukan sekadar berkibar di upacara, Juhi. Merdeka itu harus terasa di perutmu juga. Apa kau sudah makan layak hari ini?”

Kang Juhi terdiam. Ia ingin menjawab jujur, tapi tahu, perutnya sendiri sudah menjawab dengan bunyi “krucu, krucuk, krucuk”.

Lalu tiang bambu tempat bendera itu berdiri ikut bicara, agak romantis.

“Jangan salahkan aku, Juhi. Aku setia menopang bendera itu, walau aku sendiri sering dimakan rayap. Kau tahu? Kemerdekaan itu seperti cinta, harus kuat menahan angin, meski pelan-pelan lapuk di dalam.”

Kang Juhi nyengir pahit. “Aku malah iri sama kau, Tiang. Kau punya pasangan abadi, bendera. Aku? Hanya ditemani wajan gosong dan hutang kontrakan.”

Bakwan gosong di wajan pun protes. “Hei, jangan remehkan kami! Kami ini saksi sejarah. Dari zaman perjuangan, rakyat kecil bertahan hidup dengan gorengan. Kami ini simbol ketabahan. Kalau negara krisis, yang pertama dicari rakyat adalah kami!”

“Aku setuju,” kata gorengan tempe dengan nada filosofis. “Merdeka itu bukan hanya bebas dari penjajah asing, tapi juga bebas dari rasa lapar. Dan kami, gorengan ini, meski sering dihina sebagai makanan kelas bawah, justru yang paling demokratis. Semua bisa makan kami, pejabat atau kuli bangunan. Semua makan.”

Kang Juhi menepuk jidat. “Astaga, aku dikelilingi para filsuf gorengan!”

Tiba-tiba kerupuk yang tadi protes mulai menangis. “Tapi kenapa, Kang, meski kita gorengan selalu ada, nasib penjualnya tetap sengsara? Di mana letak merdeka itu kalau hidup sekadar numpang lewat di minyak panas?”

Suasana hening. Bahkan angin malam pun terasa melankolis.

Di luar kontrakan, anak-anak kampung sedang latihan paduan suara. Suaranya fals, tapi semangat. Mereka bernyanyi “Hari Merdeka” sambil tertawa-tawa, tak peduli liriknya belepotan.

Bendera tiba-tiba bicara lagi, kali ini lebih puitis.

“Lihatlah anak-anak itu, Juhi. Mereka belum tahu utang negara, belum tahu harga beras, tapi mereka bernyanyi seolah esok dunia akan baik-baik saja. Itulah kemerdekaan yang sesungguhnya. Masih bisa tertawa meski hidup belum tentu adil.”

Kang Juhi menatap bendera itu lama-lama, lalu bergumam lirih, “Mungkin benar. Merdeka bukan janji pemerintah, bukan slogan partai, tapi keberanian untuk tetap hidup. Meski perih.”

Bakwan gosong tiba-tiba tersenyum getir. “Merdeka itu seperti aku. Meski gosong, tetap ada yang mau memakan. Meski pahit, tetap bisa mengenyangkan.”

Kang Juhi tertawa kecil. “Dasar konyol! Tapi aku suka filsafatmu.”

Ia lalu mengambil bakwan gosong itu, mengangkatnya tinggi-tinggi seperti mengangkat matahari kecil.

“Selamat ulang tahun, tanah air,” katanya. “Meski kau sering gosong, meski asin tak seimbang, aku tetap cinta. Karena cintaku padamu tak bisa direbus, apalagi dihangatkan ulang. Ia cuma bisa digoreng sekali, langsung habis. Harus langsung habis.”

Lalu ia gigit bakwan itu. Rasanya pahit, renyah, getir, hangat. Semua campur jadi satu. Seperti Indonesia itu sendiri.

Dan malam itu, di kontrakan kecil, Kang Juhi merasa dirinya bukan hanya pedagang gorengan. Ia merasa bagian dari dongeng besar bernama kemerdekaan, yang kadang lucu, kadang menyedihkan, kadang romantis, kadang absurd. Tapi tetap layak ditelan, meski bikin seret di tenggorokan.

*

Jakarta, 16 Agustus 2025.

80 Tahun Indonesia Merdeka: Tua-tua Republik, Banyak Cerita

 

Hanya Ilustrasi. (Gambar: AI). 

Gerundelan Bang Yoss

 Ada romantika tersendiri di usia 80. Seperti pasangan lansia yang tetap bergandengan tangan walau berjalan pelan. Republik ini sudah tua, tapi daya pikatnya tak luntur. Ia tetap cantik di mata para pemudanya, tetap memesona meski dipoles dengan bedak pembangunan yang kadang terlalu tebal.

