Pengantar
Kang Juhi, pedagang gorengan. Tinggal seorang diri, di sebuah
kamar kontrakan, di pinggiran Jakarta. Namun ia bisa berada di mana saja, dan
bertemu dengan siapa saja. Karena ia hanya semacam simbol yang mewakili suatu
kelompok masyarakat marjinal, yang alam bawah sadarnya terkadang mengejawantah
ke berbagai dimensi kehidupan. Kang Juhi mengamati lalu batinnya mengkritisi
berbagai aspek kehidupan yang sering kali menyimpang menurut penalaran akal
sehat Kang Juhi. Apakah penalaran batinnya bisa dipertanggungjawabkan? Perlu
diskusi lebih lanjut. Karena ia hanya penjual gorengan, yang tak menarik
perhatian. Dibutuhkan tatkala tak ada pilihan.
Namanya juga dongeng.
*
Ketika Jalanan Menulis Gorengan Pun Ikut Bicara
Oleh:
Yoss Prabu
Namanya
Juhi. Tapi orang-orang menyapa dengan Kang Juhi. Penjual gorengan. Kontrakan cuma
sepetak, di pinggir Jakarta, dekat got yang apabila hujan turn suka berubah
jadi kali. Sungai. Saya hidup sendirian, anak istri di kampung. Di kontrakan
ini Kang Juhi ditemani dengung kipas angin dan suara tikus yang kadang lebih
berisik daripada televisi. Tapi jangan salah, walau badan di sini, pikiran Kang
Juhi bisa nyelonong ke mana-mana.
Kang
Juhi ini bukan siapa-siapa. Orang cuma mencarin kalau sedang lapar mendadak dan
tidak ada pilihan lain selain gorengan tahu isi yang sudah agak dingin. Tapi
justru dari tempat remeh seperti beginilah ia bisa melihat wajah asli kehidupan,
wajah yang sering disembunyikan kamera televisi, tapi muncul jelas di jalanan.
Dan hari
ini, jalanan itu bukan lagi milik klakson angkot atau ojol yang tancap gas
sembarangan. Hari ini panggungnya buruh.
Opera
Buruh di Gatot Subroto. Kang Juhi, hanya kebetulan lewat.
Jakarta lagi-lagi berdandan. Bukan buat konser
Coldplay atau resepsi artis yang disiarkan infotainment, tapi buat demo buruh.
Kang Juhi melihat ribuan orang keluar dari bus, truk, motor, bahkan ada yang berjalan
kaki. Mereka datang dari Bekasi, Karawang, Depok, Bogor, Tangerang. Dari segala
arah, seperti pasukan semut yang rela berjalan jauh demi sebutir kecil gula.
Keadilan.
Temanya sederhana, tapi dalam. “Hapus
Outsourcing – daripada mengerjakan semuanya sendiri, perusahaan “menyewa” pihak
luar yang lebih ahli atau lebih murah untuk menangani tugas tertentu – Tolak
Upah Murah.” Disingkat jadi HOSTUM. Lucunya, terdengar seperti nama band indie
yang main di kafe pinggir jalan. Tapi jangan salah, HOSTUM ini bukan buat
nyanyi-nyanyi, ini untuk meneriakkan kehidupan.
Polisi
sudah siap dengan rombongan motor besar, rompi, dan wajah datar. Katanya lalu
lintas bakal direkayasa situasional. Situasional itu artinya kalau massa gede,
jalan ditutup. Kalau kecil, dibiarkan. Persis seperti percintaan di kota ini. Kalau
terlalu ramai, jalan lain. Kalau sepi, ya monggo lewat. Kang Juhi jadi berpikir,
jangan-jangan polisi itu diam-diam juga filsuf.
Tapi
mereka punya garis merah, jangan coba-coba masuk tol. Katanya kalau itu sampai
terjadi, bakal ada tindakan tegas. Buat Kang Juhi, itu mirip seorang bapak
galak memarahi anaknya, “Mainlah di
halaman, asal jangan naik genteng!”
Kang
Juhi berdiri di pinggir jalan, dekat gerobak gorengannya. Sambil meliat
wajah-wajah para pengunjuk rasa. Apa yang bikin mereka rela kepanasan, dimaki
sopir, bahkan dicurigai pedagang kaki lima macam saya? Jawabannya ada di enam
tuntutan yang mereka bawa.
Pertama.
Sandal Jepit. Outsourcing. Bagi mereka, itu luka. Kang Juhi mengerti rasanya,
karena hidupnya juga seperti sandal jepit. Dipakai kalau perlu, ditendang kalau
sudah usang. Outsourcing itu cinta semalam ala korporasi. Besoknya sudah ganti
pasangan. Buruh teriak, “Hapus outsourcing!” Dan Kang Juhi ikut manggut. Karena
siapa sih yang mau terus jadi sandal, diinjak tapi tak pernah dianggap? Kedua.
Dompet Kurus. Upah murah. Dompet buruh tipis, lebih tipis dari kulit tahu goreng
isi Kang Juhi, yang terlalu kering. Mereka kerja, tapi gajinya kalah sama
cicilan motor pejabat. Hidup macam apa itu? Orang bilang cinta butuh
pengorbanan. Betul. Tapi kalau pengorbanannya bikin anak tidak bisa jajan, itu
bukan cinta. Itu pemerasan. Ketiga. Puisi Cabai. Kenaikan upah minimum. Angka
8,5–10,5 persen di kertas kelihatan keren. Tapi buat mereka, itu cuma puisi
cabai. Harga cabai naik-turun seperti mood
mantan pacar. Mereka cuma ingin bisa makan sambel tanpa harus berhutang sama
warung. Apa susahnya sih, bikin upah yang bisa membuat orang merasa jadi manusia?
Bab Keempat. Undangan Tanpa Nama. PP 35/2021. Aturan outsourcing. Kata buruh,
itu seperti diundang pesta tapi nama kita tidak tercetak di kartu. Kita boleh
masuk, tapi cuma duduk di kursi plastik dekat pintu. Kita bekerja buat
perusahaan, tapi dianggap tamu tak resmi. Rasanya pedih. Kang Juhi jadi ingat,
sering juga orang beli gorengan di gerobaknya, tapi tidak pernah mau memanggil
namanya. Hanya, “Bang, berapa?” lalu pergi. Kelima. Superhero yang Ditunggu. PHK
itu badai. Kang Juhi sering melihat tetangga kontrakannya tiba-tiba menganggur,
pulang kampung, hilang ditelan waktu.
Nah, buruh
minta ada Satgas. Superhero. Entah seperti Superman, Batman, atau Wiro Sableng,
mereka tidak peduli. Yang penting ada yang bisa menolong saat perusahaan
gampang banget bilang, “Anda kami PHK.” Karena kehilangan pekerjaan itu bukan
cuma kehilangan duit. Tapi kehilangan martabat.
Keenam.
Kopi Sachet Rasa Kopi. Pajak. PTKP Rp4,5 juta di Jakarta? Itu buat bayar kontrakan
setengah kamar, di mana ranjangnya harus berbagi dengan koper. Sisanya? Hidup
dengan kopi sachet rasa kopi. Buruh minta dinaikan ke Rp7,5 juta. Wajar, kan?
Masa orang kaya bisa leha-leha di kursi empuk, sementara orang miskin hanya mengitung
receh untuk membeli gorengan bakwan. Buat lauk. Buat makan.
Enam bab
itu ditulis di jalanan. Bukan dengan tinta emas, tapi dengan spidol murahan di
atas kardus. Suaranya serak, keringatnya asin, tapi kisahnya dalam. Kang Juhi melihat
mereka seperti melihat dirinya sendiri.
Jakarta
mungkin mendengar setengah hati. Senayan pura-pura budeg. Tapi buruh terus
menulis. Dan Kang Juhi percaya, cerita ini bukan hanya milik mereka. Kita
semua, pernah merasa jadi sandal jepit, dompet kurus, puisi cabai, undangan
tanpa nama, korban badai, atau penikmat kopi sachet rasa kopi.
*
Said
Iqbal, bos besar buruh itu, menambahkan tuntutan lagi. Hapus pajak pesangon,
THR, JHT, dan stop diskriminasi pajak perempuan menikah. Katanya, terlalu
banyak ketidakadilan. Kang Juhi manggut-manggut sambil nyengir pahit. Bener
juga. Hidup buruh memang seperti sinetron panjang. Episodenya banyak, tapi
adegannya nyesek terus.
Dan
ternyata bukan cuma Jakarta. Dari Bandung sampai Jayapura, dari Lampung sampai
Ternate, buruh berdiri di jalan, dengan naskah sama. Menagih janji. Indonesia
jadi panggung besar. Dan mereka, para buruh, adalah pemain yang paling jujur.
Romantisme
pun ada di sana. Di tengah terik, mereka berbagi air mineral. Di bawah bendera
serikat, mereka berbagi harapan. Kang Juhi melihat itu, dan berpikir. Romantis
juga, ya. Jalanan ini terkadang lebih tulus daripada cinta di medsos.
Tapi di
balik semua, ada nada melankolis. Tuntutan ini bukan baru. Setiap tahun, buruh
minta hal sama. Upah layak, kerja aman, perlakuan manusiawi. Lagu lama, tapi
pemerintah seakan suka pura-pura tuli.
Akhirnya
Jakarta jadi panggung sarkasme. Macet bukan karena pesta rakyat, tapi karena
rakyat menuntut haknya. Polisi berjaga dengan wajah tegang, pengendara ngamuk,
dan buruh berteriak.
Kang
Juhi berdiri di sana, gorengannya mulai dingin. Tapi hatinya panas. Ia sadar,
bangsa ini berdiri bukan di atas gedung-gedung tinggi, tapi di atas keringat
mereka yang setiap hari berangkat subuh, pulang malam. Dan tetap miskin.
Kalau
tuntutan sederhana saja dianggap ribut, mungkin benar parodi buruh itu.
“Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,
asal tidak ada outsourcing.”
*
Jakarta,
28 Agustus 2025.