*

 80 Tahun Indonesia Merdeka: Tua-tua Republik, Banyak Cerita

Oleh: Yoss Prabu

 

Tahun ini, Republik Indonesia genap berusia 80 tahun. Angka bulat yang tidak bisa disepelekan. Delapan dekade bukan cuma urusan usia, itu adalah pertanda ketahanan. Bahwa negeri ini – meski sering oleng seperti warung kopi di pinggir rel kereta – masih berdiri tegak, entah karena semangat rakyatnya, atau karena sudah terlalu lelah untuk jatuh.

Angka 80 itu sendiri unik. Bukan angka muda yang penuh gejolak hormon, tapi juga belum terlalu renta untuk tidur jam enam sore. Delapan puluh adalah masa ketika seseorang – atau suatu bangsa – sudah cukup tua untuk disebut bijak, tapi tetap cukup waras untuk menyadari bahwa ia masih bisa belajar dari kesalahan.

Dalam hidup manusia, umur 80 adalah usia pensiun plus dua dekade bonus. Tapi dalam hidup sebuah bangsa? Ini semacam masa kontemplasi. Saatnya bertanya, sudah sejauh mana kita merdeka?

Merdeka. Dari apa?

Pertanyaan ini sering muncul tiap Agustus. Merdeka dari penjajahan? Sudah. Merdeka dari kemiskinan? Belum. Merdeka dari janji kampanye? Jelas belum. Merdeka dari grup WhatsApp keluarga yang isinya link hoaks dan video politik tidak bermutu? Kita semua masih berjuang.

Delapan puluh tahun merdeka, tapi rakyatnya masih disuruh sabar. Katanya, pembangunan butuh waktu. Masalahnya, waktu siapa? Kalau waktu pejabat, mungkin dua tahun cukup untuk pindah ibukota. Tapi kalau waktu rakyat, kadang dua generasi pun belum cukup untuk dapat air bersih.

Di usia 80 ini, kita mungkin sudah mulai mempraktikkan bentuk cinta tertinggi, sarkasme. Karena hanya bangsa yang mencintai negaranya dengan serius yang bisa tertawa getir sambil membayar pajak tinggi dan tetap antre beras subsidi.

Satu sisi kita cinta negeri ini dengan segala drama sinetronnya. Di sisi lain, kita juga tak tahan melihat korupsi berjamaah, proyek mangkrak, dan pidato kosong yang diulang-ulang tiap perayaan. Tapi toh kita tetap berdiri saat Indonesia Raya dikumandangkan, dengan dada penuh haru, dan kepala penuh tagihan.

Cinta pada tanah air memang mirip dengan pernikahan tua. Sudah tahu pasangan kita keras kepala, boros, dan kadang menyebalkan, tapi tetap saja kita setia. Mengeluh, ya. Tapi meninggalkan? Tidak.

Ada romantika tersendiri di usia 80. Seperti pasangan lansia yang tetap bergandengan tangan walau berjalan pelan. Republik ini sudah tua, tapi daya pikatnya tak luntur. Ia tetap cantik di mata para pemudanya, tetap memesona meski dipoles dengan bedak pembangunan yang kadang terlalu tebal.

Angka 80 – dalam bentuknya yang bulat – mengingatkan kita pada onde-onde. Camilan rakyat kecil, sederhana tapi mengenyangkan. Isinya kacang hijau, luarnya biji wijen. Dalamnya manis, luarnya penuh tekstur. Sama seperti Republik ini, manis dalam cita-cita, tapi bertekstur dalam pelaksanaan.

Usia 80 adalah tentang merenung. Bahwa kemerdekaan bukan hanya soal mengibarkan bendera, tapi tentang apakah setiap orang punya alasan untuk tersenyum saat menyanyikan lagu kebangsaan.

Tak perlu pidato berapi-api. Cukup dengarkan suara nenekmu yang bercerita tentang masa kecilnya mengibar bendera dari sobekan kain. Dengarkan tawa anak-anak yang berlarian di lomba makan kerupuk. Dengarkan sunyi petani yang tetap menanam, walau harga panen tak pasti.

Karena di usia 80 ini, kita tak lagi butuh janji basi, kita butuh janji yang ditepati. Tak lagi perlu simbol, tapi substansi. Bukan hanya merdeka dalam spanduk, tapi juga merdeka di meja makan dan lembar rapor anak-anak desa.

Indonesia kini 80. Usia yang tak muda, tapi juga belum terlalu uzur untuk berhenti bermimpi. Seperti orang tua yang masih gemar bercerita, negeri ini masih ingin didengar.

 

Selamat ulang tahun, Republik.

Kami mencintaimu, dengan seluruh ketidaksempurnaanmu.

 

Dan seperti cinta sejati, kami tetap tinggal,

meski kadang kecewa.

 

Merdeka.

*

Jakarta. 10 Agustus 2025.

Reshuffle: Operasi Plastik Kabinet yang Gagal

  Hanya ilistrasi. (Gambar: AI).  Kalau reshuffle hanya sekadar memindahkan kursi tanpa mengubah watak, ya sama aja seperti ganti sprei di k...